Jember (beritajatim.com) – Sebuah video berisi pengakuan seorang warga Kabupaten Jember, Jawa Timur, bernama Rahmad Kurniawan Abadi beredar antarWhatsApp. Ia mengaku tengah disekap di Rusia.
Dalam video berdurasi satu menit itu, Rahmad mengaku diberangkatkan ke Rusia oleh seorang perempuan awal Banyuwangi bernama Vera. “Di Rusia saya ditampung agen bernama Yesenia,” katanya.
Rahmad mengaku berada di Rusia hampir satu tahun dan tidak memperoleh gaji. “Posisi sekarang di apartemen, di penampungan, dan saya dikunci dari luar. Logistik disediakan,” katanya.

“Saya mohon bantuan kepada pihak-pihak terkait pemerintah Indonesia untuk bisa memulangkan saya. Terima kasih. Assalamualaikum,” kata Rahmad.
Direktur Migran Aid Indonesia Moch. Cholily mengaku mendapat video itu dari seorang kawan pekan lalu. Setelah ditelusuri, ternyata Rahman adalah warga Dusun Kepel, RT 001/RW 014, Desa Kepel, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember. Dia lahir pada 30 April 1986.
“Semalam saya berkomunikasi dengan istrinya Bu Lailatul Muazizah. Intinya ada dua persoalan. Satu, Rahmad terjebak sindikat perdagangan orang. Kedua, dia ditempatkan di negara yang tengah dalam situasi perang. Ini pelanggaran undang-undang,” kata Cholily, Rabu (6/9/2023).
Cholily mendesak kepada aparat penegak hukum untuk bertindak. “Ini harus ditelusuri betul pelakunya, diusut aparat penegak hukum, baik mereka yang di lokal, di Banyuwangi, maupun jaringan. Kalau itu PT (perusahaan penyalur tenaga kerja), kami sedang berkoordinasi dengan Kementerian Tenaga Kerja agar dicabut izinnya,” katanya.
“Paling penting sekarang, bagaimana Kementerian Luar Negeri melakukan langkah emergency kepada korban. Posisi korban belum diketahui. Saya dapat nomor kontak korban, tapi belum bisa dihubungi. Sudah tidak aktif,” kata Cholily.
Sang istri juga tidak tahu lokasi Rahmad. “Istrinya hanya tahu suaminya pamit ke luar negeri. Itu saja. Istrinya orang desa,” kata Cholily.
Cholily menyebut peristiwa ini semakin menunjukkan bahwa pekerjaan rumah ketenagakerjaan di Indonesia sangat menumpuk. “Pencegahan dan edukasi terhadap masyarakat harus dilakukan. Kasus ini menunjukkan bahwa proteksi dini ke masyarakat yang berpotensi jadi pekerja migran Indonesia dan edukasi supaya masyarakat tahu bagaimana cara migrasi masih lemah,” katanya. [wir]






