Gresik (beritajatim.com) – Cuaca mendung sedikit sinar matahari menyinari Desa Wonorejo, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik. Sutiyo (45) seorang petani kangkung, bersiap-siap ke lahan tanaman kangkung miliknya.
Sejak memutuskan terjun sebagai petani di tahun 2005. Kehidupan Sutiyo bersama istrinya Rusmiasih (40) dan dua anaknya hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Waktu yang terus berjalan, profesi petani konvensional yang dijalani Sutiyo hanya stagnan buat makan saja. Sementara untuk kebutuhan lainnya. Dirinya harus memutar otak bagaimana hasil panen tanaman kangkung bisa dijadikan pegangan untuk mencukupi kebutuhan lainnya.
Berbekal memiliki lahan tanaman kangkung dengan luas 2 hektar. Sutiyo mencoba mengikuti ‘Program Makmur’ yang diinisiasi oleh Pupuk Indonesia tahun 2021. Dirinya menceritakan sebelum ikut program tersebut. Hasil panen tanaman kangkung yang dihasilkan hanya 800 kilo perhektar. Setelah ikut progam makmur meningkat menjadi 2,2 ton perhektarnya.
Baca Juga:
Petrokimia Gresik Dorong Percepatan Musim Tanam Kementan
Harga jualnya pun mengalami kenaikan. Pasalnya, tanaman kangkung yang dihasilkan sangat berkualitas yang semula hanya dijual Rp 1.500 hingga Rp 2.000 perkilo. Namun, setelah ikut program tersebut harganya naik menjadi Rp 3.500 perkilo.
Selain mengalami kenaikan harga jual, pendapatan Sutiyo juga meningkat. Estimasinya, bila sebelumnya rata-rata Rp17,7 juta perhektar. Kini menjadi Rp22,3 juta perhektar. Artinya, ada penambahan sekitar Rp4,6 juta perhektarnya.
“Dari hasil panen itu saya bisa menabung serta mencukup kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah,” ujar Sutiyo kepada beritajatim.com, Kamis (30/11/2023).
Diakui Sutiyo, program tersebut sangat membantu sekali. Dimana, petani tidak hanya diarahkan bagaimana menghasilkan panen yang melimpah. Tapi juga diberi pelajaran cara menanam serta memberi nutrisi agar tanaman yang dihasilkan berkualitas.
“Saya baru dua tahun mengikuti program makmur. Hasil yang didapat sangat membantu petani,” ungkapnya.
Bagi Sutiyo program makmur ibarat dewa penolong bagi petani. Kendati menggunakan pupuk non subsidi untuk pemupukan. Tapi hasil panen yang dihasilkan sangat berkualitas
“Saat musim tanam sewaktu pemupukan saya menggunakan pupuk NPK non subsidi. Kadar pupuknya pun jauh lebih baik dari pupuk subsidi,” ujarnya.
Dirinya berharap program ini untuk pendampingan kepada petani petugasnya ditambah. Pasalnya, dengan jumlah yang terbatas belum bisa menjangkau ke petani lainnya. Hal ini karena di desanya, dirinya adalah perwakilan dari petani yang telah mendapatkan bimbingan langsung dari program makmur.
“Jumlah petani di desa kami ada 50 orang lebih. Jadi program makmur baru sebatas di tingkatan atas saja seperti saya. Masukannya kedepan kalau bisa petugasnya ditambah biar bisa mendapatkan panen melimpah dan harga jual yang tinggi,” paparnya.
Capaian petani yang dialami Sutiyo bisa menjadi contoh petani yang lain. Dengan kegigihannya, dan tidak bergantung pada pupuk subsidi. Petani asal Desa Wonorejo itu, kini bisa menikmati hasil panen serta harga jual yang tinggi.
Sukses seorang Sutiyo juga diikuti oleh petani lainnya di Indonesia. Berdasarkan data Pupuk Indonesia saat ini ada 106.102 tidak lagi bergantung lagi pada pupuk bersubsidi. Ini tentu fenomena yang baik sebab alokasi pupuk bersubsidi sangat terbatas.
Petrokimia Gresik sebagai anak usaha dari PT Pupuk Indonesia (persero) terlibat dalam upaya menciptakan kesejahteraan petani melalui program makmur yang diinisiasi oleh Kementrian BUMN, dan Pupuk Indonesia sejak tahun 2021-2023. Program ini mampu membuat petani semakin berdaya.
Dirut Petrokimia Gresik, Dwi Satryo Annurogo menuturkan, terkait dengan program makmur ini perusahannya bertugas memberikan pendampingan budidaya tanaman serta kawalan pertanian melalui produk-produk nonsubsidi.
“Meskipun nonsubsidi, hasil panennya melimpah dan kesejahteraan petani turut meningkat. Dari sini kami berhasil memakmurkan lebih dari 106 ribu petani di Indonesia,” paparnya.
Dalam tiga tahun terakhir kata dia, Petrokimia Gresik merealisasikan program makmur di lahan seluas 234.661 hektare. Realisasinya tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Rinciannya tahun 2021 menjangkau lahan seluas 20.440 hektare dengan keterlibatan sebanyak 21.694 petani. Selanjutnya tahun 2022 meningkat lagi 98.598 hektare dengan menggandeng 60.307 petani.
“Bulan September atau akhir triwulan III 2023. Kami berhasil merealisasikan Program Makmur pada lahan seluas 115.623 hektare dan melibatkan 24.101 petani,” katanya.
Capaian tiap tahunnya ini lanjut Dwi Satryo, melampaui target yang ditetapkan. Adapun komoditas yang menjadi sasarannya terbanyak adalah padi dan tebu. Kemudian jagung, kelapa sawit, bawang merah, hortikultura, kopi, tembakau dan benih kangkung.
“Sebagai perusahaan dengan varian pupuk terlengkap di Indonesia juga mampu memberikan jawaban atas segala kebutuhan petani untuk mendorong petani semakin mandiri. Khususnya di saat pupuk ZA, SP-36 dan Petroganik tidak lagi masuk dalam skema subsidi di tahun 2022 sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian nomor 10 Tahun 2022,” urainya.
Sebagai alternatifnya lanjut Dwi Satryo, Petrokimia Gresik tahun lalu meluncurkan pupuk nonsubsidi ZA Plus, Phosgreen, pupuk organik cair Phonska OCA Plus. Selain itu, Petrokimia Gresik menghadirkan sejumlah produk unggulan seperti Phonska Alam, Petroganik Premium, SP-26, Petro Niphos. Pupuk ini diaplikasikan pada beberapa program Makmur.
“Setiap budi dayanya kami selalu mengaplikasikan pupuk organik. Hal ini menjadi komitmen perusahaan dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan di Indonesia,” pungkasnya. (dny/ted)






