Ponorogo (beritajatim.com) – Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko meluruskan stigma negatif tentang gemblak. Jaman dahulu di Ponorogo, tokoh-tokoh warok sering membawa gemblak. Gemblak biasanya anak laki-laki muda yang mendampingi tokoh-tokoh warok tersebut.
Nah, dewasa ini banyak masyarakat yang menganggap negatif dari peran gemblak di masa lalu. Orang-orang selalu mengaitkan gemblak dengan eksploitasi seksual oleh tuannya. Selain itu, gemblak juga identik dengan kaum homoseksual. Stigma-stigma negatif itulah yang ingin diluruskan oleh Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko. Menurutnya, gemblak kalau di era sekarang sama seperti ajudan.
“Sesungguhnya gemblak itu, kalai sekarang ya ajudan itu,” ungkap Bupati Sugiri Sancoko, ditulis Minggu (17/09/2023).
Orang nomor satu di Ponorogo itu mengungkapkan bahwa budaya apapun pernah mengalami kecelakaan sejarah. Ia ambil contoh di musik, dulu di tahun 70-80-an, orang-orang memanggul tape dan berjogetan di tengah jalan. Nah, untuk yang gemblak itu, hanya 1 atau 2 orang yang menyimpang dari tugas semestinya.
“Tidak semuanya begitu, hanya beberapa saja dan kebetulan itu terpotret oleh riset,” katanya.
Dengan hanya beberapa yang terpeleset ke hal-hal negatif itu, berarti itu hanya kasusistik dan tidak bisa digeneralisir. Sebab gemblak pada warok dulu, selain merupakan abdi kinasih juga merawat tradisi budaya Jawa. Biasanya, gemblak juga bisa menari, dalam hal ini menari jathil di kesenian Reog Ponorogo.
BACA JUGA:
Bupati Sugiri Jelaskan Pembuatan Reog Ponorogo, Bukan dari Kulit Harimau
Sehingga, kata Kang Giri gemblak sesungguhnya ialah seorang ajudan. Mengapa warok punya gemblak? sebab, warok merupakan orang yang adi luhung, berilmu dan punya derajat yang tinggi.
“Ya seperti sekarang ini, saya juga punya ajudan, bu wabup juga punya ajudan, warok dan kiai pun juga punya ajudan,” pungkas Bupati Sugiri Sancoko. [end/but]






