Malang (beritajatim.com) – Kota Malang memiliki potensi yang luar biasa untuk sektor ekonomi kreatif. Potensi itu ditangkap oleh Pemerintah Kota Malang dengan menyediakan wadah inkubasi bernama Gedung Malang Creative Centre, di Blimbing, Kota Malang.
Komite Eksekutif Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Vicky Arief Herinadharma saat pembukaan Uji Kompetensi Wartawan PWI Malang Raya mengatakan, bahwa kehadiran MCC menjadi sebuah momentum kebangkitan ekonomi kreatif di Kota Malang.
Selain itu MCC akan menjadi creative hub dan research development seluruh sektor ekonomi kreatif di Kota Malang.
“Visi kami menjadikan MCC sebagai creative hub, research dan development center serta rumah bersama bagi pelaku ekonomi kreatif dalam rangka menumbuhkan budaya kreatif menuju kreativitas dalam berserikat, bermartabat dan bermufakat,” ujar Vicky, ditulis Sabtu (18/11/2023).
Seorang data konsultan Asandra Salsabila BBS mengatakan, peluang Ekraf di Kota Malang untuk bertumbuh kembang begitu besar. Jakarta sebagai Ibu Kota memang menjadi daerah yang sudah menggunakan aplikasi big data dalam menjalankan Ekraf. Kota Malang dianggap sangat potensial sejajar dengan Jakarta karena memiliki segudang potensi.
“Di Jakarta, sekarang bisnis food and beverage (FnB) seperti bakery local saja, mereka sekarang sudah main aplikasi big data, data analisis User Interface (UI) research. Jadi mereka sangat berkembang dari sisi teknologi. Di Kota Malang antusias terhadap perkembangan teknologi juga sangat tinggi jadi ini potensi,” ujar Asandra.
Asandra yang memiliki banyak pengalaman sebagai data konsultan menyebut, perlu penguatan sumber daya manusia dalam bidang teknologi, data, dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligent (AI). Dengan memanfaatkan data ekraf di Kota Malang semakin maju.
Kemudian pola pikir harus diubah untuk menjadikan Kota Malang sebagai kota Ekraf. Salah satunya soal akses permodalan. Dia mencontohkan di Jakarta banyak perusahaan perintis yang dapat dengan mudah bertemu dengan investor. Sementara di Kota Malang belum dimaksimalkan. Hal ini karena masih ada persepsi bahwa modal untuk memulai usaha sangat tinggi dan harus didasari dari modal pribadi.
BACA JUGA:
Kelulusan Firsttaker LPTK UIN Malang Capai 93 Persen
“Padahal kan kita ada program partnership seperti itu, dengan feature capital atau dengan investor dan lain-lainnya. Kurang lebih itu,” ujar Asandra.
Disisi lain, Kota Malang memiliki keuntungan karena banyak mahasiswa yang tersebar di puluhan perguruan tinggi di Kota Malang. Dia menyarankan Pemkot Malang dan sejumlah pegiat Ekraf untuk mengembangkan software engineering sebagai ekspor potensial dari Kota Malang.
“Jadi kalau di Malang sendiri benar sekali potensinya sudah besar. Tapi, yang harus dikembangkan itu harus paralel, harus jalan semua. Mau itu SDM atau teknologi. Karena kalau orang mau invest di Malang, harus ada something yang mendukung, SDMnya sudah bagus, tinggal kita tingkatkan lagi,” ujar Asandra. [luc/beq]






