Surabaya (beritajatim.com) – Nama Khofifah Indar Parawansa jadi magnet jelang pendaftaran Pilpres 2024, yang kurang beberapa hari ini. Mengapa Khofifah yang diperebutkan? Mengapa harus Jawa Timur yang harus ‘direngkuh’, selain Jawa Tengah dan Jawa Barat?
Khofifah adalah Ketua Umum Muslimat NU. Jumlah anggota Muslimat NU hampir mencapai 32 juta yang tersebar di 34 Pimpinan Wilayah (Tingkat Provinsi), 532 Pimpinan Cabang (Tingkat Kabupaten/Kota), 5.222 Pimpinan Anak Cabang (Tingkat Kecamatan), dan 36.000 Pimpinan Ranting (Tingkat Kelurahan/Desa).
Selain itu, suara Khofifah saat berpasangan dengan Emil Dardak mengungguli pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno (Gus Ipul-Puti) pada Pilgub Jatim 2018. Khofifah-Emil meraup 10.465.218 suara (53,55 persen), sedangkan Gus Ipul-Puti 9.076.014 suara (46,45 persen) atau selisih 7,11 persen.
Berdasarkan data rekapitulasi final di KPU Jatim, Khofifah-Emil berhasil unggul di 27 kabupaten/kota, sisanya 11 daerah mengalami kekalahan.
Siapa yang berhasil menguasai suara Jawa, termasuk Jawa Timur bisa dipastikan dialah pemenangnya. Merujuk Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2024 yang diterbitkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih di Pulau Jawa mencapai 115.373.669 orang. Setara dengan 56,33 persen dari total jumlah pemilih nasional. Menang di Jawa sama saja memenangkan Pilpres 2024. Jawa adalah kunci!
BACA JUGA:
JAKA Dorong PDIP Duetkan Ganjar dengan Khofifah
Simak juga hasil survei Litbang Kompas periode 27 Juli-7 Agustus 2023 yang memotret dominasi Ganjar Pranowo di Jawa. Elektabilitasnya mencapai 39,6 persen. Mengungguli Prabowo Subianto dengan 28,8 persen dan Anies Baswedan 16,7 persen.
Angka ini tentunya didapat sebelum Anies deklarasi resmi berpasangan dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar pada 2 September di Hotel Majapahit Surabaya. PKB sendiri adalah parpol yang berjaya di Jatim, bersama PDIP.
Menurut survei Litbang Kompas itu, elektabilitas Ganjar dominan di Jawa Tengah, Jawa Timur dan DI Yogyakarta. Sementara Prabowo punya pengaruh besar di Banten dan Jawa Barat. Anies berkuasa di DKI Jakarta. Itulah mengapa Anies memilih Gus Muhaimin Iskandar sebagai pasangannya. Ini karena Anies ingin merebut suara di Jatim, yang merupakan basis kuat NU.
Kembali lagi ke nama Khofifah. Belum lama ini sumber beritajatim.com mengungkapkan, bahwa Khofifah telah dipanggil Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Sebelum bertemu Khofifah, Megawati sendiri telah bertemu dengan Presiden Jokowi. Pertemuan Megawati dengan Khofifah diperkirakan membicarakan soal Pilpres 2024.
Khofifah sendiri ketika ditanya wartawan, lebih memilih running Pilpres 2024 atau Pilgub Jatim 2024, hingga saat ini masih menyimpan rapat-rapat langkah politiknya. “Ya Allah, Rek. Ya Allah, Rek. Aku tak ngurus Jawa Timur yo, Rek (Saya mengurus Jawa Timur saja ya),” tegas Khofifah singkat kepada wartawan. Jawaban ini belum bisa dipastikan bahwa Ketum IKA Unair ini akan running Pilpres atau Pilgub Jatim 2024.
BACA JUGA:
Prabowo, Ganjar, dan Khofifah Tidak Hadir Resepsi Pernikahan Denny Caknan di Ngawi
Khofifah menyatakan masih ada banyak hal yang harus ia selesaikan sebagai Gubernur Jatim. Di sisa masa jabatannya hingga Desember 2023 bersama pasangannya Emil Dardak, Khofifah ingin bekerja sebaik mungkin untuk kesejahteraan masyarakat di Jatim.
Menurut catatan beritajatim.com, pertemuan Khofifah dengan Ganjar dibandingkan Khofifah dengan Prabowo, memang lebih sering Khofifah bertemu Prabowo. Sebanyak 3-4 kali Prabowo bertemu Khofifah. Mulai Prabowo yang mendatangi Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya, bertemu di Restoran de Soematra Surabaya dan mengutus orang-orangnya untuk bertemu Khofifah. Seperti Sekjen Gerindra Ahmad Muzani, Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra Hashim Djojohadikusumo dan Gus Miftah (Pimpinan Ponpes Ora Aji Sleman, Yogyakarta).
Informasi yang diperoleh beritajatim.com, ketika dirayu Prabowo agar mau menjadi cawapresnya, Khofifah selalu menegaskan, bahwa dirinya menunggu titah atau perintah dari ‘Pak Lurah’. Pak Lurah yang dimaksud adalah Presiden RI Jokowi. Selain itu, Khofifah juga menunggu petunjuk dan restu dari sejumlah kiai sepuh maupun PBNU. Mengingat Khofifah adalah salah seorang Ketua PBNU.
