Malang (beritajatim.com) – Gus Ulil atau KH. Ulil Abshar Abdallah hadir di Universitas Islam Malang (Unisma) guna melakukan kajian ahlussunnah wal jamaah (Aswaja). Kegiatan tersebut bertajuk Mbalah Aswaja. Mbalah berarti ‘membedah’, dalam hal ini yang dibedah adalah kajian Aswaja dalam berbagai aspek.
Kajian ini diadakan di Masjid Ainul Yaqin Unisma pada Rabu (24/8/2023) dengan dihadiri dosen dan karyawan. Tema yang diusung pada acara LPIK Unisma ini adalah ‘Keseimbangan Wahyu dan Akal Sebagai Langkah Menepis Radikalisme dan Liberalisme di Indonesia,’.
Dalam pemaparannya Gus Ulil menekankan bahwa agama tidak bisa dipelajari secara otodidak. Agama itu seperti sabda Nabi Muhammad SAW. yang artinya ‘sebagaimana Anda melihat saya (kalian) melihat saya salat,’.
“Salat ya tidak bisa hanya teori saja, baca dari buku, cara salat dari YouTube. Ada orang salat ikut saja. Salat harus melihat guru yang pernah salat, guru ini melihat gurunya salat, gurunya lagi melihat gurunya, terus sampai kepada Kanjeng Nabi, itulah agamq. Sama seperti itu, agama itu adalah pegangan,” kata Gus Ulil.
Menurut Ketua Lakpesdam PBNU ini, mempelajari agama tidak bisa hanya dari bacaan saja, tapi harus ada pegangan. Pegangan tersebut harus terus sampai kepada Nabi Muhammad SAA. Oleh karena itu, Mbah Hasyim Asy’ari di dalam Muqaddimah Qanun Asasi, harus harus dikaji oleh dosen dan karyawan Unisma karena memberikan pendasaran tentang apa sebetulnya Nahdlatul Ulama.
BACA JUGA:
FEB Unisma Datangkan Pakar dari Jepang Kuatkan Entrepreneur
“Nah di dalam Muqaddimah Qanun asasi ini Mbah Hasyim mengutip ilmunya para ahli hadis di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disana dikatakan bahwa apa namanya agama ini perkara yang begitu penting karena itu jaringan harus lihat dari siapa. Dari siapa jenengan itu mengambil, agama ini harus ada pegangan. Pegangan kita itu adalah Abul Hasan Al Asy’ari,” ujarnya.
Lebih lanjut, dijelaskan terkait Al-Qran dan Hadist diajarkan oleh Nabi kepada para sahabat. Sahabat itu mengajarkan kepada para tabiin, tabiin mengajarkan kepada tabiit tabiin, kemudian diajarkan kepada ulama yang hidup setelahnya. Ulama ini merumuskan ini yang menjadi pegangan Aswaja sehingga berhubungan langsung dengan Quran dan Hadist.

“Quran dan hadis itu kita pahami melalui jalan yang dibangun oleh para ulama. Ini karena itu kalau ada orang bertanya anda itu ikut Quran atau ikut Aswaja, itu salah. Karena pertanyaan itu mengandaikan bahwa ada pertentangan antara ajaran Imam Asy’ari dengan ajaran Alquran,” ujarnya.
Kemudian dibahas selanjutnya terkait keberadan 4 mazhab dalam Islam. Jika ada pertanyaan terkait ikut Imam Syafi’i atau Nabi, maka diibaratkan seperti sungai kecil yang mengalir dari mata air besar Nabi Muhammad SAW.
“Jadi mazhab itu banyak tapi itu hanya sungai kecil yang berasal dari mata air yang sama dalam fiqh ada empat mazhab dalam tasawuf juga banyak sungai-sungainya,” lanjut Gus Ulil.
BACA JUGA:
FEB Unisma Gelar Syukuran dan Culture Performance
Indahnya Islam dapat terlihat dari hal itu karena ada satu mata air dengan banyak sungai. Pada kesempatan tersebut, Kyai Ulil Abshar menegaskan tentang ciri khas Aqidah Asy’ariyah. Aqidah asy’ariyah itu aqidah yang ajaran atau ciri khas ajarannya yang utama adalah keseimbangan.
“Keseimbangan itu yang kemudian menjadi judul bukunya ulama besar dalam aqidah asy’ariyah namanya Imam Ghazali. Keseimbangan ini kemudian nanti bermanfaat untuk digunakan dalam aqidah asy’ariyah,” ungkap Gus Ulil di hadapan para audien yang hadir. [dan/suf]






