Jember (beritajatim.com) – Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Timur berharap mahasiswa Fakultas Pertanian bersedia menjadi petani, meneruskan profesi orang tua mereka. Saat ini mayoritas petani di Indonesia berusia di atas 50 tahun.
“Anak petani agar tidak malu meneruskan profesi orang tuanya. Tentu saja petani modern yang menguasai teknologi termasuk bioteknologi, agar terus muncul petani-petani muda Indonesia,” kata Ketua KTNA Jatim Sumrambah, sebagaimana dilansir Humas Universitas Jember di Kabupaten Jember, Rabu (13/9/2023).
Sumrabah yang juga Wakil Bupati Jombang ini menilai dunia pertanian Indonesia kini mengalami banyak permasalahan, di antaranya modal sosial petani yang makin tergerus. Semangat gotong royong dalam usaha pertanian yang dahulu masih kental kini beralih menjadi sifat individualistis. “Petani pun jauh dari akses informasi dan pembiayaan. Sementara perhatian dari pemerintah dirasa belum maksimal,” katanya.
Sementara itu, perubahan iklim, penyusutan lahan pertanian, serangan penyakit dan hama mengancam produktivitas pertanian. “Padahal jumlah penduduk Indonesia makin bertambah sehingga kebutuhan pangan terus meningkat,” kata Sumrabah, dalam seminar nasional bertema “Adopsi Bioteknologi untuk Akselerasi Ketahanan Pangan,” di gedung Auditorium kampus Tegalboto, Selasa (12/9/2023).
Regenerasi petani menjadi harga mati karena petani muda dinilai Sumrabah bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Kelemahan petani berusia di atas 50 tahun adalah minimnya kemampuan menerima, mengadopsi dan mengaplikasikan teknologi baru termasuk bioteknologi.
Padahal, menurut Sumrabah, bioteknologi juga memungkinkan inovasi-inovasi baru. “Seperti benih tanaman yang produktivitasnya tinggi, tahan penyakit atau bahkan meminimalkan penggunaan pupuk kimia,” katanya. [wir]






