Bangkalan (beritajatim.com) – Dugaan pemotongan gaji guru honorer terjadi di SDN Tambegan, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan. Hal itu, memicu adanya sejumlah guru membuat petisi untuk memindahkan oknum tersebut.
Salah satu guru honorer SDN Tambegan mengatakan, dugaan pemotongan gaji itu mencapai 50 persen dari total gaji yang diterima guru honor.
“Terhitung Januari hingga November 2023, kami hanya menerima gaji Rp 450 ribu, padahal nilai transferan gaji adalah Rp 1,2 juta,” terangnya, Selasa (19/12/2023).
Ia beserta guru honorer lainnya semula menerima gaji sebanyak Rp 1,2 juta di rekening. Namun, gaji itu kemudian diambil secara tunai lalu disetorkan ke bendahara sekolah.
“Dari tanggal 1 setiap bulan bendahara itu sudah menginfokan untuk mengambil uang di rekening kami masing-masing namun nanti uang itu disetor lagi,” imbuhnya.
Setelah uang itu disetor, nantinya pembayaran gaji guru honorer akan diberikan tiap tanggal 20 ke atas setiap bulannya dengan jumlah sebesar Rp 450 ribu.
“Gajiannya itu baru tanggal 21 atau 22 setiap bulan dan kami hanya menerima Rp 450 ribum ke mana sisanya,” keluhnya.
Akibat kejadian itu 9 guru honorer lainnya membuat petisi yang ditandatangani semua guru honorer. Hal itu dibuat agar dinas segera bertindak.
Sementara itu, Kepala Sekolah (Kepsek) SDN Tambegan, Suwandi mengatakan pihaknya tak melakukan pemotongan gaji. Ia juga menepis adanya guru yang menyetorkan gaji ke bendahara sekolah.
“Para guru honorer menerima gaji sesuai yang ditransfer ke rekening masing-masing,” tandasnya. [sar/ian]






