Banyuwangi (beritajatim.com) – Rencananya Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Reduce Reuse Recycle (TPS 3R) di Desa Balak, Kecamatan Songgon bakal beroperasi awal September ini. TPS yang memiliki kapasitas 84 ton perhari itu bakal menyedot tenaga warga sekitar dan Banyuwangi.
Tidak hanya itu, program ini juga melibatkan pemerintahan desa terkait pemanfaatannya. Sehingga kedekatan dengan warga serta komitmen dibangun sejak awal.
“Semua desa yang terlibat, dilakukan konsolidasi dulu dengan warga lalu tanda tangan komitmen untuk menjalankan program. Karena ini menyangkut apa-apa saja yang perlu disiapkan desa. Lalu desa akan mengeluarkan Perdes pengolahan dan pungutan sampah,” jelas Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Dwi Handayani.
Sementara Project Manager Banyuwangi Hijau, Steven Sujoto, menjelaskan pembangunan konstruksi TPS 3R Balak ditargetkan rampung pada September 2023. Nantinya, TPS 3R ini diprediksi mampu memproses sampah dari 250 ribu populasi atau sekitar 54 ribu rumah tangga per harinya.
“Seluruh bangunan utama sudah rampung. Saat ini kita tinggal menyelesaikan pembangunan konveyor yang terhubung dengan area komposting. Target minggu pertama September sudah rampung,” ungkapnya.
BACA JUGA:
TPS Baru Banyuwangi Akan Beroperasi Bisa Jadi Solusi Atasi Sampah
Meski dalam tahap persiapan operasi, namun kata Steven, mulai 7 Agustus lalu TPS 3R Balak sudah uji coba. Sedikitnya sudah ada 400 keluarga di Desa Balak yang telah dilayani pengelolaan sampahnya.
“Saat ini baru Desa Balak yang kami layani. Rencananya awal September kami akan perluas lagi ke Desa Singolatren dengan sasaran 400 keluarga. Begitu seterusnya, sehingga akhir tahun ini kami targetkan bisa menjangkau 28 desa dari total 33 desa yang akan dilayani,” kata Steven.
Dalam proses operasional, kata Steven, TPS 3R Balak akan banyak melibatkan warga sekitar. Setidaknya terdapat 275 pekerja yang terlibat dalam pemilahan sampah di TPS ini.
BACA JUGA:
Sungai di Banyuwangi Dipasang Jaring Tangkal Sampah ke Laut
Salah satu warga Desa Balak, Nur Aini mengaku senang dengan adanya program ini karena sampah rumah tangganya bisa terangkut.
“Petugas TPS ambil sampahnya seminggu 3 kali. Selama ini kita timbun saja atau bakar, namun ada TPS ini sampahnya terangkut dan diolah. Saya lebih senang cara ini, meski harus ada bayar bulanan. Iurannya sangat ringan,” kata Nur. [rin/suf]






