Ngawi (beritajatim.com) – Kebakaran hutan Gunung Lawu di wilayah Ngawi bermula dari wilayah Desa Girimulyo Kecamatan Jogorogo Kabupaten Ngawi. Sampai 10 hari terbakar, api sudah menjalar ke Kecamatan Kendal dan wilayah Kabupaten1 Magetan. Untuk ke arah barat, sudah menjalar ke Kecamatan Ngrambe dan Sine, serta sampai Karanganyar, Jawa Tengah.
Masyarakat Ngawi mulai was-was dengan dampak kebakaran hutan. Utamanya, banjir bandang yang tak hanya air bah saja, tapi juga membawa gelondongan kayu dan rencek kayu sisa kebakaran. Banjir bandang itu dikhawatirkan tak hanya berdampak pada lahan pertanian dan perkebunan, tapi juga pemukiman.
Agus Fathoni, pemerhati kebijakan pemerintah Ngawi mendorong Pemkab Ngawi segera melakukan pemetaan potensi bencana imbas karhutla. Luasan hutan yang rusak terbakar di Ngawi diperkirakan lebih dari 1.500 hektar per 8 Oktober 2023.
Baca Juga: Adu Cepat Memikat Khofifah, Kemana Hati Ketum Muslimat Tertambat?
“Karena luasan yang diperkirakan lebih dari 1.500 hektar ini, potensi bencananya bisa jadi berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sehingga, harus segera dipetakan, apalagi bulan November diperkirakan sudah masuk musim hujan,” kata Agus, Minggu (8/10/2023)
Pria yang akrab disapa Atong itu juga meminta Pemkab Ngawi harus segera memetakan jalur evakuasi di wilayah yang berpotensi terdampak banjir bandang.
“Hasil pemetaan itu nanti harus segera disampaikan ke desa-desa yang berada di lereng gunung Lawu. Supaya mereka segera waspada dengan dampak yang mungkin terjadi saat musim penghujan nanti,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko mengatakan, baru pertama kali ini kebakaran hutan di Gunung Lawu memakai skema water bombing mrnggunakan helikopter.
Baca Juga: Diusulkan Jadi Event Nasional, 36 Motif Batik Kontemporer Pembatik Kota Mojokerto Tampil di Mojo Batik Festival 2023
Menurutnya, beberapa tahun kejadian karhutla belakangan, Ngawi hanya mengalami dampak akibat titik api yang bermula di wilayah Magetan atau Karanganyar. Namun, kali ini Ngawi jadi titik utama munculnya api hingga berdampak pada daerah lain.
“Tahun 2023 ini beberapa kejadian sudah kami padamkan, tapi seminggu lalu dilakukan dengan teknik konvensional tidak bisa dilakukan. Biasanya dengan pengerahan masyarakat TNI Polri dan gabungan bisa dipadamkan tetapi yang ini dari musim kemarau berkepanjangan, angin, jadi terkendala,” kata Mas Antok, sapaan akrab Dwi Rianto Jatmiko, saat ditemui di Lapangan Ajinegoro Desa Sidorejo, Kendal, Ngawi, Rabu (4/10/2023)
“Baru kali ini parah, biasanya dua sampai sepuluh hektar saja sudah bisa padam dengan cara konvensional. Namun, kali ini water bombing memang diperlukan. Kami berterimakasih karena dapat support dari BPBD Jatim dan Jateng serta BNPB yang mengerahkan helikopter,” lanjut pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Ngawi itu.
Baca Juga: Diterpa Angin Kencang, Rumah di Karanganyar Ngawi Roboh
Saat ini, pihaknya segera memikirkan dampak dari rusaknya 1.250 hektar hutan lindung di Gunung Lawu akibat terbakar. “Akan segera kami ukur, karena ini yang terbesar dari beberapa kejadian karhutla di tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
Sebelumnya, Komandan Kodim 0805 Ngawi sekaligus Komandan Satgas Penanganan Karhutla Gunung Lawu Letkol Arm Didik Kurniawan mengungkapkan upaya water bombing yang dilakukan di Petak 41 (sebelumnya ditulis 42) Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Campurejo masuk Desa Karanggupito Kecamatan Kendal Kabupaten Ngawi berjalan efektif.
Dari pantauan pasukan darat, sebanyak 17 kali siraman dalam sekali terbang, sudah cukup efektif mengurangi api yang menjalar ke kawasan bawah atau menuju ilaran dekat hutan produksi.
Baca Juga: Pastikan Yakult Halal dan Tidak Najis, KH Marzuqi Mustamar: Silahkan Diminum
“Water bombing tadi pagi mulai pukul 10.00 WIB sampai pukul 13.30 WIB. Pantauan dari pasukan darat, sudah cukup efektif. Bisa dilihat kepulan asap sudah mulai berkurang di RPH Campurejo,” kata Didik saat ditemui di Lapangan Desa Sidorejo, Kendal, Ngawi, Jawa Timur, Rabu (4/10/2023)
Selanjutnya, pada kloter berikutnya dilakukan support pemadaman titik api Gunung Lawu yang masuk di kawasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Karena, masuk dalam prioritas.
“Pengambilan air tetap dari Sengon Hill. Support pemadaman ini berdasarkan dari rapat koordinasi lintas wilayah. Yakni dari Ngawi, Magetan, dan Karanganyar di Jawa Tengah. Diputuskan bahwa pada penerbangan di sore hari ini difokuskan bombing di wilayah Karanganyar,” lanjut mantan Komandan Batalyon Artileri Medan 12 Ngawi itu.
Meski sementara tak ada support pemadaman dari udara, pihaknya tetap mengerahkan 200 orang pasukan darat untuk memantau dan melakukan penanganan di titik api yang belum benar-benar padam.
“Khususnya yang masih terdapat bara api, kalau terkena angin lagi kan bisa menyala lagi jika kondisi cuaca angin. Kemudian, saat ini tidak ada laporan muncul titik api di lokasi lain,” pungkasnya. [fiq/ian]






