Ponorogo (beritajatim.com) – Kronologis penemuan mayat wanita Ponorogo yang membusuk di dalam rumahnya, awalnya bukanlah tetangga korban di perumahan Pasadena Kelurahan Tonatan Kecamatan Ponorogo Kota. Penemuan itu berawal dari, kunjungan dari Arini, guru dari anak korban semasa TK.
Arin sapaannya bergegas ke perumahan itu, tak kala dikabari lewat whatsapp oleh anak korban yang berinisial QLT, bahwa ibunya sudah dalam keadaan meninggal dunia.
“Jadi anak korban itu WA dengan menggunakan handphone ibunya, bahwa sang ibu sudah meninggal dunia,” ungkap Arin, Sabtu (23/12/2023).
Arin menceritakan dirinya sejak Jumat (22/12) subuh di whatsapp (WA) dengan nomor korban, bahwa inti pesan itu menginginkannya habis magrib ke rumah korban. Dia pun menjawab pertanyaan lewat WA itu dengan kata InsyaAllah. Lantas Arin pun menjadi penasaran, akhirnya sekitar pukul 10.00 WIB, dirinya ganti mengirim pesan, menanyakan ikhwal dirinya disuruh untuk ke rumah korban.
Balasan dari pertanyaan Arin lewat WA itu pun baru dibalas sekitar pukul 13.00 WIB. Dimana inti balasannya, menerangkan bahwa yang WA ini merupakan anak korban berinisial QLT. Anak korban yang berusia 10 tahun itu, memberitahu bahwa ibunya sudah menghadap Allah, meninggal dunia. Sontak Arin pun kaget, dan langsung menelepon nomor korban tersebut.
“Ketika saya telepon itu diangkat namun suaranya tidak jelas. Hanya bilang berkali-kali bahwa ibu meninggal,” katanya.
Arin pun langsung menghubungi suaminya, untuk mengantarkan dirinya ke rumah korban yang berinisial DWR itu, namun suaminya baru pulang dari kerja pukul 17.00 WIB. Pesan pun masuk ke handphone Arin. Sang anak WA lagi, untuk mempertanyakan dirinya jadi ke rumahnya atau tidak.
“Setelah mendapatkan pesan pertanyaan jadi atau tidak ke rumahnya itu. Saya tiba-tiba tergerak untuk langsung ke rumah korban tanpa menunggu diantar suami,” katanya.
Sesampainya di perumahan Pasadena, Arin pun menanyakan ke tetangga letak rumah korban DWR tersebut. Saat tiba di depan rumahnya, Ia mendapati bahwa rumah dalam keadaan pintu pagar tertutup. Bayangan Arin, rumah korban itu sudah banyak orang yang takziah karena dikabarkan sudah meninggal. Namun, Ia mendapati keadaan atau fakta yang lain, keadaan rumah yang sepi.
“Saya pun ketok-ketok pintu pagar sambil memanggil sang ibu itu. Yang keluar dari rumah anak korban itu. Saat itu juga tercium bau busuk dan banyak lalat yang lalu lalang di depan pintu rumah korban,” katanya.
Mendapati keadaan yang ganjil dan tak biasa itu, Arin pun meminta pertolongan tetangga sekitar. Dengan ditemani beberapa tetangga, sang anak membuka pintu dan tetangga melihat bahwa ibu DWR sudah dalam keadaan meninggal telentang di atas kursi.
“Anaknya mengatakan kepada saya ya itu, ibu meninggal dan dengan tatapan kosong dan bingung gitu,” Pungkas Arin.
Diberitakan sebelumnya, seorang perempuan paruh baya di Kabupaten Ponorogo ditemukan tewas membusuk di rumahnya di Perumahan Pasadena, masuk Kelurahan Tonatan Kecamatan Ponorogo Kota. Diperkirakan perempuan yang berinisial DWR ini, sudah meninggal dalam beberapa hari. Sebab, bau menyengat sudah menyeruak ke sekitar rumahnya.
Saat pertama kali ditemukan, mayat perempuan berusia 45 tahun itu dalam posisi terlentang di kursi. Bagian tubuh berada di kursi, sementara kepala hampir menyentuh lantai. Lantai di bawah mayat itu pun dipenuhi dengan darah yang sudah berwana merah kehitam-hitaman.
“Baru tadi pagi sebenarnya sudah ada bau-bau menyengat. Ya warga ngiranya itu bau bangkai tikus yang mati,” ungkap Wahyuddin, salah satu saksi yang rumahnya tidak jauh dari rumah korban.
Wahyuddin menceritakan bahwa korban tertutup dengan tetangganya. Korban bekerja sebagai pegawai negeri sipil di salah satu instansi di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo itu, sehari-hari di rumah bersama anak laki-lakinya yang masih berumur 10 tahun.
“Tadi anak korban memberitahu ibu gurunya, saat bau menyengat kemudian memanggil tetangga sekitar,” katanya. [end/beq]






