Blitar (beritajatim.com) – Harga beras yang mahal saat musim kemarau ini berdampak pada pasokan bahan pangan masyarakat, khususnya di pesisir Blitar selatan. Harga beras kualitas medium kini melambung hingga Rp70 ribu untuk kemasan 5 Kilogram
Namun demikian, fenomena ini tidak membuat masyarakat di kawasan Blitar selatan kebingungan. Sebab, sejak dulu mereka sudah mengenal tiwul sebagai bahan pangan.
Dalam kondisi seperti saat ini, tiwul yang terbuat dari singkong menjadi bahan pangan alternatif pengganti beras. Masyarakat Blitar selatan biasanya membuat Tiwul saat awal musim kemarau atau masa panen singkong.
Sehingga ketika kemarau datang yang membuat sawah-sawah mengering dan gagal panen, warga tidak lagi kebingungan untuk membeli beras. Sebagai pengganti tidak adanya beras, masyarakat pun akan mengkonsumsi nasi tiwul yang telah dibuat beberapa bulan sebelumnya.
“Kalau sini tidak bingung untuk beras, karena ada tiwul, sudah jadi makan sehari-hari kalau tiwul,” kata Usrek, warga Desa Tugurejo, Kecamatan Wates Kabupaten Blitar, Senin (18/9/2023).
BACA JUGA:
Pemulangan PMI Asal Blitar Yang Terseret Banjir Hongkong Butuh Waktu Sebulan
Tiwul ini memiliki daya simpan yang cukup panjang hingga bertahun-tahun, asalkan disimpan di tempat kering dan tidak lembap. Meski disimpan lama, rasa tiwul tidak akan berubah.
Nasi tiwul sendiri memiliki ukuran yang sedikit lebih besar jika dibandingkan dengan butiran beras. Teksturnya juga sedikit lebih kenyal daripada nasi beras. Namun, hal itulah yang menjadi nilai tambah dari nasi tiwul.
Rasanya yang unik dan teksturnya yang kenyal membuat nasi Tiwul ini sangat cocok dikonsumsi dengan sayuran lodeh khas masyarakat pedesaan seperti tewel hingga rebung. Makanan ini juga sangat nikmat untuk dikonsumsi dengan sambal serta ikan segar ataupun ikan asin.
Jadi, meski tiwul dianggap lebih rendah dari nasi, bagi masyarakat pedesaan nasi tiwul justru lebih baik. Nasi tiwul ini juga terbebas dari bahan-bahan kimia seperti pestisida maupun pupuk kimia.
“Lebih enak tiwul dari nasik, disambelke terus dimakan sama tewel dan ikan asin wes lebih mantap ini,” imbuhnya.
Proses pembuatan nasi tiwul ini juga cukup panjang. Singkon yang telah diambil akan dibersihkan bagian kulit akan dibuang. Sementara bagian daging singkong akan dipotong kemudian dijemur hingga kering.
BACA JUGA:
Pelukis ‘Rumini Semeru’ Bersama Puluhan Murid SD se Blitar Gelar Pameran Lukis
Setelah kering, singkong yang telah bersih itu akan direndam dengan air bersih selama 1 malam atau lebih, hingga teksturnya berubah lembek. Sesudah itu, singkong akan ditumbuk menggunakan alat yang disebut lumpang. Lumpang ini merupakan alat penumbuk dari kayu yang berbentuk cekung.
Usai ditumbuk halus singkong kemudian masuk tahap pemilihan antara yang masih kasar dan halus. Setelah itu barulah singkong halus akan ditanak hingga masak, barulah jadi nasi tiwul.
Agar bertahan lama nasi tiwul ini kemudian masih akan dijemur lagi untuk menjadi butiran atau yang biasa disebut karak tiwul. Nah, karak tiwul ini bisa langsung dimasak dengan cara diguyur air panas kemudian ditanak kembali dengan waktu yang relatif singkat.
“Wah kalau orang desa stok tiwulnya pasti banyak, ada yang 5 karung karak tiwul, kan daya simpannya panjang, pas tidak ada uang ya ini yang dimakan,” tutupnya. [owi/beq]






