Mojokerto (beritajatim.com) – Lokasi Situs Kedaton Sumur Upas di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Penamaan Sumur Upas diduga sebagai siasat masyarakat agar bangunan semacam lubang (sumuran) yang merupakan jalan rahasi di tengah gugusan tidak dilewati.
Situs Kedaton Sumur Upas berada pada sebuah tanah datar dengan ketinggian 41,10 meter di atas permukaan air laut.
Struktur-struktur ini posisinya saling tumpang-tindih yang menandakan jika situs ini pernah di huni manusia dalam beberapa masa yang berlainan, bahkan disebut ada enam layer budaya.
Data yang diperoleh beritajatim.com dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, dari luas dan banyaknya struktur yang ditemukan pada situs ini, dapat diperkirakan bahwa situs ini merupakan suatu kompleks percandian yang terdiri atas beberapa bangunan. Bangunan I (Situs Kedaton) merupakan sebuah kaki bangunan.
Baca juga:
Candi Tikus Trowulan Mojokerto, Bangunan Petirtaan Majapahit
Yakni dengan bentuk denah segi empat berkuran panjang 12,6 meter, lebar 9,5 meter serta tinggi bagian yang tersisa 1,58 meter dari permukaan tanah. Pada bagian sudut dan tengah masing-masing sisi dinding luar terdapat bentuk-bentuk pilaster, yang selain berfungsi sebagai ornamen hias juga berfungsi sebagai penguat dinding.
Bangunan ini mempunyai arah hadap ke barat dengan azimut 279 derajat. Di depan bangunan ini, dengan jarak ± 5 meter terdapat sebuah sumur kuno yang terbuat dari susunan bata dengan denah berbentuk segi empat, berukuran 8,5 meter x 7,5 meter dan kedalaman 5,70 meter. Hingga sekarang sumur ini masih berfungsi.
Baik untuk kebutuhan air maupun untuk kepentingan ritual oleh masyarakat tertentu yang percaya, bahwa sebelum bersemedi di sumur upas harus mensucikan dirinya dengan air yang berasal dari sumur kuno tersebut. Bangunan II diduga kompleks Sumur Upas merupakan suatu gugusan atau kompleks bangunan yang luasnya.
Namun belum dapat diketahui dengan pasti luas dan arah hadapnya. Namun berdasarkan orientasi bangunan I yang mempunyai arah hadap ke barat, diperkirakan kompleks bangunan ini juga mempunyai pintu masuk dengan arah hadap yang sama. Penamaan Sumur Upas diambil dari bangunan semacam lubang (sumuran) yang terdapat di tengah gugusan.

Oleh masyarakat, lubang tersebut dinamakan dengan sumur upas. Adapun nama upas mempunyai arti gas atau racun. Dalam cerita yang berkembang, sumur upas dahulu merupakan jalan rahasia menuju ke suatu tempat yang aman bagi raja apabila diserang oleh musuh.
Untuk menghalangi agar tidak semua orang berani atau dapat memasukinya, maka jalan rahasia atau lorong ini diberi nama sumur upas atau sumur beracun. Penanganan pertama pada situs ini dilakukan pada masa Kolonial Belanda tahun 1941 dengan dilakukannya ekskavasi di depan bangunan I yakni Candi Kedaton.
Hasil ekskavasi berupa sisa-sisa bangunan kuno (sekarang tertutup tanah). Penelitian berikutnya dilakukan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala dalam rangka penyusunan Rencana Induk Arkeologi Bekas Kota Kerajaan Majapahit dan ditindaklanjuti dengan studi teknis arkeologi pada Agustus 1985.
Pada kegiatan ini dilakukan penggalian arkeologi di halaman kompleks situs Kedaton, yang menemukan beberapa struktur bata pada setiap kotak galian. Penanganan berikutnya berupa pemugaran bangunan Candi Kedaton (bangunan I) yang dimulai pada tahun anggaran 1995/1996 sampai dengan tahun anggaran 1999/2000.
Banyaknya struktur yang nampak dari hasil ekskavasi selama ini, diperkirakan gugusan bangunan II (kompleks Sumur Upas) ini terdiri dari beberapa bangunan. Struktur-struktur ini posisinya saling tumpang-tindih, yang menandakan bahwa situs ini pernah di huni manusia dalam beberapa masa yang berlainan.
Selain itu, temuan-temuan lepas yang didapat selama ekskavasi berlangsung, berupa pecahan gerabah dan keramik asing (Cina) dalam jumlah yang cukup banyak, disertai dengan beberapa fragmen arca, mendukung dugaan bahwa situs ini pada masa dahulu merupakan sebuah pemukiman. Menurut cerita yang berkembang, situs ini merupakan makam.
Yakni makam Dewi Murni, Dewi Pandansari, Wahito, dan Puyengan. Dari hasil ekskavasi yang pernah dilakukan, di temukan empat buah kerangka manusia pada bangunan I (Candi Kedaton) dan sebuah kerangka lagi di dekat Sumur Upas. Hasil penelitian menunjukan empat kerangka yang ditemukan di dalam bangunan I berjenis kelamin wanita.
Sedangkan yang ditemukan di dekat Sumur Upas berjenis kelamin pria. Adanya temuan kerangka manusia yang berbeda konteks dengan temuan sekitarnya, menunjukkan bahwa situs ini mengalami fungsi yang berbeda dari masa sebelumnya. [tin/ted]






