Magetan (beritajatim.com)- Pemerintah Kabupaten Magetan serius untuk mewujudkan hutan bambu di Kelurahan Tinap Kecamatan Sukomoro. Bibit bambu mulai ditanam di lahan seluas 18,5 hektar pada Minggu (03/09/2023).
Tak bernama Eco Bamboo Park, hutan bambu ini diberi nama Kebun Raya Bambu. Nama itu berdasarkan usulan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pun, ide dari Bupati Magetan Suprawoto itu dapat dukuhgan penuh dari Kementerian yang menangani urusan keberlajutan lingkungan tersebut
Sekretaris Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK Tulus Laksono mengatakan KLHK awalnya mengira jika itu adalah ide biasa. Namun, karena wacananya ada 103 spesies bambu yang ditanam di Kebun Raya Bambu itu, maka mereka menganggap itu adalah ide kelas internasional.
Menurutnya, keberadaan tanaman bambu itu akan memberikan manfaat di masa depan. Mulai pelajar yang dapat belajar langsung bambu bukan hanya di media sosial. Kemudian, dapat meningkatkan ruang terbuka hijau di wilayah Magetan. Serta, mendukung upaya antisipasi perubahan iklim.
“Saat ini ada target emisi di Indonesia, salah satunya dapat dipenuhi dengan tanam- tanaman bambu yang dapat mencegah perubahan iklim. Yang jelas kami dari KLHK mendukung penuh sampai nanti semua tanaman tertanam semua di lahan 18,5 hektar,” kata Tulus.
Terpisah, Bupati Magetan Suprawoto mengatakan, di Kebun Raya Bambu tersebut bakal jadi pusat informasi bambu di Indonesia oleh KLHK. Karena, 103 spesies bambu dari berbagai belahan dunia bakal ditanam di lokasi tersebut.
Pria yang akrab disapa Kang Woto itu mengklaim jika Kabupaten Magetan itu iconnya adalah bambu. Selain itu luasan RTH masih semput baik secara privat atau publik.
“Jika dijumlah RTH baru tercapai 15 persen, baru separuh dari yang disyaratkan oleh undang- undang sebanyak 30 persen. Untuk itu Magetan bisa mengejar itu salah satunya dengan membuat ide berbeda ini, membuat hutan bambu,” paparnya.
Dia menambahkan, tanaman bambu menurut para ahli adalah tanaman yang paling bagus menyerap karbon dioksida (CO2) dan mengeluarkan oksigen (O2).
“Ini tidak sekedar menanam bambu tapi bagaimana kita mendesain agar bambu memiliki nilai ekonomi, wisata atau eduwisata untuk saat ini dan masa depan,” tegasnya.
Hadir dan turut menanam, Budayawan Jogja, Butet Kertaradjasa juga turut menanam, bercerita jika rencana bupati membuat Kebun Raya Bambu Magetan merupakan impiannya sejak dahulu.
“Indonesia memiliki hutan bambu yang di desain dengan baik. Kita tau bambu itu dari setiap titik pohonnya semua mengandung fungsi yang luar biasa mau jadi apapun bisa, siapapun nantinya yang menjadi pemimpin Magetan selanjutnya saya berharap program ini tuntas diwujudkan,” kata Butet. [fiq/adv]






