Jember (beritajatim.com) – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memiliki relasi baik dengan semua kelompok masyarakat di Kabupaten Jember, Jawa Timur, termasuk warga Nahdlatul Ulama atau nahdliyin.
Hal ini ditegaskan Ketua Dewan Pengurus Daerah PKS Jember Sudianto. “Masyarakat NU adalah bagian tak terpisah dari pemilih-pemilih PKS,” katanya, ditulis Minggu (13/8/2023).
Menurut hasil Pemilu 2019, jumlah kursi PKS di DPRD Jember adalah yang terbanyak dibandingkan kursi PKS di daerah-daerah lain di kawasan Tapal Kuda. Tapal Kuda adalah kawasan yang dihuni masyarakat Jawa dan Madura dengan kultur keislaman bercorak NU. Saat ini PKS memiliki 6 kursi di DPRD Jember.
Sementara di DPRD Banyuwangi, PKS hanya punya 2 kursi. PKS juga hanya punya 2 kursi di DPRD Situbondo, 4 kursi di DPRD Lumajang, 5 kursi di DPRD Bondowoso, 2 kursi di DPRD Kota Probolinggo, 3 kursi di DPRD Kota Pasuruan, dan 2 kursi di DPRD Kabupaten Pasuruan. Satu-satunya parlemen daerah di Tapal Kuda yang tak memiliki wakil dari PKS adalah DPRD Kabupaten Probolinggo.
“PKS ini partai terbuka. Jadi siapapun yang berwarga negara Indonesia, bersuku apapun, beragama apapun, bebas untuk masuk PKS, karena PKS adalah wadah aspirasi masyarakat dalam pemerintahan atau kenegaraan,” kata Sudianto.
Sudianto mengatakan, banyak warga nahdliyyin yang masuk ke PKS menjadi kader dan pengurus. “Jadi hubungan kami dengan NU dan kader NU sudah biasa. Jadi PKS ini adalah organisasi politik yang digunakan untuk memajukan pemimpin negara di semua level kenegaraan kita,” jelasnya.
Tempo hari, kantor DPD PKS Jember sempat didatangi puluhan Banser NU yang memprotes penggunaan logo NU di baliho kampanye calon legislator partai tersebut. Sudianto menyatakan siap mencopot semua baliho yang menggunakan logo NU.
“Kami sepakat 100 persen dengan teman-teman GP Ansor, karena organisasi masyarakat tidak mencerminkan partai politik manapun,” kata Sudianto usai bertemu dengan Banser, di halaman kantor DPD PKS Jember, Jumat (11/8/2023) sore. [wir]






