Blitar (beritajatim.com) – Tlogo Gentong yang berada di lereng Gunung Kawi Kabupaten Blitar akan menjadi kampung mati. Sebanyak 4 kepala keluarga yang tersisa di kampung yang berada di ketinggian tersebut, akan angkat kaki pada tahun ini.
Sejak tahun 2019 lalu satu persatu warga yang ada di Kampung Tlogo Gentong memang mulai meninggalkan tanah kelahirannya. Total hingga pertengahan tahun 2023 ini sudah ada 12 kepala keluarga yang angkat kaki dari Tlogo Gentong.
Tidak adanya pekerjaan, serta adanya imbauan dari perusahaan teh yang ada disana, membuat warga dengan berat hati meninggalkan Tlogo Gentong. Perkampungan ini memang berada di area HGU PT. Sari Bumi Kawi.
Warga yang menempati perkampungan ini pun merupakan buruh petik daun teh dari PT. Sari Bumi Kawi. Namun sejak 6 tahun terakhir, perusahaan perkebunan teh tersebut bangkrut, hingga akhirnya 16 kepala keluarga yang tinggal di Tlogo Gentong kehilangan mata pencaharian.
Sejak saat itu muncul imbauan agar warga yang menempati Tlogo Gentong untuk pergi ke permukiman baru yang ada di bagian bawah atau berada di eks perkebunan lama. Suasana asri perkampungan Tlogo Gentong yang berada di lembah dan kelilingi hutan membuat warga setempat berat hati untuk pergi.
BACA JUGA:
Nestapa Warga Tlogo Gentong Blitar Angkat Kaki dari Kampung
Belum lagi di tempat itulah mereka dilahirkan dan tumbuh besar hingga sekarang. Rasanya begitu berat untuk pergi dari Tlogo Gentong namun mau bagaimana lagi tanah yang mereka tempati bukanlah miliknya. Warga Tlogo Gentong pun akan menurut kepada tuan lahan, walau tidak ikhlas untuk pergi.
“Riyen kan mriki 16 KK, sak niki teng mriki tiang sekawan, sekawan griyo, tahun niki nggeh diken pindah teng ngandap sedoyo niku (dulu di sini ada 16 kepala keluarga tapi sekarang tinggal empat, tinggal 4 rumah saja sekarang, tahun ini juga disuruh pindah ke area bawah),” kata Muhirin, Warga Tlogo Gentong
Saat ini Tlogo Gentong masih ditempati oleh 4 kepala keluarga. Bangunan ke 4 rumah itu masih berdiri kokoh di area perkampungan yang terasingkan tersebut. Warga yang masih bertahan di Tlogo Gentong ini, kini bekerja sebagai buruh ternak dan berburu ke hutan. Semua itu dilakukan oleh 4 kepala keluarga tersebut demi bisa memenuhi kebutuhan makannya.
“Halah ngrumput mas, niki kambing e tiang naming boro bagi hasil mawon, Mas (halah cari rumput saja, ini kambingnya orang, saya cuma buruh saja dengan sistem bagi hasil),” cerita pria berusia 47 tahun tersebut.
Terlepas dari 4 kepala keluarga tersebut, kini bangunan rumah warga di Tlogo Gentong sudang banyak yang ambruk. Rumah warga yang memutuskan pergi dari Tlogo Gentong kini sudah banyak yang roboh.
Pemandangan seperti kampung mati pun sudah nampak di Tlogo Gentong. Kepulan asap ari bakaran rumput sesekali muncul dari kandang ternak warga yang telah meninggalkan Tlogo Gentong.
BACA JUGA:
Tlogo Gentong, Kampung Terasingkan di Lereng Kawi Blitar
Memang meski telah pergi, namun sebanyak 12 kepala keluarga tersebut masih memiliki kandang ternak di Tlogo Gentong. Mereka yang pergi setiap siang selalu datang ke Tlogo Gentong untuk mencari rumput sekaligus mengawasi ternaknya.
“Niku dibongkar, kalau tidak dibongkar tetap berdiri kokoh, berhubung penduduknya nggak enek jadi dirobohin, tapi nggak ngerti sinten seng ngrobohne (itu, dibongkar kalau tidak dibongkar ya tetap berdiri kokoh berhubung tidak ada penduduknya ya dirobohkan tapi tidak tahu siapa yang merobohkan),” ungkap pria berkulit sawo matang itu.
Kini 4 warga tersisa siap untuk pergi dari Tlogo Gentong. Jika itu terjadi maka Tlogo Gentong akan menjadi Kampung mati yang berada di Lereng Gunung Kawi. Hal ini pun sebenarnya sangat disayangkan, pasalnya Tlogo Gentong memiliki berbagai potensi alam yang biasa dijadikan sebagai desa wisata.
Selain berada di tengah hutan yang memiliki suhu dingin, Tlogo Gentong juga memiliki goa wisata yakni Goa Kucing dan memiliki air terjun. Rumah-rumah warga yang terbuat dari kayu dan masih berkonsep zaman dulu, juga menjadi daya tarik tersendiri dari Kampung Tlogo Gentong.
Namun sayangnya itu semua akan hilang. Tlogo Gentong kini akan tinggal nama, dan beralih menjadi lokasi peternakan sapi perah dari salah satu perusahan multi nasional.
Yang membuat miris 16 kepala keluarga yang sebelumnya ada di Tlogo Gentong terancam kehilangan mata pencaharian. Mesinem jadi bukti nyata, setelah pindah ke perkampungan baru, dirinya tidak mendapat lahan garapan sehingga perempuan itu harus menjadi buruh tani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Wonten mriki mboten wonten pegawean lak mboten pados kiambak, mboten wonten ladang, pokok diwei omah yowes omah tok, embuh lakmu golek ekonomi (di sini tidak ada pekerjaan yang disiapkan kalau tidak cari sendiri. Tidak ada lahan juga cuma dikasih rumah saja),” kata Mesinem, warga Tlogo Gentong. [owi/beq]






