Jember (beritajatim.com) – Anies Rasyid Baswedan mendapat sambutan hangat saat berkunjung ke Pondok Pesantren Nurul Islam di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dan bertemu dengan para ulama, Kamis (28/9/2023).
Anies datang bersama calon wakil presiden Muhaimin Iskandar. Dalam orasi politiknya, ia mengatakan, perubahan yang didengungkannya bukan sekadar perubahan nama presiden dan wakil presiden. “Tapi perubahan di dalam cara kita menjalankan pembangunan. Kita ingin pembangunan ke depan setara,” katanya.
Berikut transkrip teks pidato Anies Baswedan.
Alhamdulillah, saya bersyukur sekali. Seperti yang disampaikan Gus Imin, kami serombongan hadir untuk silaturahmi. Kami hadir untuk memohon doa, karena kami akan menjalani sebuah perjuangan baru yang insyallah misi yang kita emban ini adalah misi yang akan membawa kemaslahatan bagi kita semuanya.
Tadi Gus Imin sudah cerita bagaimana kejadiannya. Saya nambahi boleh ya?
Jadi pas tanggal 16 Agustus 2023, kalau kejadian kita ketemu deklarasi 2 September 2023. Tanggal 16 Agustus itu, Kiai Cholil, Ra Cholil Situbondo kirim utusan ke Jakarta. Yang dikirim itu adalah Kiai Abdul Qodir Syam dari Bondowoso. Beliau bilang ada pesan dari Kiai Cholil harus disampaikan langsung. Itu tanggal 17 Agustus bukan 16. Padahal tanggal 17 Agustus itu pas tujuhbelasan pas mepet dan ndilalah saya mau terbang ke Solo. Akhirnya ketemunya di bandara.
Beliau menyampaikan: Pak Anies, ini ada pesan dari Kiai Cholil. Pesannya beliau dapat isyarah kemarin malam, harus disampaikan, bahwa pasangan panjenengan itu adalah Gus Muhaimin Iskandar.
Lha saya pas mendengar itu, membatin: gimana nyambungnya ya? Gimana ya cara nyambungnya. Lha yang sana sedang mesra-mesranya menjelang ijab qobul. Masa ditarik begitu? Kira-kiranya kan begini: janur kuningnya sedang dirangkai to? Belum dipasang memang janur kuningnya. Memang sebelum dipasang bisa diambil. Piye iki yo carane?
Gak terbayang saya. Tapi beliau itu sangat yakin Ra Cholil. Saya tanya ada pesan lainnya gak? Gak ada, cuman itu saja. Jadi lima menit pesan disampaikan, selesai. Dan saya tidak tahu, tiga tahun sebelumnya pesan itu disampaikan kepada Gus Imin. Beliau gak cerita.
Jadi ketika kemudian di ujung bulan Agustus terjadi seperti yang diceritakan Gus Imin, saya sampaikan, ini kelihatannya ini bukan perjodohan yang diatur manusia saja. Ini ada yang Maha Mengatur, mengatur semuanya dan terjadilah sekarang yang kita jalani ini.
Karena itu kami yakin insyallah bila para kiai, para nyai, para hadirin mendoakan, insyallah rido itu diberikan dan insyallah dwitunggal ini akan berangkat bersama untuk menunaikan yang dijanjikan kemerdekaan ini.
Kami bekerja bersama sekarang sebagai dwitunggal meneruskan perjuangan orang tua – orang tua kita dulu. Ketika orangh tua – orang tua kita dulu berjuang, mereka berjuang menggulung kolonialisme. Giliran anak-anak dan anak-anaknya berjuang untuk menggelar kesejahteraan dan keadilan.
Yang satu menggulung kolonialisme karena itu tidak adil, tidak menyejahterakan. Dan sekarang bagian kita menggelar kesejahteraan, menggelar rasa keadilan. Karena kita merasakan ketimpangan.
Jadi perubahan ini bukan perubahan nama presiden, bukan perubahan nama wakil presiden. Karena kalau itu sudah pasti terjadi. Wong periodenya habis. Tapi perubahan di dalam cara kita menjalankan pembangunan. Kita ingin pembangunan ke depan setara, semua mendapatkan kesempatan yang sama. Jangan dibeda-bedakan, sehingga kemajuan itu hanya dirasakan sebagian. Kita ingin kemajuan itu dirasakan semua.
Dan kita ingin ada perasaan bersatu dalam ketenangan, keteduhan. Persatuan itu tidak bisa dibangun dalam suasana ketimpangan. Setuju? Tidak ada persatuan dalam ketimpangan. Kalau panjenengan punya contohnya saya ingin lihat, tempat mana ada persatuan dalam ketimpangan. Tidak ada. Persatuan selalu dalam suasana keadilan. Insyallah ini yang kita ikhtiarkan.
Itulah sebabnya yang kita emban sama-sama itu misi, bukan sekadar target. Target itu untuk diraih. Kalau misi itu untuk dilaksanakan. Misinya: kita ingin Indonesia yang adil. Indonesia yang damai. Indonesia yang bersatu.
Untuk itu kita perlu kewenangan. Tanpa kewenangan, itu tidak bisa dilaksanakan. Dan kewenangan ini didapat lewat proses demokratis. Dan alhamdulillah, dengan bergabungnya unsur-unsur yang tak terbayangkan, sekarang jadi satu kekuatan baru, insyallah ikhtiar untuk diberikan kewenangannya itu dberikan kemudahan perjalanannya.
