Jember (beritajatim.com) – Para peneliti Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, memanfaatkan tawon klanceng untuk mencegah perusakan gumuk atau bukit. Tawon klanceng ini memiliki nilai ekonomis yang dibutuhkan warga sehingga tak perlu lagi mengeksploitasi gumuk untuk mencari nafkah.
Sigit Prastowo, dosen di Fakultas Pertanian Universitas Jember, mengatakan, salah satu penyebab alih fungsi gumuk adalah motif ingin mencari keuntungan. “Adanya iming-iming uang yang cukup besar menyebabkan pemilik gumuk dengan mudahnya mengiyakan gumuknya dijarah habis, rata dengan tanah tanpa memikirkan efek negatif dari penambangan tersebut,” katanya, sebagaimana dilansir Humas Unej, Sabtu (2/12/2023).
Padahal, lanjut Sigit, gumuk memiliki nilai lebih jika dimanfaatkan melalui kegiatan ekonomi hijau. “Gumuk tetap lestari sementara warga pun mendapatkan keuntungan,” katanya.
Salah satunya adalah dengan memanfaatkan tawon klanceng atau kelulut. Hewan ini dalam Bahasa Inggris dikenal dengan nama stingless bee. Serangga ini hidup liar, menghasilkan madu yang harganya lebih mahal dari madu lebah biasa. Tawon jenis ini cocok jika dibudidayakan di gumuk-gumuk, karena pakannya berupa tanaman berbunga yang tumbuh di sekitar gumuk.
“Harapannya dengan beternak tawon klanceng yang menghasilkan madu, bisa menjadi tambahan cuan bagi pemilik gumuk dan warga sekitar. Muaranya adalah mengurangi keinginan pemilik gumuk untuk menjual bahan tambang dari gumuk yang dimilikinya,” kata Sigit.
Sigit bersama Agung Nugroho Puspito dari Program Studi S2 Magister Bioteknologi, Desi Cahya Widianingrum dari Program Studi Peternakan Universitas Jember, dan Ali Wafa, dosen Program Studi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian bersama empat mahasiswa memperkenalkan pemanfaatan tawon klanceng ini kepada warga Desa Patempuran, Kecamatan Kalisat, dalam Program Desa Binaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Jember.
Pemilihan Patempuran bukan tanpa alasan. Di sana, tinggal empat gumuk yang tersisa. Dua gumuk tinggal separuh dan tujuh gumuk lainnya lentap tak tersisa. Selain itu, Desa Patempuran sejak 2020 sudah menjadi mitra dan desa binaan Universitas Jember.
Budidaya tawon ini diawali dengan menempatkan tiga kotak koloni tawon klanceng di seputar gumuk yang masih utuh, Kamis (30/11/2023) kemarin. Kotak koloni ini diletakkan di dekat pemukiman penduduk agar lebih mudah diawasi.
Ali Wafa menargetkan sepuluh kotak berisi koloni tawon klanceng ditempatkan di empat gumuk. Program ternak tawon klanceng ini diharapkan menjadi pelopor dan contoh bagi desa lain yang juga memiliki gumuk. “Harapannya warga akan mendapatkan keuntungan sehingga berdaya tanpa harus menambang gumuk, agar julukan Jember sebagai Kota Seribu Gumuk tetap lestari,” katanya.
Ahmad Wafa, perangkat Desa Patempuran, menilai pelatihan, pendampingan, dan bantuan ternak tawon klanceng membuat warganya memiliki alternatif tambahan penghasilan. “Kami menyambut baik program ini, semoga program ternak tawon klanceng ini dapat mencegah warga menambang gumuk,” katanya. [wir]






