Magetan (beritajatim.com) – Sebanyak 605 orang yang terjangkit human immuno deficiency virus (HIV) di Magetan, 5 di antaranya adalah ibu hamil. Kelimanya rutin berobat untuk meneka virus. Pun, mereka dalam pengawasan Dinas Kesehatan setempat.
Sub Koordinator Program HIV Dinas Kesehatan Magetan Agus Yudi Purnomo mengatakan, pihaknya masih terus melakukan pemantauan. Kelima ibu hamil itu juga rutin berobat di puskesmas dengan perawatan dukungan dan pengobatan.
“Mereka tidak bisa melahirkan normal karena penularannya tinggi. Namun, penularan bisa ditekan jika melahirkan secara operasi. Saat ini semuanya rutin berobat sehingga viral loadnya rendah,” kata Agus pada beritajatim.com, Jumat (1/12/2023).
BACA JUGA:Hari Menanam Pohon Indonesia, MNJ Tanam 1.000 Pohon Wujudkan Indonesia Hijau
Menurutnya, Kemungkinan besar, salah satu risiko penularan HIV pada ibu hamil karena punya pasangan lebih dari satu (karena perceraian) dimana tidak diketahui status HIV calon suami yang kedua.
“Atau mungkin juga suami pertamanya dulu tidak diketahui status HIV-nya. Karena HIV ini kan windows period-nya 10 sampai 15 tahun baru muncul. Gejala awal bisa juga lebih awal muncul gejala HIV-nya. Jika ganti ganti pasangannya intens dan kondisi tubuhnya rentan,” pungkas Agus.
Diketahui, Sebanyak 104 orang mengidap HIV/AIDS di Kabupaten Magetan. Ratusan orang tersebut terdeteksi menderita HIV ketika memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan Magetan pada kurun waktu Januari hingga Oktober 2023 ini. Salah satu di antaranya adalah anak yang masih berusia tujuh tahun.
Sub Koordinator Program HIV Dinas Kesehatan Magetan Agus Yudi Purnomo mengatakan, jumlah tersebut menambah daftar total penderita HIV yang tercatat sejak tahun 2000. Secara akumulatif, total penderita HIV yang terdeteksi di pelayanan kesehatan Magetan mencapai 609 penderita.
“Kemudian, untuk saat ini yang hidup ada 402 ODHIV (Orang Dengan HIV) dan 215 di antaranya menjalani pengobatan secara rutin di puskesmas,” kata Agus Kamis (30/11/2023)
Menurutnya, saat ini tren penularan HIV/AIDS karena laki seks lali (LSL). Tren saat ini meningkat melebihi penularan yang diderita ibu rumah tangga.
BACA JUGA:Demo Day WMK di Untag Surabaya Ciptakan Mahasiswa Berjiwa Wirausaha
“Karena kami agak susah untuk menembus komunitas mereka ya. Mereka kan harus diberi edukasi agar penularan HIV ini bisa ditekan. Sekaligus, dilakukan skrining agar bisa segera diobati jika dinyatakan positif HIV,” lanjutnya.
Saat ini, upaya pencegahan yang dilakukan berupa mobile voluntary counseling and testing (VCT). Mobile VCT itu dilakukan oleh sejumlah puskesmas dan tahun ini sudah berjalan sebanyak 13 kali.
“Tujuannya untuk mendeteksi penderita ya. Serta edukasi. Kami juga lakukan skrining pada calon pengantin. Tak hanya HIV tapi juga sifilis dan hepatitis,” katanya.
“Kemudian, upaya kuratif berupa pelayanan perawatan dukungan dan pengobatan (PDP) di 11 pelayanan kesehatan yakni Puskesmas Candirejo, Ngariboyo, Karangrejo, Panekan, Takeran, Maospati, Ngujung, Lembeyan, Taji, Poncol, Kawedanan. Serta, RSAU dr Efram Harsana dan RSUD dr Sayidiman,” katanya. (Fiq/Aje)






