Jombang (beritajatim.com) – Anak-anak SDN Kepanjen 1 Kecamatan/Kabupaten Jombang mengikuti pembelajaran di luar kelas atau outing class. Mereka belajar menanam bunga bugenvil di Beenyo Farm Dusun Sumberwaru, Desa Palrejo, Kecamatan Sumbito, Selasa (28/11/2023).
Tentu saja, suasana pembelajar di ruang kelas tersebut berlangsung riang gembira. Mereka yang mengikuti adalah murid kelas I hingga VI. Bahkan murid kelas I dan II mengawali pembelajaran tersebut dengan menyanyikan lagu lihat kebunku sembari berkeliling di kebun bunga tersebut.
Sedangkan murid kelas V dan VI langsung duduk dengan rapi. Mereka mendapatkan pembekalan seputar bunga bugenvil. Mulai jenis, cara menanam dengan metode stek, serta media tanam yang bagus untuk membududayakan bunga tersebut.
Adalah Ketua Kelas V M Alif Putra dan Ketua Kelas VI M Fir Rizky Raditya yang duduk di barisan depan. Kedua anak itu memperhatikan penjelasan dari instruktur dari Beenyo Farm. Kedua murid SDN Kepanjen 1 ini juga memegang buku. Ketika ada sesuatu yang penting Alif dan Radit buru-buru mencatatnya.
BACA JUGA: Murid SDN di Desa Terpencil Jombang Terima Bantuan
Hal serupa juga dilakukan oleh puluhan murid kelas V dan VI lainnya. Pemilik Beenyo Farm, Ridho Boy (41) kemudian mengajak seluruh murid untuk berkeliling taman bunga tersebut. Mengenalkan jenis bunga tersebut secara detail satu per satu. Murid sekolah dasar ini menyimak dan mencatatnya.
“Selain bunga bugenvil lokal, ada juga bugenvil impor seperti jenis Holland, Alexsandra, Baby Victoria dan lain sebagainya. Nah, seperti ini. Bunganya juga aneka warna,” ujar Boy memberikan penjelasan di hadapan anak SD yang sedang outing class.
Tahap selanjutnya, anak-anak yang masih berusia belasan tahun ini mempraktikkan cara mengembangbiakkan bunga dengan cara stek. Alif dan Radit memotong salah satu dahan bunga tersebut. Lalu memotong lagi batang tersebut sepanjang jari. Batang itu dimasukkan gelas berisi air.

Sejumlah instruktur memandu selama praktik tersebut. Terakhir adalah pengenalan media tanam. Yakni, dalam satu pot berisi tiga jenis. Yakni, tanah, sekam, serta kompos. Tiga bahan ini dicampur menjadi satu dengan perbanding yang telah ditentukan.
“Nah, inilah campuran tanah yang digunakan untuk media tanam. Pertama tanah, kedua kompos dan terakhir sekam. Kalau tidak hafal bisa dicatat,” ujar Boy yang mempraktikkan teknik pemcampuran media tanam.
BACA JUGA: Merasakan Sensasi Trekking di Kaki Gunung Anjasmoro Wonosalam Jombang
Semua murid yang hadir mengikuti outing class tersebut dengan riang gembira. Sejumlah guru juga mendampingi, nampak pula orangtua atau wali murid. Kelas I bergabung dengan kelas II, kelas III dengan kelas IV, serta kelas V gabung dengan kelas VI.
Guru SDN Kepanjen I Latifatur Rosyidah yang mendanpingi murid-muridnya mengatakan bahwa outing class tersebut diikuti 178 anak. Mereka adalah murid kelas I hingga VI. “Hari ini materinya adalah bercocok tanam. Makanya kita mengunjungi Beenyo Farm. Alhamdulillah mendapatkan materi tentang budidaya bunga bugenvil,” ujar guru kelas VI ini.
Bermula dari Kandang Sapi

Flower Garden Beenyo Farm adalah milik pasangan Ridho Boy dan Beenyo asal Dusun Sumberwaru, Desa Palrejo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang. Lokasinya berada di belakang rumah. Namun lokasi tersebut sangat indah karena berada di pinggir area persawahan.
Sebelum menjadi taman bunga, Flower Garden Beenyo Farm adalah kandang sapi. Selain flower garden, di lokasi ini terdapat kafe dan resto yang menyediakan berbagai menu makanan dan minuman bagi para pengunjungnya. Bahkan terakhir banyak dikunjung sebagai destinasi wisata edukasi. Seperti yang dilakukan oleh murid SDN Kepanjen 1.
BACA JUGA: Besok, Wisata Halal DeDurian Park Wonosalam Jombang Diluncurkan
Boy menjalankan usaha wisata alam ini sejak satu tahun terakhir. Walhasil, perkembangannya sangat bagus. Pengunjung datang silih berganti. Namun untuk sementara, Beenyo Farm fokus pada budidaya tanaman bugenvil.
“Namun tidak menutup kemungkinan mengenalkan cocok tanam pada tanaman lain. Semisal penanaman sayur dan tabulampot (tanaman buah dalam pot),” ujar Boy.

Boy merinci, lahan yang ia kelola tersebut seluas kurang lebih 4000 meter persegi. Selain digunakan kafe, di lokasi tersebut juga terdapat 50 varietas bunga bugenvil, baik jenis lokal maupun impor.
Lantas berapa harga yang dipatok? Menurut Boy, pengunjung bisa mengambil paket untuk field trip. “Untuk jumlah minimal 100 orang, kita kenakan biaya makan Rp 35 ribu. Nanti bisa belajar awal tanam sampai akhir, dan pulangnya sudah bawa satu pot bugenvil yang sudah tumbuh,” tandasnya. [suf]






