Sidoarjo (beritajatim.com) – Banyak horrorphile (penyuka film horor) penasaran dan juga kebenaran film Di Ambang Kematian, yang disebut diambil sebuah kisah nyata dan tempat kejadiannya di Sidoarjo.
Film horor karya sutradara Azhar Kinoi Lubis dan penulis skenario Erwanto Alphadullah itu mulai tayang sejak Senin (28/9/2023) di bioskop Indonesia.
Film horor baru ini dibuat berdasarkan sebuat utas di laman X yang diunggah akun @JeroPoint pada 2022. Ceritanya, seorang kepala keluarga terlanjur menempuh jalan hidup meraup kekayaan dengan cara instan menggunakan pesugihan mirip kandang bubrah, yang setiap tahun rumahnya diperbarui.
Berikut cerita film Di Ambang Kematian yang beredar di bioskop-bioskop. Film ini mengisahkan keluarga Nadia yang terdiri dari Bapak Suyatno (Teuku Rifnu Wikana), Ibu (Kinaryosih), Yoga (Wafda Saifan), dan Nadia (Taskya Namya), dalam film seorang siswi sekolah di SMAN 1 Sidoarjo.
Mulanya, Yoga dan Nadia melihat bapaknya masuk ke dalam suatu ruangan dengan membawa sebuah karung. Dan karung itu tiba-tiba jatuh dan di dalamnya berisi kepala kambing yang tampak lepas keluar dari karung.

Setelah memergoki sang bapak, tak lama kemudian sang ibu tewas secara mengenaskan di tahun baru 2002. Setelah kematian sang ibu, Yoga dan Nadia sering mengalami kejadian teror dari makhluk halus yang menyeramkan.
Ritual pesugihan yang dilakukan bapaknya, ternyata meminta tumbal setiap 10 tahun sekali. Hanya tinggal nunggu waktu untuk kematian Yoga dan Nadia, atau keduanya Di Ambang Kematian.
BACA JUGA:
Sinopsis Film Hati Suhita, Cinta Rumit di Pesantren
Hingga hari berikutnya, Yoga juga mengalami gangguan kesehatan, sehingga harus dibawa ke psikiater. Atas kejadian teror tersebut, Yoga dan Nadia mencurigai sang bapak melakukan kegiatan pesugihan untuk mendapatkan kekayaan.
Yoga dan Nadia mencoba memprotes langkah bapaknya, namun keduanya tak berdaya dan harus tetap nurut pada sang bapak.
Dari terusnya teror yang dialami oleh Yoga, dia akhirnya datang ke tempat ritual sang bapak dan mengobrak abrik tempat ritual. Setelah kejadian, Yoga semakin mengalami gangguan dan meninggal pada tahun 2012.

Kematian Yoga membuat Nadia dan bapak ya merasa kehilangan. Dan sang bapak menyesalkan perbuatan Yoga yang telah memporak-porandakan tempat ritual yang ada.
Setelah kematian sang ibu dan Yoga dalam setiap 10 tahun, sang bapak dan Nadia akhirnya nekat menjual semua kekayaan yang didapatkan. Semua isi toko yang setiap hari pembelinya berjubel, dijual, termasuk mobil mewah yang dimiliki dijual.
Bapaknya dan Nadia berniat menyedekahkan semua uang hasil penjualan ke tempat yayasan dan lainnya untuk kebaikan. Keduanya berkeliling mencari orang pintar agar bisa lepas dari tumbal pesugihan.
Namun apa yang didapat, kata seorang nenek ditemui saat berkeliling, usaha tersebut tidak ada gunanya karena sudah terlanjur bercengkerama dengan setan. Upaya kamu ini sia-sia. Ibaratnya kamu mau bersuci tapi menggunakan (maaf) air kencing. Dan di tahun 2022 nanti, anak kamu juga akan mengalami hal sama seperti kakaknya.
Mendengar pengakuan sang nenek yang sedang menyapu halaman rumahnya itu keduanya histeris, terutama Nadia. Tepat di tahun 2022, Nadia meninggal karena gangguan mistis seperti yang dialami oleh sang kakak.

Dari kisah di atas, beritajatim.com mendengar secara seksama kaitannya desas-desus soal cerita sebuah keluarga yang berada sebuah desa di Kecamatan Tanggulangin.
Salah satu sumber menyebutkan, kisah dalam film Di Ambang Kematian mirip cerita keluarga H di kawasan Tanggulangin. Dulu itu keluarga itu ekonominya hanya biasa-biasa. Setelahnya secara cepat berubah menjadi hartawan alias kaya. Anak perempuannya juga sekolah di SMAN 1 Sidoarjo, dan meninggal 2022 lalu.
Keluarga itu juga pernah buka toko di tempat lain. Setiap hari pembelinya tidak pernah sepi. Sontak perubahan segala hal yang begitu mencengangkan itu, membuat warga lainnya bertanya-tanya dan bahkan menaruh curiga.
BACA JUGA:
Rating Tinggi di Netflix, Ini Sinopsis Film Gadis Kretek
“Keluarga itu juga sering mengadakan hajatan dengan menyembelih kambing. Lalu daging kambingnya dibagi-bagikan kepada tetangga dan hajatan yang sama juga kerap dilakukan oleh keluarga tersebut. Pokoknya sering hajatan dan setiap tahun rumahnya diperbaiki (renovasi red,) ungkap MB tetangganya.
Ia bercerita, sewaktu kecil, pernah juga main dan masuk ke rumah keluarga tersebut. Berjalan ke sana kemari dan melihat ruangan. Namun oleh keluarga tersebut dilarang masuk dari ruangan satu ke lainnya.
“Waktu kecil saya pernah masuk dan melihat ruangan-ruangan dalam rumah tersebut, terus ada yang mencegah. Lah filling saya, apakah ruang yang dulu akan dimasuki itu yang dibuat untuk ritual,” lanjut MB sambil mengingat masa kecilnya dulu.

MB meyakini kisah yang difilmkan itu mirip dengan keluarga yang tinggal tidak jauh dari rumahnya itu. “Kalau di RT sini, bukan rahasia umum soal cerita keluarga tersebut,” tukasnya.
Sekarang ini, lanjutnya rumah megah yang menghadap ke sawah itu kosong tiada yang menempati. Hanya saja setiap sore, rumah itu kadang halamannya yang luas, dibuat anak-anak kecil bermain bola.
Disinggung soal kondisi tuan rumah yang tinggal seorang bapak, kabarnya juga sudah meninggal dan disemayamkan di daerah lain, bukan di desanya. “Soal bapak H, konon ada yang mengatakan sudah meninggal dan dikebumikan di daerah lain,” sebutnya.
MB juga tidak membenarkan cara-cara instan dalam mencari rezeki dengan cara melalui jalur luar norma agama atau dengan kesesatan. [isa/beq]