Dan seperti disampaikan tadi, kami ini secara pribadi kenalnya sudah lebih dari 30-an tahun. Dulu sama-sama di kampus Gajah Mada. Sama-sama berkegiatan, dan insyallah bisa saling melengkapi. Kalau dipikir-pikir, tidak terbayang ini. Bagaimana coba?
Gus Imin lengkap pengalamannya. Mulai dari aktivis mahasiswa melawan rezim otoriter. Rekam jejaknya ada itu. Kemudian terus aktif di organisasi pergerakan kemahasiswaan, sampai kemudian mendapatkan amanah memimpin partai, dapat amanah menjadi wakil ketua DPR, dapat amanah menjadi menteri, dapat amanah wakil ketua MPR.
Ini semua adalah sebuah kelengkapan yang membuat insyallah bila disandingkan, saya bawa pengalaman di pemerintahan sebagai kepala daerah. Saya belum pernah jadi anggota DPR, Gus Imin pernah menjadi anggota DPR. Gus Imin belum pernah menjadi kepala daerah. Saya pengalaman menjadi kepala daerah. Sama-sama pernah di eksekutif. Beliau pernah di menteri, saya pernah di kementerian.
Jadi ada unsur-unsur yang kita memiliki kekuatan, dan kita memiliki kekurangan, dan saling mengisi. Itulah sebabnya doakan agar dwitunggal ini benar-benar menjadi makin solid. Bukan saja di dua pribadi, tapi semua unsur-unsur pembentuknya, sehingga ini menjadi sebuah gerakan baru yang bersama-sama.
Dan insyallah, yang kita ingin lakukan bukan sekadar untuk pribadi-pribadi. Ini bukan tentang satu orang. Ini bukan tentang dua orang. Ini bukan tentang satu partai. Ini bukan tentang satu koalisi. Ini tentang nasib masa depan anak dan anak-anak kita ke depan. Dan itulah yang kita ikhtiarkan.
Karena itu dukungan dari semua menjadi amat dibutuhkan. Dukungan doa, dukungan kerja, dukungan bersama-sama. Insyallah dengan begitu maka apa yang tadi disampaikan, bila di Jember ini gerakannya makin meluas, insyallah menular ke seluruh Jawa Timur. Bila di Jawa Timur meluas, insyallah menular ke seluruh Indonesia. Dan kemudian gelombang perubahan itu akan terasa di semua.
Seperti tadi disampaikan insyallah PKB di Jember makin besar. Dan jangkauan seluruh Indonesia makin luas, insyallah. Ini semua adalah kerja bersama. Karena kita membutuhkan kekuatan di legislatif, kekuatan di eksekutif, untuk kemudian bersama-sama mendorong.
Para kiai, para nyai, oara hadirin semua. Saya ingin cerita sedikit kasus di Jakarta.
Dulu di Jakarta ada satu tempat yang sangat berkuasa, tidak bisa diotak-atik. Namanya Alexis. Mungkin ada yang tahu, Tapi saya tidak usah menjelaskan isinya apa di situ. Pokoknya tempatnya itu adalah tempat yang tidak perlu kita datangi. Tapi itu mau ditutup tidak bisa. Didemo, didemo, didemo, tidak bisa. Protes, mendal semuanya. Seperti tempat yang super powerful.
Lalu terjadi pergantian kepemimpinan. Setelah pergantian kepemimpinan, tempat itu langsung ditutup cukup dengan selembar kertas dan sebuah tanda tangan. Itu namanya kewenangan.
Karena itulah kita melihat di sini banyak kebijakan, tanah-tanah rakyat yang tergeser, kita menyaksikan itu. Bagaiman kita menyaksikan peternak yang tutup karena pakan ternaknya mahal. Petani yang tidak bisa sejahtera karena harga pupuknya mahal. Bener tidak? Harga gabahnya juga rendah.
Kita ketemu dengan nelayan-nelayan yang kesulitan untuk solar, kesulitan untuk jaring, kesulitan untuk alat-alat mereka berlayar. Ini semua sebetulnya sumber dayanya ada. Tinggal masalahnya, mau ditandatangani tidak alokasi untuk mereka. Betul tidak?
Karena itu yang kita bicarakan kewenangan. Kita tidak sekadar mau protes. Bukan. Kewenangan. Dengan kewenangan itu insyallah nanti kita justru bisa membantu membesarkan yang kecil tanpa mengecilkan yang besar. Tapi jangan yang besar tambah besar, yang kecil tambah kecil. Itu lagunya Rhoma Irama. Yang miskin makin miskin. Yang kaya makin kaya.
Lah kita ini nggak. Boleh saja yang besar tidak usah dikecilkan. Yang besar tidak usah dimusuhi. Tapi jangan biarkan yang kecil terus-menerus kecil. Yang kecil harus dibesarkan, dan itu lagi-lagi sumber dayanya ada, uangnya ada. Tinggal mau dialokasikan atau tidak. Nah itu pakai apa? Tanda tangan. Tanda tangan itu didapat lewat kewenangan. Kalau kekuasannya di tangan rakyat, tapi kewenangannya dititipkan kepada orang-orang yang dipercaya oleh rakyat.
Insyallah kita bisa lakukan perubahan itu. Aminnya yang keras. Siap bergerak bersama? Siap menjangkau semua? Insyallah dari Jember digaungkan perubahan untuk Indionesia.
Mbok menawi mekaten yang bisa saya sampaikan. Kurang lebih mohon dimaafkan. Dan sekali lagi terima kasih kesempatan silaturahminya. Insyallah ini bukan silaturahmi terakhir. Insyallah nanti kita bisa lanjutkan silaturahmi ini menjadi gerakan persaudaraan untuk kita semua. [wir]






