Lamongan (beritajatim.com) – Komunitas Ginyo Lamongan menggelar kegiatan “Ngejok dan Sedekah Laut”, bertempat di Pesisir Kecamatan Brondong, Lamongan.
Kegiatan yang dikemas dalam pesona budaya ini bertujuan untuk melestarikan tradisi dan budaya di Lamongan.
Kegiatan bertajuk ‘Eksistensi Budaya dan Tradisi untuk Merawat Bumi’ ini merupakan wujud kerjasama antara Komunitas Ginyo Lamongan bersama Pengurus MDS PR GP Ansor Dengok. Kegiatan ini dipadati oleh ratusan masyarakat nelayan setempat.
Menurut Ketua Komunitas Ginyo Lamongan, Luqman Hakim, Ngejok dalam kegiatan ini merujuk pada kegiatan peluncuran atau aksi menjatuhkan kapal nelayan ke air. Kegiatan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi atau acara yang dilakukan masyarakat pesisir Lamongan.
“Kegiatan Ngejok ini menjadi bagian penting dari upacara peluncuran kapal baru atau peristiwa yang merayakan momen penting dalam kehidupan masyarakat nelayan, dengan harapan aktivitas melautnya diberikan kelancaran,” ungkap Luqman, Minggu (10/12/2023).
Luqman juga menjelaskan bahwa Ngejok secara simbolis merupakan tindakan yang kerap diartikan sebagai pembukaan atau awal dari penggunaan kapal yang digunakan untuk melaut.
Tak hanya itu, Luqman menuturkan, proses “ngejok perahu” juga memiliki makna yang syarat akan nilai-nilai keagamaan. Ngejok menjadi semacam doa isyarat agar kapal yang digunakan untuk melaut selalu dilimpahi keberuntungan.
“Sebenarnya tradisi ngejok ini sangat melekat dengan kebiasaan yang dilakukan masyarakat maritim, bukan hanya di sini, tapi juga masyarakat di berbagai belahan dunia,” bebernya.
Lebih lanjut, Luqman menyebut, ada beragam kegiatan lain yang menjadi rangkaian dalam tradisi ini, seperti pembacaan tahlil, istighosah, sholawat Bilqiyam dan Rotibul Haddad, ceramah agama serta makan puluhan tumpeng secara bersama-sama.
Sesi ceramah agama kali ini diisi oleh Pengurus Lesbumi Pusat Dr. KH. Syahrul Munier, yang sekaligus pembina Komunitas Ginyo Lamongan. Mulai awal hingga akhir, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung secara khidmat.
Baca Juga:
Polres Lamongan Gelar Ops NCS Bagikan 1.000 Paket Sembako
Luqman berharap, kegiatan Ngejok dan Sedekah Laut ini bisa terus lestari. Pihaknya juga mengajak kepada seluruh masyarakat di Lamongan untuk menjaga tradisi yang sudah diwariskan oleh leluhur tersebut.
“Kegiatan ini memang dalam rangka melestarikan budaya Indonesia. Alhamdulillah, kegiatan berlangsung lancar. Semoga ke depan bisa dilaksanakan kegiatan serupa yang lebih meriah lagi,” pungkasnya.
Sekadar diketahui, perahu yang dilepas dalam kegiatan Ngejok ini adalah perahu tradisional “Ijon-ijon” khas Lamongan. Perahu ini biasa digunakan oleh nelayan Lamongan untuk mencari ikan.
Perahu Ijon-ijon kini telah resmi ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia.
Perahu tersebut dikonotasikan oleh masyarakat pesisir di Lamongan sebagai perahu perempuan (wedok) dengan ciri inggi tumpul atau papak dan badan gemuk. Perahu ini terdapat simbol topeng, mata, alis, ukei atau sanggul (gelung), mahkota (rambut), dan bunga.
Perahu Ijon-ijon ini juga terbilang sebagai perahu nelayan yang memiliki fungsi lengkap, mulai dari menangkap, menyimpan, menampung, mengangkut serta mendinginkan atau mengawetkan ikan hasil tangkapan.
Ditetapkannya Perahu Ijon-ijon sebagai warisan budaya tak benda Indonesia ini menjadi bukti bahwa khazanah budaya Lamongan begitu luar biasa.[riq/ted]






