Blitar (beritajatim.com) – Gayasan merupakan nama sebuah pantai yang berada di perbatasan antara Desa Kali Grenjeng, Kecamatan Wonotirto dengan Desa Tumpak Kepuh, Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar. Pantai yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia tersebut masih terbilang alami dan belum terjamah oleh aktivitas manusia.
Berjarak sekitar 12 kilometer dari monumen Trisula yang berada di Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar, Pantai Gayasan menjadi salah satu pantai yang belum begitu dikenal oleh wisatawan. Hamparan tanaman tebu di area perbukitan menjadi suguhan utama selama perjalanan menuju pantai yang berada di selatan Blitar tersebut.
Jalan berbatu menjadi akses utama yang harus dilalui oleh wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai Gayasan. Bukan hanya kelokan dan turunan tajam, wisatawan juga harus melewati sungai agar bisa sampai di pantai yang tidak ada penghuninya tersebut.
Setibanya di pantai Gayasan, hamparan pasir putih yang menghadap ke Samudra Hindia langsung menyambut. Begitu pula dengan hempasan ombak dan kabut tipis semakin mempertegas keindahan pantai Gayasan.
Wisatawan pun masih jarang yang berkunjung ke pantai Gayasan, akses jalan yang susah menjadi faktor utamanya. Namun kemarin panti Gayasan mendadak ramai, ratusan masyarakat dari Trenggalek datang ke pantai yang belum terjamah orang tersebut.
Baca Juga:
Kesaksian Mistis Nahkoda KM Mandala Sebelum Karam di Blitar
Kedatangan warga ini bukan untuk berlibur atau menikmati keindahan pantai Gayasan, mereka datang untuk mencari 8 orang anak buah kapal Mandala yang hilang. Ya, pantai Gayasan memang menjadi saksi bisu karamnya KM Mandala pada Rabu (06/09/23) sekitar pukul 21.00 WIB.
Kapal nelayan asal Prigi Kabupaten Trenggalek itu karam setelah dihantam ombak besar. Sebanyak 23 nelayan yang berada di kapal tersebut pun digulung ombak Gayasan. Beruntung 15 orang anak buah kapal bisa menyelamatkan diri, sementara 8 lainnya masih hilang.
Peristiwa ini merupakan yang pertama kalinya terjadi di pantai Gayasan. Padahal selama ini Gayasan begitu ramah dengan para nelayan yang mengeruk ikan miliknya. Tapi tidak tahu mengapa pada Rabu (06/09/23) malam, ombak Gayasan begitu keras menerpa, kabut tebal yang tidak biasa turun pun juga ikut muncul menghalangi pandangan nahkoda kapal.
“Ini yang pertama kali terjadi, dan ini nelayan dari Trenggalek yang kebetulan lagi mencari ikan disini, mereka berangkat kemarin pukul 16.00 dan tiba disini pukul 20.00 WIB, setelah dapat ikan mereka hendak pulang sekitar pukul 21.00 WIB yang kemudian terjadilah bencana tersebut dan baru diketahui tadi pagi,” kata Kapolsek Wonotirto, AKP Supriadi, Jumat (08/09/23).
Gayasan pun masih menyembunyikan 8 orang anak buah kapal Mandala. Hingga hari pertama pencarian, Gayasan masih enggan memberikan petunjuk keberadaan 8 ABK tersebut.
Baca Juga: Pencarian 8 ABK Kapal Mandala Karam di Blitar Terus Dilakukan
Kabut tebal masih menyelimuti, ditambah ombak besar yang terus menghantam membuat tim pencarian kesulitan untuk menemukan keberadaan 8 orang anak buah kapal Mandala. Hari pertama pencarian pun berlalu tanpa membuahkan hasil.
Namun tim gabungan Basarnas, BPBD, TNI-Polri tidak menyerah. Mereka akan terus menyusuri Gayasan hingga 8 orang anak buah kapal yang hilang itu ditemukan.
“Ini kabut tebal sudah turun, ombak juga masih besar, jadi kami harus atur strategi dan mencari celah untuk memasang perahu agar bisa melakukan pencarian. Bila mana tidak bisa maka akan kami lakukan besok,” tutup Kapolsek Wonotirto.
Tidak hanya alami, kini Gayasan akan diingat oleh sejumlah warga sebagai pantai tempat karamnya KM Mandala yang membuat 8 orang anak buah kapal hilang. Tapi Gayasan tetaplah menjadi pantai yang cukup indah dan alami untuk kunjungi di lain waktu. (owi/ted)






