Jember (beritajatim.com) – Pertempuran antara India melawan Pakistan, 7-10 Mei 2025, memakan banyak korban warga sipil. Namun warganet memaknai pertempuran itu seperti video game dengan keberpihakan yang hitam-putih.
“Di dunia maya, fenomena yang disoroti oleh banyak netizen internasional justru bukan pada kepedihan terjadinya perang, tapi pada perang teknologi dan propaganda,” kata Agus Trihartono, guru besar Hubungan Internasional Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (20/5/2025).
Warganet di platform media sosial banyak membicarakan adu canggih pesawat tempur Rafale milik India dengan J-10 milik Pakistan.
“Penembakan Rafale oleh J-10 juga mencerminkan pergeseran geopolitik, di mana China dan Pakistan memiliki hubungan strategis yang erat, termasuk di dalam kerja sama militer. Ini menarik karena dunia menganggap ini sebagai bagian dari rivalitas China dengan India yang merupakan mitra dekat Amerika Serikat,” kata Agus.
Media sosial memperkuat efek visual pertempuran dengan rekaman foto, video dan perangkat lunak lainnya yang membuat publik terhubung secara emosional. “Apalagi di situ ada pilot perempuan, muslim. Indonesia adalah negara muslim, sehingga merasa terhubung secara emosional,” kata Agus.
Susah untuk mengendalikan media sosial tentu saja. Namun Agus menilai pemaknaan netizen di media sosial bisa mengaburkan akar utama konflik.
“Jadi fokus pada insiden seperti ini berisiko mengalihkan perhatian masyarakat internasional dari isu yang lebih mendasar, seperti penderitaan warga sipil di Kashmir, pelanggaran hak asasi manusia atau kebutuhan terhadap dialog damai,” katanya.
Kesalahan fokus, menurut Agus, justru berpotensi menambah ketegangan geopolitik. “Narasi tentang jet tempur ini dapat memperuncing sentimen antara kubu pro-China dan pro-Barat, yang sebenarnya tidak secara langsung relevan dengan solusi konflik yang harusnya kita cari dalam kasus India-Pakistan,” katanya.
Di sinilah Agus memandang perlunya edukasi terhadap publik. “Media lokal harus memberikan narasi yang berimbang, menjelaskan akar persoalan konfliknya, apa dan dampaknya bagi masyarakat,” katanya.
“Bukan hanya di cerita seperti main gamem bahwa ada pesawat yang ditembak, pakai radar yang seperti ini atau itu. Memang itu menarik, tapi kan akar persoalannya bukan di situ,” kata Agus. [wir]






