Surabaya (beritajatim.com) – PT HM Sampoerna Tbk bakal menyerap tenaga kerja baru lebih banyak lewat penambahan fasilitas produksi Sigaret Kretek Tangan (SKT). Tambahan fasilitas tersebut juga untuk merespon tanda-tanda pulihnya pangsa pasar segmen SKT.
Presiden Direktur Sampoerna, Vassilis Gkatzelis mengumumkan rencana penambahan fasilitas produksi SKT tersebut di Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Barat. Tambah fasilitas ini akan membuka lapangan kerja baru yang juga dapat menciptakan multiplier effect bagi masyarakat sekitar.
Rencana tersebut dimulai dengan pembukaan fasilitas produksi untuk SKT Sampoerna di Kota Blitar, Jawa Timur, dan Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Fasilitas produksi di dua daerah ini dijadwalkan mulai beroperasi pada Semester I 2024.
Menurut Vassilis, penambahan fasilitas produksi ini memiliki nilai investasi mencapai Rp638 miliar. Dia yakin, keberadaan fasilitas produksi SKT yang baru ini akan memperkuat portofolio Sampoerna sejak 1913.
“Dengan pembukaan fasilitas produksi SKT dan tambahan tenaga kerja baru, kami optimistis bahwa langkah Sampoerna ini akan meningkatkan kesempatan kerja di sektor formal bagi masyarakat setempat sekaligus menciptakan multiplier effect yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi dan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan di wilayah-wilayah tersebut,” kata Vassilis, kamis (30/11/2023).
Pada kuartal III 2o23, segmen SKT mencapai 27 persen. Kinerja SKT mulai memperlihatkan perbaikan dalam beberapa tahun terakhir setelah sempat mengalami penurunan pangsa pasar dari 37 persen di 2026 ke 17 persen di 2019.
Pulihnya kondisi tersebut didorong oleh kebijakan Pemerintah terkait cukai produk tembakau, yang mempertimbangkan sejumlah aspek. Di antaranya serapan tenaga kerja yang tinggi pada segmen SKT.
BACA JUGA:
Sampoerna Academy Luncurkan Buku Teach Through Fascination
Vassilis mengapresiasi upaya pemerintah menjaga iklim usaha dan investasi yang kondusif serta terprediksi di Indonesia, termasuk kebijakan yang mendorong kinerja sektor padat karya SKT.
“Upaya ini secara langsung berdampak positif pada penciptaan lapangan kerja di sektor formal dan perputaran ekonomi daerah yang selanjutnya turut meningkatkan perekonomian nasional,” lanjutnya.
Sampoerna sendiri telah melaporkan rencana ini kepada kepala daerah dan dinas terkait di Kota Blitar dan Kabupaten Tegal. “Kami berharap dukungan pemerintah daerah maupun pusat terus berlanjut dalam bentuk kebijakan yang mendukung sektor industri padat karya SKT,” ucap Vassilis.
Saat ini, Sampoerna mengoperasikan 4 fasilitas produksi SKT di Surabaya, Malang, dan Probolinggo, 2 fasilitas produksi sigaret mesin di Pasuruan dan Karawang; serta 1 fasilitas produksi produk tembakau inovatif bebas asap di Karawang. Selain itu, Sampoerna juga bermitra dengan 38 Mitra Produksi Sigaret (MPS) yang tersebar di 28 Kabupaten/Kota di Pulau Jawa.
MPS dimiliki dan dioperasikan oleh pengusaha daerah dan/atau koperasi setempat untuk memproduksi merek-merek SKT Sampoerna. Total tenaga kerja Sampoerna saat ini mencapai lebih dari 76 ribu orang, secara langsung dan tidak langsung, di mana sekitar 90 persen di antaranya adalah pekerja fasilitas produksi SKT.
Selain pembukaan fasilitas produksi SKT Sampoerna di Kota Blitar dan Kabupaten Tegal, juga akan terjadi penambahan serapan puluhan ribu tenaga kerja baru yang dilakukan oleh MPS di provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Barat, serta penambahan 5 MPS baru yang akan berlokasi di Jawa Timur dan Jawa Tengah di Semester 1 2024.
“Penambahan fasilitas produksi Sampoerna maupun MPS tidak saja akan menambah kemitraan dengan pengusaha daerah/koperasi setempat serta total serapan tenaga kerja, namun juga akan meningkatkan penyerapan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani Indonesia. Seperti diketahui, penggunaan bahan baku rokok buatan tangan membutuhkan dua kali lebih banyak tembakau dan cengkih dibandingkan rokok buatan mesin,” jelas Vassilis.
BACA JUGA:
Sampoerna Kenalkan Kekayaan Kuliner Indonesia Timur
Ia melanjutkan, kelangsungan industri tembakau nasional bergantung pada kerangka kerja yang terprediksi, meliputi kebijakan cukai, regulasi produk tembakau, serta kebijakan lain yang yang berperan penting dalam mendorong inovasi dan teknologi, berdasarkan sains untuk menawarkan alternatif produk tembakau yang lebih baik bagi perokok dewasa.
Hal ini akan berdampak langsung terhadap produsen, serapan tenaga kerja, penggunaan bahan baku tembakau dan cengkih, dan keseluruhan rantai nilai sehingga menciptakan nilai ekonomi di tingkat daerah dan nasional.
“Inilah salah satu wujud komitmen Sampoerna untuk ekosistem rantai nilai yang lebih luas,” kata Vassilis optimistis.
Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Timur, Eddy Widjanarko menuturkan, pihaknya bersyukur dan menyambut baik atas pengumuman penyerapan puluhan ribu tenaga kerja baru di segmen SKT oleh PT HM Sampoerna Tbk di berbagai provinsi, termasuk Jawa Timur.
“Tentunya hal ini merupakan kabar baik bagi pertumbuhan perekonomian di daerah,” jelasnya. [beq]






