Surabaya (beritajatim.com) – Presiden Joko Widodo telah memanggil Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ke Istana Kepresidenan, Kamis (10/8/2023) lalu. Banyak spekulasi menyebut jika pertemuan tertutup itu terkait Pilpres 2024.
Pengamat Politik UINSA (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel) Surabaya Andri Arianto menilai jika pertemuan itu kian menunjukkan bahwa Jokowi ingin memiliki lebih banyak pilihan cawapres untuk mendampingi Ganjar Pranowo di Pilpres 2024.
“Pak Jokowi akan memberikan tawaran lebih banyak kepada semua orang yang mampu menjaga keberlangsungan kebijakannya selama menjadi presiden, tidak terlepas itu Gubernur Jawa Timur,” ujar Andri kepada beritajatim, Sabtu (12/8/2023).
Mengapa Khofifah? Dikatakan Andri, bahwa di sisi lain Jokowi tampaknya juga melihat Jawa Timur menjadi salah satu lumbung suara terbesar. Dan Khofifah, sebagai gubernur memegang suara itu.
“Yang pasti Jawa Timur sebagai salah satu lumbung suara terbesar kan juga harus dirangkul oleh Presiden Jokowi untuk memadukan dengan Ganjar Pranowo. Secara fakta, Bu Khofifah menang di Jawa Timur. Elektabilitasnya tinggi,” jelasnya.
Selain itu, Khofifah juga dinilai menjadi representasi dari kelompok perempuan dan warga nahdliyin. “Artinya, banyak sekali variabel yang melekat pada Gubernur Jawa Timur,” tutur Andri.
Baca Juga: Sejam Bertemu Jokowi di Istana, Khofifah: Tidak Bahas Pilpres
Hanya saja, Khofifah membantah jika pertemuannya dengan presiden itu terkait Pilpres 2024. Ia mengaku dipanggil Jokowi hanya untuk menjelaskan perkembangan pembangunan di Jawa Timur.
Khofifah juga menyatakan jika belum menentukan langkah politiknya usai masa jabatannya sebagai gubernur berakhir pada 31 Desember 2023 nanti. Langkah politiknya itu, kata dia, akan dibahas bersama para ulama dan kiai di Jawa Timur.
Nah, langkah menunggu rekomendasi ulama dan kiai, kata Andri, memang menjadi kultur bagi warga nahdliyin. Pun dengan Khofifah. Sebagai seorang santri, ia tak ingin dirinya tak mendapat petunjuk dari para sesepuh yang dianggap sebagai guru.
“Bisa jadi Khofifah menanyakan kepada kiai-kiai dalam konteks minta restu, bukan memilih iya atau tidak. Kalau memilih iya atau tidak itu kan bisa dari istiqoroh Bu Khofifah sendiri,” kata Andri.
Pun jika nantinya Khofifah menyatakan siap mendampingi Ganjar Pranowo meneruskan estafet kepemimpinan Jokowi, maka ini akan menjadi prestasi yang belum pernah ada, yakni wakil presiden adalah perempuan. “Menariknya di situ. Ini menjadi prestasi yang belum pernah ada, wakil presiden itu perempuan,” kata Andri. [ipl/ted]
[berita-terkait number=”3″ tag=”pilpres-2024″]






