Sudah saatnya kita tidak bicara soal target juara Persebaya. Memainkan 20 pertandingan di Liga 1 Musim 2023-2024, Persebaya Surabaya kini hanya menduduki peringkat 13 dengan raihan 24 angka. Hanya terpaut tiga angka lebih banyak dari Arema FC yang berada di zona degradasi.
Tujuh pertandingan terakhir Persebaya tidak pernah berbuah kemenangan. Pertandingan melawan Persija Jakarta di Gelora Bung Tomo, Sabtu (9/12/2023), berakhir 1-1. Persebaya tertinggal lebih dulu pada menit 10, setelah Maciej Gajos mencetak gol melalui sebuah tendangan keras. Lima belas menit kemudian Bruno Moreira menyamakan kedudukan melalui tendangan jarak jauh yang membuat bola masuk ke sisi atas gawang Andrytani.
Hasil seri jelas tidak memuaskan, kendati dari aspek permainan, Persebaya lebih baik dibandingkan pertandingan sebelumnya. Namun hari ini hingga pekan ke-34, Bonek tidak membutuhkan permainan berkelas dan apik. Pertandingan yang enak ditonton hanya bonus. Kemenangan yang berbuah tiga angka adalah target utama, jika ingin tim ini tak terdegradasi.
Persebaya adalah tim dengan optimisme sekelas Liverpool yang berburu juara Liga Inggris pada awal musim. Manajemen dengan percaya diri menegaskan keinginan untuk menjadi juara Liga Indonesia. Namun pertengahan musim berjalan, nasib Bajul Ijo tak ubahnya nasib klub tetangga sekota Liverpool, Everton, yang saat ini berjuang lolos dari zona degradasi.
Sebuah khayalan tingkat tinggi jika hari ini Persebaya ingin meneladani Liverpool, tim terkuat di Inggris, yang berada di puncak klasemen sementara. Tak ada asa yang tersisa, setelah rangkaian drama yang berujung pada pergantian pelatih hingga tiga kali dalam semusim, dan hengkangnya pemain-pemain kunci tanpa alasan yang bisa dipahami Bonek.
Satu-satunya jalan bagi Persebaya hari ini adalah meneladani Everton. Bukan meneladabu kesemenjanaan The Toffees, tapi tekad dan semangat bertarung mereka. Everton jelas tim medioker dan susah juara. Kita juga sudah tahu. Namun mereka berhasil menunjukkan kepada semua orang, bahwa klub ini tak bisa dipatahkan dan diruntuhkan.
Setelah dikorting 10 poin karena pelanggaran aturan Financial Fair Play oleh Asosiasi Sepak Bola Inggris, Everton langsung terjerumus di peringkat 20 alias juru kunci. Namun bukannya meratap, manajemen, pemain, dan suporter klub ini justru bangkit melawan di atas lapangan hijau. Mereka tidak melakukan unjuk rasa besar-besaran mengepung kantor FA. Everton melawan melalui sepak bola.
Setelah kalah 0-2 dari Liverpool di Stadion Anfield, 21 Oktober 2023, Everton belum tersentuh kekalahan sama sekali dalam tujuh kali pertandingan. Mereka menyapu bersih enam pertandingan, di antaranya menang 3-0 atas Manchester United di Old Trafford, menang 3-0 atas Newcastle dan menggilas Chelsea 2-0 di kandang sendiri Goodison Park.Kontras sekali dengan capaian Persebaya.
Sam Dyche, pelatih Everton berkepala gundul itu, berhasil memotivasi para pemainnya. Mereka merasa diperlakukan tidak adil, dan rasa ketidakadilan adalah bensin bagi sebuah perlawanan.
“Klasemen liga adalah satu hal tetapi klasemen akhir adalah kebenaran musim ini. Pengurangan tersebut tidak mengubah apa yang kami lakukan, namun meningkatkan apa yang kami lakukan dan membuat kami kembali fokus,” kata Dyche.
Sementara di luar lapangan, para suporter menunjukkan dukungan dengan senantiasa memadati stadion dan memajang spanduk-spanduk perlawanan terhadap FA. Dyche menyebut tindakan para fans itu membangkitkan semangat tim. “Yang bisa kami minta hanyalah dukungan dan dukungan mereka di dalam stadion, dan yang bisa kami minta hanyalah agar hal itu terus berlanjut,” kata Dyche.
Trust. Rasa saling percaya. Hanya itu yang dibutuhkan sebuah klub sepak bola pada masa krisis dan situasi kritis. Dan itu ada di Goodison Park, namun hilang di Gelora Bung Tomo Surabaya hari ini. Bonek pernah sangat meyakini bahwa memperjuangkan eksistensi Persebaya pada masa penjatuhan sanksi dari PSSI adalah bentuk kecintaan tertinggi.
Namun kini tidak butuh kecerdasan lebih untuk membaca aksi boikot Bonek menyanyikan Song For Pride usai pertandingan dan spanduk ‘Love Persebaya Hate Management’ yang terpampang di pagar tribun. Kepercayaan mereka sudah hilang.
Ketidakpercayaan terutama diarahkan pada manajer Yahya Alkatiri. Bonek menuntutnya mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap rangkaian hasil buruk Persebaya. Argumentasi Bonek cukup jelas: pemain datang dan pergi, pelatih silih berganti selama musim ini, namun posisi Yahya belum terusik oleh hasil buruk Persebaya.
Semakin mahalnya harga tiket semakin membuat Bonek jengkel, karena kehadiran mereka di stadion tidak berbalas dengan penampilan bagus dan hasil sempurna. Tujuh hasil buruk yang menjengkelkan.
Tentu saja, kini hanya ada dua opsi yang bisa diambil Persebaya untuk menumbuhkan kepercayaan Bonek lagi: menuruti tuntutan mereka, atau menang di atas lapangan. Tak hanya sekali atas Persis Solo, Rabu (13/12/2023), namun juga pada pekan-pekan selanjutnya untuk menyelamatkan Persebaya dari degradasi yang memalukan. [wir]






