Surabaya (beritajatim.com) – GMNI Dewan Pengurus Komisariat (DPK) FISIP Universitas Airlangga (Unair) melakukan aksi demontrasi dan teatrikal untuk mengenang degradasi demokrasi di Indonesia. Aksi tersebut dilakukan di Taman Demokrasi FISIP, Unair Surabaya.
Ketua Komisariat GmnI DPK FISIP Unair, Ehren Dean Mahanaim Damanik mengatakan aksi tersebut berangkat dari isu yang menjadi keresahan bersama, yakni politik dinasti. Apalagi, kata dia, sosok Gibran dianggap mewakili pemuda saat ini.
“Hal itu tidak sesuai dengan prinsip dan spirit pemuda, terutama aspek kepemudaan GmnI sebagai organisasi pemuda,” ujar Ehren, Jumat (24/11/2023).
Ehren menegaskan bahwa sudah menjadi suatu kewajiban bagi GmnI untuk selalu melakukan pengawalan terhadap isu yang mencederai asas keadilan di Indonesia.
BACA JUGA: Penolakan Politik Dinasti Menggelora di Unitomo Surabaya
Menurut Ehren, naiknya Gibran sebagai cawapres paslon nomor urut dua merupakan upaya mencederai semangat anak muda. Karena upaya yang dilakukan untuk dapat menjadi cawapres disebut mengangkangi konstitusi.
“Pipa bangsa sudah menunjukkan kebocorannya, tugas kami adalah antara menambalkan kebocorannya dengan diam, atau mematahkan kerannya dengan gerak agar air keadilan terus mengalir,” kata Ehren.

Tidak hanya membahas isu pelanggaran upaya memunculkan politik dinasti oleh Jokowi. GmnI FISIP Unair juga membawa isu mengenai kemerosotan demokrasi yang secara konsisten terjadi di masa pemerintahan Jokowi.
“Isu politik dinasti secara langsung berkaitan dengan kemerosotan skor indeks demokrasi yang secara konsisten terjadi di Indonesia pada masa pemerintahan Jokowi. Dengan ditunjuknya Gibran sebagai cawapresnya Prabowo, hal tersebut menjadi puncak gunung es dari rentetan pelanggaran demokrasi yang terjadi di Indonesia,” pungkasnya. [asg/suf]






