Lamongan (beritajatim.com) – Forum Komunikasi (Forkom) Nelayan Rajungan Nusantara Kabupaten Lamongan menggelar studi tiru tentang restocking rajungan ke Kabupaten Jepara. Hasil dari studi itu nantinya bakal diaplikasikan di Lamongan.
Ketua Forkom Kabupaten Lamongan, Muchlisin Amar mengatakan bahwa studi tiru ini sengaja dilakukan demi menjaga kelestarian rajungan di Lamongan. Pihaknya berterimakasih kepada para nelayan dari Forkom Jepara yang telah menyambutnya dengan ramah dan baik.
Selain itu, ungkap Muchlisin, studi tiru ke Forkom Nelayan Rajungan di Kelurahan Demaan, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah ini didukung penuh oleh ExxonMobil serta Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan.
Muchlisin juga menceritakan, studi ini dilandasi oleh rasa kekeluargaan dan keikhlasan antar nelayan. Dia juga berharap, hasil belajar yang diperoleh dari Jepara bisa diaplikasikan di Kabupaten Lamongan, utamanya para nelayan rajungan di Kecamatan Paciran.
“Di Paciran ada 5 desa yang fokus dalam bidang rajungan, yang terdiri dari 18 kelompok dengan jumlah perahu 576. Studi ini dilandasi keikhlasan dan kekeluargaan,” ujar Muchlisin, saat berada di Sekretariat Forkom Nelayan Rajungan Nusantara Simpul Jepara, ditulis Kamis (5/10/2023).
BACA JUGA: Sekdakab Mojokerto Ingatkan Pentingnya Netralitas ASN Jelang Pemilu Serentak 2024
“Terimakasih kami telah difasilitasi dengan baik. Hasil studi tiru dan belajar tentang manajemen kelompok di Jepara ini semoga bisa diaplikasikan. Semoga juga ikhtiyar ini diberikan kelancaran,” harapnya.
Hal senada juga diungkapkan Kepala Dinas Lamongan Yuli Wahyuono. Menurutnya, Kabupaten Lamongan menjadi salah satu penghasil ikan terbesar di Jatim, baik dari bidang tangkap maupun budidayanya.
“Produksi ikan tangkap Lamongan mencapai 85 ribu ton, sedangkan untuk budidaya mencapai 62 ribu ton. Bahkan, tambah Yuli, Lamongan juga salah satu daerah yang mendapat SK dari pusat terkait rajungan,” ungkap Yuli.
Oleh sebab itu, tambah Yuli, potensi besar di bidang perikanan yang dimiliki oleh Lamongan ini harus dilakukan pembinaan yang lebih baik agar bisa berkelanjutan, dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungannya.
“Maksud dan tujuan kami selain untuk silaturahmi, merajut keakraban, juga untuk menimba ilmu. Sehingga produksi di Lamongan bisa semakin maksimal, khususnya rajungan,” ungkap Yuli.
BACA JUGA: Imbas Karhutla Gunung Lawu, Belum Ada Satwa Liar Turun ke Pemukiman Warga Ngawi
Yuli menceritakan, meski rajungan di Lamongan potensinya besar, namun persoalan datanya masih kurang terinventarisir dan kurang tercatat dengan baik.
Tak cukup itu, beber Yuli, kondisi pesisir Lamongan sekarang juga beda dengan tahun lalu, yakni terdapat peralihan wilayah ke industrialisasi, yang berimbas pada kondisi perikanan di perairan Lamongan.
“Semoga melalui studi tiru ini, kami berharap, nantinya potensi itu dapat tumbuh dengan baik di perairan Lamongan dan menguntungkan secara ekonomi di masa yang akan datang,” harapnya.
Sementara itu, Ketua Forkom Nelayan Rajungan Nusantara Pusat, Mustain mengapresiasi kegiatan studi tiru ini. Dia menilai, kegiatan ini merupakan langkah awal yang baik untuk masa depan perikanan rajungan yang juga akan berdampak positif bagi sektor industri.
“Bangga sekali, Forkom Lamongan bisa hadir di tengah-tengah kita. Apalagi beberapa pemangku kepentingan juga dilibatkan untuk sama-sama berkomitmen menjaga kelestarian rajungan. Intinya, perlu ada komunikasi dan manajemen yang baik,” paparnya.
BACA JUGA: Nikmati Sensasi Halloween yang Menyenangkan di Baobab Safari Resort
Mustain kepada semua pihak yang hadir untuk terus berupaya mengembangkan teknologi dalam budidaya rajungan. Hal itu sebagai solusi jangka panjang pengelolaan perikanan rajungan keberlanjutan.
“Rajungan merupakan komoditas perikanan unggulan Indonesia. Melalui berbagi pengalaman kali ini, untuk menghindari rajungan kecil tertangkap. Hal ini sesuai Permen KP Nomor 16 Tahun 2022,” jelasnya.
“Di sini juga bisa belajar membuat bubu berjendela. Rajungan kecil dengan ukuran karapas di bawah 10 cm dilepas kembali ke alam. Selain mentaati peraturan pemerintah, hal ini juga untuk menjaga rajungan di masa depan,” imbuhnya.
Dalam kesempatan sama, hadir pula pada kegiatan ini perwakilan dari Sustainable Fisheries Partnership (SFP) organisasi nirlaba internasional.
Agus A. Budhiman selaku Penasihat Kebijakan Senior Asia Pasific SFP menyampaikan bahwa SFP terus bekerja untuk tercapainya ekosistem laut yang sehat, pasokan sumber makanan dari laut yang mencukupi, serta peningkatan ekonomi dari sektor perikanan.
BACA JUGA: Damkarla Gresik: Ratusan Lahan Kosong Terbakar di Bulan September
Budhiman berkata, SFP terus mengawal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam mematangkan persiapan penerapan kebijakan penangkapan ikan terukur (PIT). Rencananya, kebijakan tersebut akan mulai dilaksanakan pada awal 2024 mendatang.
“Penerapan PIT yang dijanjikan akan dimulai pada 1 Januari 2024. Proses persiapan itu mencakup juga transisi penarikan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP),” ujar Budhiman.
Lebih jauh, Budhiman berharap, Forkom dapat menjadi mitra pemerintah dengan berkontribusi terhadap pendataan hasil tangkapan rajungan di tingkat nelayan yang dapat menjadi masukan untuk pengelolaan perikanan rajungan yang berkelanjutan.
“Agar saat berjalan pada awal 2024 nanti bisa lancar, maka diperlukan sinergi banyak pihak terkait, termasuk Forkom. Kami dari SFP terus mendorong kepatuhan, melakukan pendampingan ke nelayan, mengembangkan unit usaha seperti koperasi untuk nelayan yang memiliki pembukuan keuangan yang baik,” pungkasnya. [riq/nap]






