Yogyakarta (beritajatim.com) – Dinamika politik dan manuver terus berkembang menjelang pemilihan presiden pada Februari 2024. Beberapa kejutan diperkirakan akan muncul dari kalangan elite politik menjelang pemilihan tersebut.
Salah satu kejutan terjadi ketika Anies Baswedan mengumumkan pasangannya sebagai calon wakil presiden (Cawapres) secara tiba-tiba, yaitu Cak Imin. Namun, hingga saat ini, belum ada informasi jelas terkait Cawapres dari kubu Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto.
Ada rumor yang menyebutkan bahwa Anies Baswedan memilih Cak Imin untuk mengamankan suara di Jawa Timur, yang dianggap sebagai kunci pemenangan nasional karena jumlah suara yang dominan ada di Pulau Jawa.
Muhammad Nastain, seorang pengamat politik dan komunikasi dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), menjelaskan bahwa perebutan suara di Jawa menjadi sangat penting karena jumlah suara nasional yang signifikan berasal dari Pulau Jawa.
Para pemilih di Jawa memiliki tipologi yang beragam, termasuk pemilih yang bersifat religius. Oleh karena itu, mendapatkan dukungan dari pemilih religius menjadi kunci.
Salah satu tokoh yang memiliki potensi kuat sebagai Cawapres adalah Yenny Wahid, anak dari Gus Dur. Yenny Wahid dianggap memiliki daya tarik khusus di kalangan pemilih religius.
Nastain menyatakan bahwa jika Anies Baswedan memilih Cak Imin untuk mengamankan suara di Jawa Timur, maka kubu Prabowo Subianto kemungkinan besar akan melirik Yenny Wahid sebagai Cawapres.
“Meskipun harus dihitung kembali apakah beliau punya massa di tingkat akar rumput,” jelas Dosen FIKOMM UMBY ini.
BACA JUGA:
Yenny Wahid: Partaine Dicolong Wong, Cak!
Pengamat ini menegaskan bahwa jika Prabowo Subianto memilih Yenny Wahid sebagai Cawapres, maka strategi pasangan nasionalis-religius masih akan menjadi primadona.
Dalam konteks perseteruan antara PKB yang dipimpin oleh Gusdur dan PKB yang dipimpin oleh Cak Imin, Nastain menyebut bahwa konflik internal dalam partai politik bukanlah hal baru. Perseteruan serupa terjadi sejak tahun 2008, ketika konflik internal memecah PKB menjadi dua kubu, yaitu kubu Cak Imin dan kubu Gus Dur.
Konflik ini memanas lagi menjelang pemilihan presiden pada tahun 2024, terutama setelah Yenny dan Cak Imin berbicara terkait keinginan Cak Imin untuk menjadi calon presiden atau calon wakil presiden.
Nastain menganggap bahwa Cak Imin memiliki posisi yang kuat dalam PKB dan telah berhasil menjadikan PKB sebagai partai dengan basis massa Islam terbesar di Indonesia dalam dua pemilihan umum terakhir.
BACA JUGA:
Yenny Wahid Pertimbangkan Prabowo dan Ganjar, Diputuskan Oktober
Terlepas dari suara keras dari beberapa tokoh yang berseberangan dengan Cak Imin, Nastain menganggap bahwa potensi Cak Imin mendapatkan dukungan dari Nahdliyin (kalangan NU) di Jawa Timur cukup besar, mengingat keberhasilannya dalam memimpin PKB.
Namun, dampak persepsi publik terkait perseteruan ini masih harus dilihat lebih mendalam, karena persepsi publik dipengaruhi oleh preferensi individu yang berbeda-beda.
Dalam kesimpulan, dinamika politik menjelang Pilpres 2024 terus berkembang, dan perebutan suara di Jawa menjadi sangat penting. Potensi Cawapres dari kalangan religius seperti Yenny Wahid masih menjadi pertimbangan kuat, terutama dalam konteks strategi pasangan nasionalis-religius.
BACA JUGA:
Survei Dialektika: Elektabilitas Yenny Wahid Tertinggi Cawapres Perempuan di Basis Nahdliyyin
Perseteruan internal dalam PKB adalah bagian dari dinamika politik yang biasa terjadi, dan suara keras dari berbagai pihak dapat memengaruhi nama Cak Imin dalam berbagai media. Bagaimanapun, keberhasilan Cak Imin dalam mendapatkan dukungan dari Nahdliyin di Jawa Timur tetap menjadi faktor penting.
“Potensi Cak Imin mendapatkan dukungan Nahdliyin Jawa Timur cukup besar menurut saya, karena bagaimanapun keberhasilan Cak Imin dalam menahkhodai PKB akan menjadi bahan pertimbangan pemilih,” tutup Nastain. [aje/but]






