Surabaya (beritajatim.com) – Tahun 2024 bukan sekadar angka di kalender. Ia merupakan simbol harapan dan tekad, bahwa Indonesia tak hanya akan menjadi penonton dalam revolusi digital global, tapi sebagai pemain kunci. Untuk itu, setiap elemen masyarakat harus bergerak. Untuk menuju Indonesia Digital 2024, Calon Anggota DPD RI, Ning Lia menyatakan GenZy harus beraksi.
Pendidikan digital, infrastruktur yang memadai, literasi teknologi bagi seluruh lapisan masyarakat, dan kebijakan pemerintah yang mendukung, semua harus berjalan seiring sejalan.
“Kita berada di persimpangan jalan. Pilihan kita hari ini akan menentukan, apakah kita akan menjadi negara yang unggul di era digital, atau sekadar penonton yang terlena oleh kata-kata tanpa aksi. Dan, berhasil tidaknya kita menuju Indonesia digital, adalah apa kata GenZy. Saat generasi Z beraksi dan berkarya, maka mimpi Indonesia Digital 2024, sangat bisa terwujud,” kata Ning Lia.
Dia menambahkan, bahwa aksi berkarya melalui digital adalah jembatan menuju masa depan.
“Digitalisasi bukanlah sekadar tren yang berlalu, melainkan jembatan menuju masa depan. Jika kita mampu membuat karya untuk bangsa melalui digital, maka kita bukan lagi konsumen produk teknologi. Melainkan, kita bisa beperan dan membuat keputusan melalui pemanfaatan teknologi,” ungkapnya.
Menurut dia, menjadikan Indonesia sebagai negara digital bukanlah tugas yang ringan. Terdapat tantangan besar dalam mengubah wacana menjadi implementasi nyata. Hal ini tidak hanya terkait dengan infrastruktur teknologi, tetapi juga pemahaman dan adaptasi masyarakat terhadap teknologi itu sendiri.
“Pendidikan digital menjadi kunci, bukan hanya di sekolah atau universitas, tetapi juga di lingkungan masyarakat,” tutur Ning Lia.
Perubahan besar selalu membawa ketidakpastian, dan dalam ketidakpastian, kebijaksanaan menjadi penting.
“Kita harus bijak dalam merangkul teknologi. Gunakan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan sebaliknya,” tambah aktivis perempuan yang kerap mendapatkan penghargaan dari berbagai kegiatan sosialnya.
Ia pun menyinggung Satelit Republik Indonesia 1 atau SATRIA-1. yang diluncurkan Presiden RI Joko Widodo awal tahun ini.
“Pak Jokowi telah meluncurkan SATRIA-1 sebagai bentuk komitmen upaya pemerintah dalam pemerataan pembangunan infrastruktur digital pelayanan publik. Hal ini tentu menjadi kabar baik agar Indonesia semakin melek digital. Yang paling utama, digitalisasi tidak boleh menciptakan jurang pemisah antara yang mampu mengakses teknologi dengan yang tidak,” paparnya.
Di pihak lain, tantangan infrastruktur, literasi digital, dan keamanan siber merupakan beberapa hambatan yang harus diatasi. Kerja sama antar sektor menjadi penting. Pemerintah, swasta, dan masyarakat harus bersinergi untuk menciptakan ekosistem digital yang inklusif dan berkelanjutan.
“Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kita semua sebagai bagian dari Indonesia,” ujarnya.
Maka, tutur keponakan Gubernur Jatim Khofifah ini, Indonesia Go Digital 2024 bukan sekadar impian. Melainkan visi yang harus diwujudkan. Fokus pada kerja nyata, bukan hanya wacana, akan membawa kita lebih dekat ke masa depan digital yang kita idamkan.
“Bersama, kita dapat menciptakan Indonesia yang tidak hanya terkoneksi, tetapi juga cerdas dan berdaya saing tinggi di kancah global,” pungkas Ning Lia, calon anggota DPD RI ini. (Tok/Aje)






