Jember (beritajatim.com) – Nabila Anisa Thoyiba, mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember menciptakan aplikasi digital ‘Pelitaku Pintar’ untuk mencegah tengkes atau stunting di Desa Tangsil Kulon, Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso.
Aplikasi ini bagian dari program Pelitaku, sebuah program penanganan stunting yang dilakukan FKM Unej di Tangsil Kulon. Program ini tak hanya menjangkau masalah kesehatan, tapi juga ekonomi dan lingkungan. Para mahasiswa FKM memberikan pelatihan pembuatan keripik untuk penghasilan kader, dan mengajari kader untuk mengelola bank sampah dan mengolah sampah dengan magot.
Nabila memanfaatkan kemampuannya soal coding atau pembuatan aplikasi yang dipelajari selama belajar di SMA Negeri 2 Probolinggo untuk membuat aplikasi tersebut. Dia termotivasi dengan hasil survei terhadap penduduk desa yang tidak memiliki informasi cukup tentang tengkes.
“Jadi dalam aplikasi itu kami berikan edukasi dan bahan literasi untuk dipelajari warga. Ada juga fasilitas pengingat untuk kader Pelitaku menjalankan programnya seperti sosialisasi gizi dan pengukuran (berat badan). Jadi aplikasi itu interaktif untuk keluarga,” kata Nabila, Rabu (20/9/2023).
Selain itu, aplikasi tersebut menyediakan ruang konsultasi yang diasuh kepala bidang kesehatan masyarakat dan kepala bidang kesehatan lingkungan. Dua kepala bidang ini berasal dari warga sendiri.
Program Pelitaku melibatkan anak-anak muda dengan membentuk kelompok kader yang bergerak mengedukasi masyarakat dan disahkan dengan surat keputusan Pemerintah Desa Tangsil Kulon. Nabila mengatakan, aplikasi ciptaannya itu efektif karena mayoritas kader muda Pelitaku menggunakan HP dan media sosial.
Aplikasi ini melengkapi Pos Pelitaku yang menjadi tempat kader untuk belajar dan menyosialisasikan gizi, terutama untuk bayi yang mengalami tengkes. Program Pelitaku menyasar 45 orang balita yang mengalami tengkes, dan 173 remaja desa yang menjalani pernikahan usia muda diharapkan mengakses aplikasi Pelitaku Pintar.
“Kami buat aplikasi yang menarik agar mereka senang membacanya dan banyak belajar. Sehingga selain menekan angka stunting, (aplikasi itu) juga bisa mencegah kasus stunting baru. Kasus stunting bertambah setiap tahun. Harapannya dengan aplikasi ini, remaja putri paham bagaimana mencegah stunting,” kata Nabila.
Walida Istiqomah, kader Pelitaku, menilai aplikasi bikinan Nabila itu sangat membantu warga. “Khususnya dalam hal keseharian bagi bayi, remaja, dan lansia. Sebelumnya kami kurang memahami edukasi dan penanganan lansia, balita, dan remaja. Setelah ada aplikasi ini, kami jadi lebih tahu dan memahami apa sih pentingnya menanamkan edukasi soal balita, remaja, dan lansia,” katanya.
Pernikahan usia muda menjadi hal lazim di desa itu. “Perempuan berusia 21 tahun belum menikah disebut perawan tua,” kata Walida. Di sinilah program kerja yang dilaksanakan mahasiswa Himpunan Mahasiswa Ilmu Gizi FKM Unej itu berperan penting memberikan pemahaman lebih kepada para orang tua untuk mencegah pernikahan usia muda.
Sementara itu Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FKM Unej Dewi Rohmah mengatakan, kegiatan yang dilakukan para mahasiswa berbasis permasalahan di desa. “Harapannya adik-adik kami datang untuk memberikan solusi, dan kami sebagai bagian dari civitas akademika tidak seperti hanya di menara gading. Kami ajari adik-adik untuk mengaplikasikan keilmuan mereka terutama di bidang kesehatan masyarakat,” katanya.
Kegiatan dilakukan di Tangsil Kulon, karena desa ini lokus tengkes. “Pendampingan dilakulan multisektor. Pertama, dari sisi kesiapan kader. Kami melakukan pelatihan kader posyandu yang inovatif, interaktif,” kata Dewi.
FKM juga melatih kader untuk memanfaatkan potensi lokal dalam pembuatan makanan tambahan yang diberikan setiap kali posyandu. “Dalam bentuk pengolahan lele berupa pentol dan pengolahan daun singkong untuk nori, sayuran dengan berbagai modifikasi tambahan, sehingga jadi alternatif pemenuhan makanan tambahan bagi anak dan bisa mencegah stunting,” kata Dewi.
Para mahasiswa FKM juga melakukan pendekatan aspek sanitasi. “Kami memaksimalkan potensi desa, terutama sampah organik diolah jadi magot yang kemudian diolah lagi jadi bahan pakan lele yang jadi bahan dasar pentol. Kita juga melakukan pelatihan bank sampah. Masyarakat antusias memberikan sampah anorganik kepada bank sampah,” kata Dewi. [wir]






