Arief Catur Pamungkas seharusnya tahu, kalau Persebaya Surabaya bukan Liverpool. Tindakan cerobohnya menyikut pemain Dewa United, Ady Setiawan, di Stadion Indomilk Arena, Tangerang, Sabtu (30/9/2023), bukan hanya tak sportif dan membahayakan karir pemain lawan. Arief juga membuat Persebaya dalam kesulitan kolektif.
Seharusnya Persebaya bisa memenangi pertandingan sore itu. Unggul lebih dulu melalui kaki Ripal Wahyudi pada menit 17, Persebaya melayani permainan terbuka Dewa United. Permainan kolektif pendek merapat yang diinstruksikan pelatih Josep Gombau merepotkan tuan rumah.
Gara-gara pelanggaran berbuah kartu merah pada menit 38, Persebaya tampil pincang. Dua belas menit setelahnya, menit 45+5, Majed Osman mencetak gol balasan. Osman juga merajalela bersama Alex Martin pada babak kedua.
Josep Gombau mengatakan, situasi permainan Persebaya berubah dengan adanya kartu merah tersebut. “Jika tidak ada kartu merah mungkin hasilnya kita bisa meraih gol dan bisa meraih kemenangan,” katanya.
Pertandingan berakhir 1-1. Beruntung Persebaya masih meraih satu angka, mengingat klub ini tak punya rekam jejak bagus untuk menang dengan sepuluh pemain di lapangan. Persebaya bukan Liverpool yang bisa bangkit dan menang dengan sepuluh pemain, atau bisa mengimbangi Tottenham Hotspur dengan sembilan pemain. “Di babak kedua tidak kebobolan itu cukup bagus,” kata Gombau.
Tambahan hukuman larangan bertanding hingga enam pertandingan untuk Catur merepotkan Gombau dalam menyusun formasi terbaik. Gombau harus melakukan penyesuaian taktik agar Persebaya bisa bermain tetap dengan intensitas yang sama dengan yang sedang dibangun sejak awal melatih. Salah satu pertanyaan besarnya adalah siapa pemain yang memiliki kemampuan sebagus Catur dalam menyerang dari sisi bek sayap?
Sebenarnya Catur dalam beberapa pertandingan terakhir musim ini menunjukkan peningkatan kemampuan. Keberaniannya melakukan penetrasi sering merepotkan pertahanan lawan. Dia juga cukup militan dalam bertahan. Aksi sikutnya terhadap Ady membuat capaiannya seperti mundur beberapa langkah. Mengecewakan.
Sementara di sisi yang lain, belum tajamnya Paulo Victor menyisakan pekerjaan rumah bagi Gombau. Ia tak bisa terus menerus mengandalkan Bruno Moreira untuk mencetak gol. Tim-tim lain jelas akan mewaspadai kemampuan pemain asal Brasil itu. Tentu Gombau tak ingin skema serangan Persebaya mati kutu ketika Bruno dijaga ketat.
Victor harus membuktikan kemampuannya mencetak gol saat melawan Persib Bandung di Gelora Bung Tomo pada pekan ke-15. Terakhir ia mencetak gol, saat Persebaya bermain imbang 2-2 dengan Rans Nusantara di Surabaya, 23 Juli 2023.
Pertandingan melawan Persib akan menjadi ajang pebandingan antara Paulo dengan mantan striker Persebaya David da Silva. Saat Paulo mengalami paceklik, Da Silva justru sudah mencetak 8 gol dalam 12 pertandingan. Melihat performa Paulo, membuat Bonek merindukan Da Silva.
Pertandingan melawan Persib jelas akan menjadi pertandingan big match klasik antara dua tim eks Perserikatan. Saatnya bagi para pemain Persebaya untuk menyadari, bahwa mereka bukan Liverpool yang bisa membalik keadaan kendati bertanding dengan 10 pemain. Jadi jangan sampai ada kecerobohan serupa sebagaimana dilakukan Catur. [wir]






