Jakarta (beritajatim.com) – Suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) telah mengalami peningkatan ke level 5,25-5,50 persen, mencatatkan titik tertinggi dalam dua dekade terakhir. Dampak perubahan ini pada ekonomi global serta implikasinya terhadap perekonomian dalam negeri Indonesia menjadi fokus pembahasan.
Pemaparan tersebut disampaikan melalui Talkshow Tumbuh Makna dengan tema “Pengaruh Kenaikan Suku Bunga The Fed Terhadap Ekonomi Global dan Indonesia” yang diadakan di Jakarta belum lama ini. Diskusi tersebut dihadiri oleh narasumber, yaitu Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara dan Co-Founder Tumbuh Makna, Benny Sufami.
Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga oleh The Fed memiliki dampak yang signifikan bagi negara-negara berkembang. Meskipun demikian, Indonesia tampaknya tidak terpengaruh secara substansial oleh kenaikan ini. Mengapa demikian?
“Namun, situasi Indonesia agak unik. Saat negara maju seperti The Fed menaikkan suku bunga, biasanya kita, seperti Bank Indonesia (BI), juga mengikuti. Namun kali ini, situasinya berbeda. Kenaikan suku bunga oleh The Fed tidak diikuti oleh Bank Indonesia. Banyak faktor yang mempengaruhi, karena peningkatan suku bunga secara agresif dapat mengakibatkan pinjaman konsumen lebih mahal dan mengganggu pemulihan konsumsi dalam negeri. Selain itu, berbagai sektor industri juga dapat terpengaruh oleh kenaikan suku bunga ini,” ungkap Bhima.
Lebih lanjut, Bhima menganalisis bahwa perekonomian Indonesia lebih terkait dengan Tiongkok daripada Amerika, sehingga kenaikan suku bunga The Fed tidak secara langsung mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Karena Tiongkok merupakan salah satu negara mitra investasi dan perdagangan terbesar bagi Indonesia. Ekspor kita ke Tiongkok mencapai sekitar 25 persen dari total ekspor Indonesia, yang tentunya memiliki dampak signifikan,” jelasnya.
BACA JUGA:
Nilai Investasi di Gresik Tembus Rp 12 Triliun di Triwulan Kedua 2023
Bhima juga merujuk pada sebuah studi yang menunjukkan bahwa setiap penurunan ekonomi AS sebesar satu persen hanya akan berdampak 0,01 persen pada Indonesia. Namun, jika ekonomi Tiongkok turun satu persen dalam Produk Domestik Bruto (PDB) mereka, dampaknya terhadap Indonesia dapat mencapai 0,3 persen.
“Kita lebih sensitif terhadap ekonomi Tiongkok. Sehingga kenaikan suku bunga AS belum tentu berdampak langsung pada pasar modal atau surat utang di Indonesia, setidaknya dalam jangka pendek,” tambahnya.
Meskipun fundamental ekonomi nasional kuat, Bhima menyatakan bahwa Indonesia perlu waspada terhadap gejolak ekonomi yang mungkin terjadi pada tahun depan.
“Semester II 2023 dan 2024 akan membawa banyak dinamika. Meskipun The Fed tetap penting untuk diawasi, faktor-faktor lain juga perlu diperhitungkan guna mengurangi risiko. Inflasi masih terkendali, cadangan devisa cukup baik, dan suku bunga masih stabil. Namun, jika suku bunga AS tetap pada level 5,25 persen, kita perlu bersiap untuk menanggapi. Jika terjadi penyesuaian jangka panjang, industri dapat terkena dampak karena suku bunga pinjaman akan lebih tinggi, dan hal ini juga akan mempengaruhi pertumbuhan kredit perbankan serta imbal hasil instrumen investasi di Indonesia,” paparnya.
Bhima meyakini bahwa kuartal III 2023 akan membawa tantangan yang perlu diatasi, terutama terkait keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran. “Di kuartal ini, meskipun inflasi terkendali, kita menghadapi tantangan meningkatnya kebutuhan. Selain itu, tidak ada momen musiman seperti pada kuartal II di mana masyarakat biasanya melakukan perjalanan wisata secara masif. Kuartal III biasanya mengalami peningkatan belanja pemerintah, tetapi belum setinggi kuartal IV. Meskipun begitu, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mencapai sekitar 4,9 persen pada kuartal III,” lanjutnya.
Sementara itu, Benny Sufami, Co-Founder Tumbuh Makna, memprediksi bahwa situasi ekonomi global saat ini tidak akan secara signifikan memengaruhi ekonomi dalam negeri Indonesia. Hal ini karena ekonomi nasional pada kuartal II berada dalam kondisi baik, terutama ditunjukkan oleh pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di atas 5 persen dan tren inflasi yang stabil.
“Data yang kami peroleh menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal II 2023 mencapai 5,17 persen. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tidak akan melebihi 3 persen, dan hal ini tentu merupakan pencapaian baik bagi perekonomian domestik. Selain itu, data awal bulan menunjukkan bahwa inflasi harga konsumen pada kuartal ini lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, yaitu dari 3,52 persen menjadi 3,08 persen (year-on-year),” paparnya.
BACA JUGA:
Semester I 2023, Investasi Hulu Migas Capai US$ 5,7 miliar
Dalam situasi ini, Benny melihat adanya peluang investasi yang menarik. “Peluang investasi terletak pada pasar saham dan obligasi, yang nilai valuasinya masih menarik. Meskipun para investor perlu lebih sabar, tetapi di semester kedua ini, IHSG akan menarik perhatian,” ujarnya.
Mengapa IHSG menarik bagi investor? Benny berpendapat bahwa peluang kenaikan IHSG masih terbuka. “Pada semester II, kita melihat potensi kenaikan IHSG yang signifikan. Pertama, penurunan harga komoditas telah terbatas. Kedua, aktivitas ekonomi domestik diyakini akan meningkat, terutama karena persetujuan anggaran Pemilu sekitar Rp 76 triliun oleh KPU, DPR, dan pemerintah. Ini tentu berdampak positif pada perekonomian dan mendorong kenaikan IHSG. Ketiga, tingkat inflasi terkendali. Keempat, kenaikan suku bunga diperkirakan telah mencapai puncaknya,” jelasnya.
Benny optimis bahwa IHSG akan menguat, berdasarkan analisis historis IHSG menjelang tahun politik. “Berdasarkan data yang kami kumpulkan, biasanya IHSG mengalami kenaikan 6 bulan sebelum pemilu. Ini terjadi pada tahun 2014 dan 2019. Pada tahun 2014, IHSG naik 19,6 persen dalam enam bulan menjelang pemilu, sementara pada tahun 2019, kenaikannya mencapai 11,7 persen. Meskipun tidak ada jaminan bahwa pola ini akan berulang, tetapi trend tersebut cukup konstan. Oleh karena itu, kami optimis bahwa IHSG akan mengalami kenaikan pada semester II ini,” ungkapnya.
Ia juga percaya bahwa pasar obligasi akan mengalami kenaikan, memberikan peluang bagi para investor. “Tumbuh Makna memperkirakan bahwa Bank Indonesia akan menurunkan tingkat suku bunga di awal tahun 2024. Misalnya, yield obligasi negara (SUN) seri 10 tahun saat ini berada pada 6,3 persen, dan prediksi kami untuk tahun depan adalah sekitar 6,1 persen. Ini menciptakan potensi kenaikan harga obligasi. Dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap di atas 5 persen, bahkan jika turun menjadi 4,8 atau 4,9 persen, kami melihat peluang investasi yang menarik, terutama dalam saham dan obligasi,” tegasnya. [beq]






