Surabaya (beritajatim.com) – Eiger Adventure (EIGER) menjaring bakat muda atlet panjang tebing. Langkah ini ditandai dengan gelaran lomba panjat tebing untuk Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala).
Bertempat di INDOFEST Surabaya, lomba yang berlangsung pada Sabtu (11/11/2023) diikuti para anggota Mapala dari sejumlah kampus se-Jawa Timur. Para peserta rela menempuh perjalanan jauh, naik bus dan kereta, demi unjuk kebolehan di ajang ini.
“Kami datang karena ingin menguji kemampuaan, bersaing dengan kawan-kawan mahasiswa lain,” ujar Ainur (21), peserta dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jatim.
Kualifikasi berjalan sangat ketat. Sejak pagi hingga sore, para peserta yang merupakan mahasiswa dan mahasiswa berlomba mencapai puncak dinding dengan catatan waktu tercepat.
Lomba ini digelar EIGER Climbing Club Surabaya berkolaborasi dengan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Surabaya. Mulai dari sistem lomba, jalur panjat, hingga alat keamanan.

Penanggung jawab EIGER Speed Climbing Competition, Galih Donikara menyatakan lomba ini merupakan upaya EIGER mengajak para anggota Mapala se-Jatim terlibat dalam penjaringan bibit-bibit panjat tebing. Diharapkan dari lomba yang digelar di sela kegiatan INDOFEST Surabaya ini dapat lahir atlet-atlet baru panjat tebing dari Mapala.
BACA JUGA:
Hadir di INDOFEST Surabaya, EIGER Siapkan Banyak Kejutan
Selain itu, kata Galih, lomba ini juga sebagai pengingat bersama bahwa keberadaan kejuaraan panjat itu dimulai oleh Mapala. Tidak sedikit nama-nama besar di dunia panjat tebing Indonesia lahir dari Mapala.
“Kini, karena olahraga ini semakin dekat dengan masyarakat, atlet panjat Indonesia lahir dari banyak jalur, bahkan di tempat gym saja sekarang ada papan panjat. Lewat lomba panjat antara Mapala se-Jatim ini, kita ingin mengembalikan ruh itu, bahwa Mapala bisa menciptakan atlet panjat hebat,” ungkap Galih.
Jelang sore, babak final berlangsung ketat. Jarak waktu yang tercatat di papan penghitung hanya terpaut beberapa detik antar pemanjat.
Dari kategori speed classic putra dan speed classic putri yang dilombakan, muncul masing-masing tiga nama finalis.
“Masuk final nggak nyangka banget. Padahal persiapan kami baru sebentar. Padahal ini juga bukan jadi hobi saya. Pas jadi mahasiswa baru coba masuk Mapala, coba panjat, eh kok ketagihan, daftar lomba kok malah masuk final,” cerita Dwi Deska Wulandari, mahasiswi IAIN Ponorogo yang terpilih hingga fase final hingga berdiri di podium juara tiga.

Galih Donikara mengatakan, laga final yang seru menghadirkan tiga atlet panjat laki-laki. Usianya masih hitungan 19 dan 20 tahun, namun kecepatan dan ketangguhan pemanjat profesional sudah nampak.
“Juara satu dari kategori laki-laki akhirnya dimenangkan oleh Krisna Saputra Hidayat dari Impafe (Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Ekonomi) Universitas Panca Marga Proboliggo. Sementara juara dua dari kategori perempuan dimenangkan oleh Sheila Kartikaning Anggraeni asal dari MUPALAS Universitas Muhammadiyah Surabaya,” ujar Galih.
BACA JUGA:
INDOFEST Surabaya 2023 Resmi Dibuka, Hadirkan Beragam Promo dan Aktivitas Menarik
Krisna Saputra Hidayat, pemegang catatan tercepat dan mendapatkan medali emas dalam ajang kejuaraan ini mengatakan, sudah sejak usia 13 tahun ia memang bercita-cita jadi atlet panjat profesional. Berangkat dari Probolinggo menggunakan sepeda motor membonceng kawannya, Krisna bisa bawa pulang medali emas.
“Alhamdulillah, terima kasih EIGER sudah menghadirkan kejuaraan ini. Saya bisa bawa pulang medali emas ke Probolinggo. Saya gabung di Mapala untuk meneruskan hobi dan cita-cita jadi atlet panjat profesional. EIGER luarbiasa bisa bikin lomba seperti ini antar Mapala, daftarnya pun gratis, semoga dalam waktu dekat ada lagi kejuaraan seperti ini,” pungkas Krisna. [beq]






