Surabaya (beritajatim.com) – Tim Dosen Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya mendampingi Pokmas Wastra Sejahtera di Dusun Penggaron, Mojowarno, Jombang untuk mengembangkan produk sarung tenun.
Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang merupakan program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi tahun anggaran 2023, dengan total dana Rp. 38.600.000,- ini berorientasi pada pemberdayaan masyarakat untuk pengembangan produk tenun sarung, yang kemudian dikembangkan dalam 3 bidang, yaitu desain tenun, aplikasi di bidang fashion, dan elemen interior.
Lintu Tulistyantoro, Dosen UK Petra Surabaya mengatakan, para pengrajin sarung tenun di Sentra Tenun Penggaron ini memiliki keterbatasan dalam mengolah produk menjadi barang bernilai tinggi.
“Mereka hanya bisa menenun sarung, tidak bisa membuat desain. Sarung itu marketnya ya hanya para pengguna sarung saja. Nah, kita coba selesaikan problem itu dengan pelatihan mendesain motif,” ujar Lintu, Sabtu (2/12/2023).
Baca Juga: Usai Ziarah di Tebuireng Jombang, Mahfud MD Ungkap Wasiat Gus Dur
Pelatihan pembuatan motif ini diikuti oleh 10 peserta dari pengrajin tenun dan SDM yang berkompeten di bidang gambar. “Kegiatan ini berdampak besar, karena semua peserta paham dan bisa mendesain tenun,” ungkapnya.
Sedangkan untuk menjawab persoalan keterbatasan lebar kain untuk pengolahan menjadi busana, tim melakukan pengadaan alat tenun lusi sekaligus memberikan pendampingan dalam pemanfaatan alat tersebut.
Lintu menerangkan, pengembangan produk kain lebar ini untuk mengembangkan produk agar tidak terbatas pada sarung saja. Harapannya, sarung dapat didesain menjadi produk fashion seperti outer, bawahan, blues dan lainnya.
“Alat tenun ikat lusi dapat menghasilkan lebar kain 115 cm serta arah serat yang memungkinkan motif sesuai dengan desain. Alat yang diberikan adalah satu set tempat display dan set bom ikat lusi yang tediri alat bom, alat pemidang, dan midangan,” terang Lintu.

Kemudian, tim juga mengembangkan produk pendukung interior seperti runner, bantalan kursi dan lainnya. “Kami mengusulkan pengolahan produk yang tidak terbatas pada produk tenun saja, tapi memberikan wawasan untuk kombinasi pengolahan produk yang bervariasi,” jelasnya.
Ke depan, Lintu menyebut jika akan berfokus pada pewarnaan alami serta sistem digital marketing. Sebab, rata-rata pewarnaan tenun yang ditemui di wilayah Jatim masih menggunakan pewarna sintetis. “Kebetulan di Penggaron memang koordinatornya adalah ahli pewarna alam,” ungkapnya.
Program pendampingan Pokmas Tenun di Penggaron Jombang ini mendapatkan hibah pendanaan dari Program Kemitraan Masyarakat Tahun Anggaran 2023 dari Kemendikbud Ristek dengan total Rp 38.600 juta.
Adapun tim dosen tersebut antara lain Lintu Tulistyantoro, Maria Nala Damayanti, dan Purnama Esa Dora Tedjokoesoemo. Mereka dibantu 6 mahasiswa dari program Desain Interior, Desain Fashion, dan DKV UK Petra Surabaya. [adv/ipl]