Nama Khofifah adalah salah satu nama bakal cawapres yang disodorkan Prabowo ke sejumlah kiai khos NU dari pondok pesantren besar di Jatim. Ini setelah Gus Muhaimin dan PKB ‘melepaskan diri’ dari Koalisi Prabowo, sejumlah kiai memang berharap Prabowo agar menggandeng wakil dari NU. Nama itu adalah Khofifah. Selain Khofifah, memang ada nama Erick Thohir dan Sandiaga Uno. Kedua nama terakhir ini dianggap ‘NU naturalisasi’.
BACA JUGA:
Jokowi Ketemu Khofifah, Pengamat: Jokowi Ingin Punya Banyak Pilihan Calon Pendamping Ganjar
Khofifah menegaskan, belum mengambil keputusan soal tawaran menjadi bakal calon wakil presiden (cawapres) pada Pemilu 2024. Penegasan itu disampaikan ketika ditanya tentang sejumlah partai politik (parpol) yang berkomunikasi kepadanya soal peluang dirinya bakal menjadi cawapres.
“Kita endapkan dulu sampai pada proses konfirmasi proses pengambilan keputusan bersama, sehingga saat ini tidak pada posisi ‘yes or no’ (ya atau tidak),” kata Khofifah menjawab media di sela acara ‘Gathering Alumni Unair’ di Jakarta, awal Agustus 2023.
Ia menyebut akan meminta pendapat sejumlah tokoh dan ulama untuk membuat atau bahkan menerima tawaran tersebut. “Saya bukan siapa-siapa. Saya akan sowan (berkunjung) minta pendapat dan nasihat para ulama, para kiai,” ucapnya.
Khofifah juga menyebutkan bahwa dirinya adalah salah satu pengurus di PBNU, sehingga terkait langkah-langkah kebijakan ke depan juga akan didiskusikan secara organisasi. Langkah langkah yang terkait dengan kebijakan organisasi harus mendapatkan ‘green light’ (lampu hijau). “Itu belum, jadi perlu konfirmasi dan klarifikasi,” ucapnya.
BACA JUGA:
Gus Miftah Temui Khofifah, Soal Cawapres atau Timses Prabowo?
Wanita kelahiran 19 Mei 1965 ini juga tidak mau menjawab dengan pasti soal dirinya apakah memilih kembali bertarung di pemilihan gubernur atau pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres).
“Nanti saja, karena saya menjadi bagian dari ekosistem itu. Nanti, akan ada ‘green light’ dari PBNU dan ulama-ulama yang selama ini memang konsolidasi sesama ulama dan tidak hanya persoalan politik,” katanya.
Ia juga belum bisa mengonfirmasi apakah dirinya bersedia menjadi tim pemenangan salah satu capres, jika tidak menjadi cawapres. “Saya ini Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama yang anggotanya sekitar 32 juta. Harus ada kesepahaman dulu. Jadi, tidak sesederhana itu (menjadi tim pemenangan),” ucapnya.
Sumber di internal Gerindra mengungkapkan, Khofifah menjadi pilihan kedua Prabowo sebagai cawapres, setelah Gibran Rakabuming Raka. “Nama Gubernur Jatim Ibu Khofifah memang menguat. Ini jika Mas Gibran tidak bersedia menjadi cawapres. Kita sama-sama masih menunggu keputusan MK soal batasan usia,” tuturnya.
Ada empat nama cawapres yang menjadi pilihan Prabowo. Yakni, Gibran Rakabuming Raka, Khofifah Indar Parawansa, Erick Thohir dan Airlangga Hartarto.
BACA JUGA:
Demokrat Dukung Prabowo, Pengamat: Khofifah Berpeluang Cawapres
Sedangkan di kubu Ganjar Pranowo, empat nama juga bakal bersaing sebagai cawapres. Yakni, Khofifah Indar Parawansa, Mahfud MD, Sandiaga Uno, dan Andika Perkasa. Sumber lain juga menyebutkan, ada tambahan satu nama lagi, yakni Rois Aam PBNU KH Miftachul Akhyar (Kiai Miftah) yang juga Pengasuh Ponpes Miftachus Sunnah Kedung Tarukan Surabaya.
“Ini mengulang keberhasilan dan kemenangan Pak Jokowi yang menggandeng Kiai Ma’ruf Amin saat Pilpres 2019. Saat itu, Kiai Ma’ruf adalah Rois Aam PBNU. Jika ingin menang, Pak Ganjar juga harus menggandeng wakil dari NU. Bisa Kiai Miftah, Bu Khofifah atau Pak Mahfud MD,” ujar sumber itu.
Siapa yang berhasil memikat Khofifah untuk menjadi pasangannya di Pilpres 2024, Ganjar atau Prabowo? Jika tidak menjadi cawapres, kemana arah dukungan politik Khofifah yang memiliki anggota 32 juta Muslimat NU ini? Menarik untuk kita tunggu dalam beberapa hari ke depan. Kemana hati Ketum Muslimat bakal tertambat? [tok/suf]






