Mojokerto (beritajatim.com) – Harga cabe rawit di Kabupaten Mojokerto yang sempat tembus di harga Rp 98 ribu per kg membuat Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mojokerto mengajak masyarakat untuk beralih ke cabe rawit olahan. Salah satu perajin cabe rawit olahan adalah Ribut Hayu Purbawati (39).
Warga Dusun Wotgaru, Desa Pucuk, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto mulai melirik usaha pengolahan cabe rawit kering sejak 2021 lalu. Banyaknya hasil panen cabe rawit di Kecamatan Dawarblandong tidak sesuai dengan harga produksi membuat tanaman cabe rawit dibiarkan mengering di area persawahan.
Ini yang membuat istri dari Suwardi (42) mencoba inovasi dengan mengeringkan cabe rawit. Tujuannya agar cabe rawit tidak cepat busuk dan harga hancur saat hasil panen melimpah. Sehingga para petani cabe rawit khususnya di Kecamatan Dawarblandong tidak rugi saat panen.
“Di sini (Dawarblandong) mayoritas petani cabe. Tahun 2021 mencoba untuk mengeringkan cabe rawit karena saat musim panen, hasilnya melimpah sekali, cepat sekali busuk dan harganya murah. Kadang sampai Rp5 ribu/kg, tidak diambili. Katanya untuk biaya istilahnya preman (buruh petik) mahal,” ungkapnya, Senin (27/11/2023).
Harga tidak seimbang dengan biaya produksi yang dikeluarkan sehingga para petani cenderung membiarkan tanaman cabenya mengering. Kondisi itu ditangkap sebagai peluang usaha. Ibu tiga anak ini membeli cabe rawit milik para petani dan dikeringkan, hasilnya awet dan tidak mengubah rasa.
“Saya coba-coba, kok awet, tidak langu dan tidak merubah rasa. Saya belum pernah nyoba cabe dari daerah lain, apakah hasilnya sama. Saya produksi saat panen melimpah dan harga murah, baru saya manfaatkan. Iya produksinya mengandalkan saat musim panen, kita belum punya mitra saat tidak musim panen dan harganya juga mahal,” katanya.
Cabe rawit dari petani tersebut dibersihkan kemudian dikeringkan di mesin food dehidrator bukan menggunakan sinar matahari. Dalam sekali proses bisa 5 sampai 6 kg cabe rawit segar dan dibutuhkan waktu pengeringan delapan jam. Dari cabe rawit yang dikeringkan tersebut, sebagian digiling dan sebagian disimpan bentuk cabe kering utuh.
“Saya pakai suhu standar sehingga hasil keringnya rata, iya dipindah-pindah jadi loyang bawah naik ke tengah, tengah ke atas, atas ke bawah. Kalau suhu terlalu besar, hasilnya gosong. Setelah produksi kita masukkan ke botol, yang utuh kita simpan di toples jadi untuk tandon. Bentuknya cabe kering utuh. Proses 3 bulan-an saat musim panen,” jelasnya.
Menurutnya, ia belum memiliki mitra petani namun hanya membeli cabe rawit di beberapa petani. Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nasional Dawarblandong jurusan Bahasa Inggris ini dibantu tiga orang karyawan untuk memproduksi cabe rawit olahan tersebut yang semuanya merupakan ibu-ibu sekitar.
“Ini pengalaman baru mencoba memanfaatkan alam dan lingkungan sekitar. Permintaan cabe kering tabur ini, memenuhi toko-toko di Mojokerto dan sekitar sampai Jakarta dengan kemasan botol Rp15 ribu isi 100 gram. Ya didatangi petugas dari Disperindag kemudian ikut aplikasi Tumbas, iya ada permintaan penjualan,” tuturnya.
Menurutnya, permintaan di Mojokerto banyak berasal dari aplikasi Tumbas milik Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mojokerto. Rata-rata 5 sampai 6 kg per bulan untuk memenuhi toko frozen di Mojokerto dan sekitarnya. Tingkat ketahanannya bisa sampai tahunan karena kandungan air sudah hilang.
BACA JUGA:
Cabe Rawit Bawa Berkah Sahruni Jadi Sarjana Termuda UB
“Kita tidak sampai menolak permintaan karena kita punya tandon, stok bentuk cabe kering utuh. Kita akan giling saat stok cabe tabur kita habis. Bisa lewat Tumbas jika ada pemesanan tanpa ongkir. Juga bisa ke kedai kita di Desa Pulorejo atau barat SMPN 1 Dawarblandong. Cara penyajiannya, bisa langsung dicampur ke masakan atau makanan,” tegasnya.
Selain cabe tabur, ia juga memproduksi snack stik kelor dan minuman kunyit asam. Untuk minuman kunyit asam, dalam satu minggu mampu produksi 300 botol. Sementara untuk aplikasi Tumbas bisa dilihat di galery Griya Kuliner Shakira dengan nama produk Sambal Sumber Rejeki (Sasuki) Sambel Tabur. [tin/but]
![Murah dan Pedas, Yuk Coba Cabe Rawit Olahan Warga Mojokerto Ini Ribut Hayu Purbawati (39) menunjukan cabe rawit olahan miliknya. [Foto : ist]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG-20231127-WA0006-1024x804.jpg)






