Magetan (beritajatim.com) – Sejumlah infrastruktur yang diklaim bisa meningkatkan perekonomian dan literasi masyarakat dibangun di era kepemimpinan Suprawoto-Nanik Endang Rusminiarti. Yang paling besar yakni Gedung Pusat Graha Literasi. Kemudian, ada pula lahan parkir di Telaga Sarangan yang diwacanakan ada sejumlah kios untuk pedagang.
Selain itu, ada pula Rumah Promosi di dekat Jalan Sawo Kelurahan Selosari Kabupaten Magetan. Serta, Food Court yang berada di sebelah timur Pasar Baru, lokasi baru untuk pedagang makanan dan minuman (mamin) yang dulu berada di parkir utara pasar.
Serta beberapa infrastuktur lain yang dibangun menggunakan APBD maupun dana transfer. Namun, dari sekian infrastruktur yang dibangun, hanya Food Court yang langsung bisa ditempati dan dipakai berjualan. Karena, merupakan bangunan pemeritah yang sifatnya untuk merelokasi pedagang mamin.
Baca Juga: Merayakan Kedatangan Sebuah Bus dan Tiga Gol di Gelora Bung Tomo
Sementara, Gedung Pusat Graha Literasi belum maksimal dipakai. Karena, sejumlah buku masih belum tersedia di gedung yang memiliki fungsi mirip Perpustakaan tersebut. Belakangan, hanya beberapa event saja digelar di aula gedung utama Graha Pusat Literasi yang terletak di Kelurahan/Kecamatan Plaosan, Magetan itu.
Sementara, bangunan asrama atau Gedung Literasi Tahap III yang diwacanakan bisa dipakai pengunjung yang mencari inspirasi menulis, belum jadi. Bahkan, proyek bernilai kontrak Rp2,4 miliar itu masih berlangsung dan mengalami keterlambatan pengerjaan. Dari yang seharusnya sudah 88 persen lebih kini masih belum lebih dari 58 persen. Dipastikan bangunan asrama itu tak mungkin selesai sesuai jadwal yakni 27 September 2023 ini.

“Mustahil selesai pada 27 September 2023. Masih kami tanyakan terus progresnya, termasuk kesanggupan kontraktor. Kami masih usut masalahnya,” kata Ketua DPRD Magetan Sujatno saat meninjau pembangunan bangunan asrama Gedung Literasi pada 20 September 2023.
Jika ditotal, jumlah anggaran untuk Pembangunan Gedung Literasi tahap I, II, dan III, mencapai Rp11,25 miliar (sesuai nilai kontrak). Anggaran menggunakan APBN, dan APBD.
Kemudian, untuk Rumah Promosi, wacana awalnya merupakan tempat untuk mempromosikan produk unggulan Magetan. Mulai produk kerajinan hingga kuliner. Namun, hingga saat ini proses appraisal belum usai sehingga bemum jelas siapa nanti yang bakal mengelola rumah promosi sebagai wadah pengenalan produk unggulan Magetan.
Baca Juga: Kiai dan Ustaz Kampung se-Malang Raya Dukung Ganjar Pranowo
Di bangunan dengan bagian tengah berbentuk pendapa joglo itu sementara digunakan untuk menjual produk khas Magetan. Meski, hal tersebut belum sepenuhnya sesuai regulasi karena proses appraisal belum selesai. Padahal, pembangunan itu menelan anggaran sampai Rp1,9 miliar.
“Kami menilai gedung promosi ini gak memberikan manfaat signifikan untuk UMKM Magetan. Dengan anggaran Rp1,9 miliar, gedung ini mangkrak sejak selesai dibangun pada Desember 2021 lalu. Duit segitu sebaiknya digunakan untuk pembinaan UMKM, bukan bangun gedung,” kata Beni Ardi, anggota Forum Mimbar Catatan Magetan (MCM)

Sementara itu, untuk lahan parkir di dekat loket Sarangan, sampai kini belum jelas pembangunan kios untuk pedagang. Sementara yang sudah difungsikan hanya parkir dan musala saja. Untuk bangunan kiosnya masih belum tuntas. Diperkirakan, saat sudah jadi pasti akan menunggu appraisal. [fiq/ian]






