Jember (beritajatim.com) – Kondisi bibir sumbing banyak ditemui pada masyarakat di kawasan sekitar pegunungan di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Pestisida dicurigai menjadi faktor penyebab.
Ini didasarkan pada hasil pemetaan kelompok riset kelainan kongenital Fakultas Kedokteran Unej. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Jember Ulfa Elfiah mengatakan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan bibir sumbing. “Bisa karena keturunan, bisa karena faktor lingkungan. Ini yang masih terus kita kaji,” katanya, di sela-sela kegiatan operasi bibir sumbing yang dilaksanakan Fakultas Kedokteran Universitas Jember dan Universitas Airlangga, di Rumah Sakit Paru Jember, 29 September – 1 Oktober 2023.
Banyaknya penderita bibir sumbing di daerah oegunungan, dikarenakan pengaruh pestisida yang digunakan dalam pertanian dan perkebunan. “Pestisida ini diduga menimbulkan kerusakan pada gen-gen tertentu yang dibawa sperma maupun indung telur. Itu yang sedang kami kaji terus. Itulah pentingnya kami bekerja sama, antara institusi pendidikan dengan rumah sakit,” kata perempuan ayu kelahiran Bondowoso, 19 Juli 1976 ini.
Winarno Dodo Saputro, dari departemen bedah plastik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, membenarkan, bahwa penyebab bibir sumbing masih belum diketahui pasti. “Tapi diperkirakan bahwa kekurangan vitamin, terutama asam folat, menjadi salah satu penyebabnya,” katanya.
Penyebab lainnya adalah faktor genetik. “Jadi kemungkinan dari nenek atau kakeknya ada yang menderita bibir sumbing, kemungkinan besar dia bisa menderita juga,” kata Winarno.
Penelitian terbaru menunjukkan kelainan ini disebabkan oleh gen. “Gen ini bisa rusak kalau nutrisinya kurang bagus,” kaya Winarno. Tengkes akan merusak gen sehingga akan menimbulkan cacat bawaan.
Saat trimester pertama kehamilan, seorang wanita mengalami mual dan muntah, sehingga mengalami kekurangan vitamin. “Ibu-ibu hamil pada trimester pertama diharapkan segera berkonsultasi ke bidan atau dokter untuk mendapatkan vitamin-vitamin yang diperlukan untuk pengembangan janin. Saya kira dengan pemberian janin dan nutrisi yang baik, ini bisa dicegah, sebuah upaya preventif terjadinya bibir sumbing,” kata Winarno.
Saat ini pemerintah berusaha menangani bibir sumbing, salah satunya melalui operasi yang dilaksanakan di Rumah Sakit Paru. Rumah Sakit Paru sudah mengoperasi sekitar 200 orang pasien bibir sumbing setahun terakhir. Operasi bibir sumbing gratis sudah berjalan selama tujuh tahun. “Ini wujud kehadiran Pemerintah Provinsi Jawa Timur bagi pasien bibir sumbing,” kata Direktur RS Paru Sigit kusuma Jati.
Operasi pertama perbaikan bibir sumbing dilakukan saat anak berusia tiga bulan, yang kemudian dilakukan lagi pada usia enam bulan dengan memperbaiki langit-langit mulut. “Setelah itu baru dilakukan tindakan lainnya untuk memperbaiki rahang, geligi, dan penampakannya,” kata Ulfa.
Dengan operasi ini, Ulfa mengatakan, ada harapan baru untuk anak-anak penderita bibir sumbing dengan kondisi fisik yang lebih baik daripada kondisi sebelumnya. “Sehingga mereka bisa memiliki masa depan lebih baik secara psikis maupun sosial,” katanya.
Fasilitas operasi bibir sumbing di RS Paru Jember setara dengan fasilitas di RS dr. Soetomo Surabaya. “Kami berkolaborasi dengan pemerintah daerah. Kami juga melakukan kegiatan langsung di lapangan. Hasil pelayanan dan penelitian kami koordinasikan dengan Dinas Kesehatan Jember melalui puskesmas. Pada saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) kami kirim adik-adik untuk mengedukasi,” kata Ulfa yang juga dokter spesialis bedah plastik. [wir]






