Malang (beritajatim.com) – “Semua Orang Bisa Pakai AI”, begitulah bunyi tagline Reetech. Startup rancangan mahasiswa Universitas Brawijaya, yang bergerak di layanan IoT (Internet-of-Things) dan AI (kecerdasan buatan).
Berawal dari mengikuti perlombaan, Utara Setya Wardaya dan timnya menawarkan jasa pembuatan aplikasi untuk dipresentasikan atau dijual ke berbagai klien. Dari sanalah cikal bakal lahirnya Reetech.
“Untuk mengerti AI biasanya diperlukan skill coding. Kami ingin agar orang bisa menggunakan AI secara mandiri. Pengguna hanya perlu menentukan jenis AI seperti apa yang dibutuhkan dan drop datanya. Sehingga, penggunaan AI bagi kalangan umum semakin mudah,” papar Utara.
Untuk menggalakkan penggunaan AI lebih jauh lagi, Utara memiliki visi agar Reetech dapat membantu kegiatan riset secara cuma-cuma.
“Kalau AI-nya digunakan untuk penelitian di Indonesia, keperluan skripsi mahasiswa, riset dosen, kami tidak akan mengenakan biaya. Namun jika digunakan untuk keperluan komersial, baru akan dikenakan biaya,” jelasnya.
Startup rintisan mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) Universitas Brawijaya ini telah menghasilkan produk yang meraih beberapa pendanaan. Salah satunya yakni dari program Bangkit oleh Google.
“Produk kita bernama Ambroise, (mendapat funding) 140 juta rupiah dari Google Bangkit, kemudian Brightme (funding dan penghargaan) dari Paragon Corp. Kemudian dari P2MW (Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha), dan AWMM (Akademi Wirausaha Mahasiswa Merdeka),” ungkap Utara.
Dalam operasional Reetech, Utara dibantu oleh rekannya, Dandy Ramadhany. Saat ini, ia bertanggung jawab dalam marketing produk-produk Reetech.
“Strategi marketing yang masih banyak kami lakukan yaitu melalui media sosial. Kebetulan salah satu produk Reetech adalah layanan sosial media marketing. Ketika tahap perancangan produk tersebut, sempat kami coba untuk diimplementasikan di media sosial Reetech sendiri. Hasilnya ternyata lumayan menghasilkan impact,” ucap Dandy.
“Jadi tool social media marketing ini juga menggunakan AI sehingga kita bisa track audience yang ingin kita target seperti apa,” paparnya.
Meski baru berusia kurang dari dua tahun, Reetech telah memiliki berbagai klien. Selain itu, Reetech juga berhasil membantu pelaku UMKM dalam digitalisasi usaha mereka.
“Klien kita saat ini bermacam-macam, dari individu hingga korporasi. Untuk individu kita banyak memiliki klien dari pengusaha UMKM. Sedangkan dari korporasi misalnya ada yang berasal dari BUMN,” ungkap Dandy.
Utara dan Dandy berharap, Reetech semakin berkembang dan mampu menyaingi IoT-AI service management dari luar negeri.
“Kita bisa bersaing dengan teknologi dari luar negeri, sehingga bisa berdikari, tidak menggantungkan dengan teknologi dari luar. Sehingga membuktikan juga bahwa anak muda Indonesia juga bisa melakukan terobosan seperti ini,” tutupnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”showup”]
================
Konten Kerjasama beritajatim.com dengan Ngalup Collaborative Network
Ngalup Coworking Space yang saat ini bertransformasi menjadi Ngalup Collaborative Network, adalah wadah bagi para talent, stakeholders, dan berbagai lini bisnis untuk kolaborasi dan berjejaring. Kami menyadari kebutuhan akan perubahan dan tantangan zaman yang semakin berkembang, menjadikan Ngalup tidak hanya sebagai tempat melainkan fasilitator.






