Malang (beritajatim.com) – Wali Kota Malang, Sutiaji meninjau langsung Pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Bango di daerah Pandanwangi, Blimbing, Kota Malang pada Kamis, (7/9/2023). Pembangunan SPAM Bango dilakukan melalui kerjasama antara Perum Jasa Tirta I dengan Perumda Tugu Tirta.
Sutiaji menuturkan, SPAM Bango dibangun dengan menggunakan metode water treatment plant (WTP). Sistem ini memanfaatkan air permukaan Sungai Bango untuk kebutuhan air baku penopang Perumda Tugu Tirta (PDAM) Kota Malang.
“Pembangunan dibangun sudah sesuai target. Dalam waktu dekat, PJT I akan melakukan ujicoba produksi airnya. Untuk menilai sudah layak apa tidak, sebelum dialirkan ke pipa PDAM,” ujar Sutiaji.
Sutiaji mengatakan, jika pembangunan SPAM Bango selesai bisa menyediakan 500 LPS air baku. Namun, sebelum resmi dialiri PJT I diminta memastikan kelayakan air baku dari SPAM Bango sebelum dialirkan ke pipa PDAM.
Baca Juga: Dewan Desak PUPR Bangkalan Realisasikan Proyek Pemeliharaan Jalan Socah
“Selain itu saya harap PJT I bisa memastikan dulu kelayakan air baku dari SPAM Bango sebelum dialirkan ke pipa PDAM. Ketika sudah beres dan selesai semuanya. Lantas pada 2024 nanti, air baku sudah teralirkan ke pipa PDAM. Memudahkan penyediaan air baku pada 2027 ke depan. Air baku sebesar 500 LPS sudah tidak ada masalah,” imbuh Sutiaji.

Sementara itu, Direktur Operasional PJT I, Milfan Rantawi mengatakan, pembangunan SPAM Bango masih dalam proges. Nantinya, pada 21 September 2023 akan diujicoba untuk mengukur kelayakan air baku yang dihasilkan. Sebelum didistribusikan untuk masyarakat melalui Perumda Tugu Tirta
“Ujicoba kelayakan produksi air bersih menggunakan air baku dari Sungai Bango ini dijadwalkan pada 21 September 2023. Meleset dari jadwal sebelumnya pada Agustus 2023. Namun semuanya masih on progres,” ujar Milfan.
Baca Juga: Gus Muhdlor Lantik 7 Pejabat Eselon II dan III Pemkab Sidoarjo
Sembari ujicoba nantinya pada Desember 2023 SPAM Bango baru disempurnakan sebesar 200 LPS. Dia yakin semuanya akan selesai sesuai target sebab keterlambatan masih di bawah ambang batas 5 persen.
“Itu sifatnya masih batas kewajaran. Pengerjaan bisa dikatakan terlambat, ketika nilai keterlambatan di atas angka 5 persen. Terkadang keterlambatan disebabkan dan diipengaruh oleh hal teknis seperti pengangkutan barang atau material on side. Kita masih diangka 4 persen,” ujar Milfan. (Luc/ian)






