Kembalinya kenikmatan minum kopi Kukuh Ismoyo dan munculnya kembali optimisme Reva Adi Utama terkoneksi oleh dua gol Persebaya, di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (8/8/2023) sore itu.
Reva adalah kapten Persebaya dalam pertandingan melawan Bhayangkara Presisi Indonesia. Sementara Kukuh adalah seorang Bonek yang menyaksikan pertandingan pekan ketujuh Liga 1 Musim 2023-24 itu via saluran streaming ponsel di kantornya di Surabaya.
Kukuh membanting bolpoin di atas mejanya saat gawang Ernando Ari dibobol Sani Rizky Fauzi pada menit 20 melalui skema tendangan sudut. “Lha iyo, kok isooo?”
Dengan gemas, Kukuh merutuki kinerja barisan pertahanan Persebaya yang lemah mengantisipasi skema bola mati Bhayangkara. Ada sembilan pemain Persebaya di area pertahanan, namun tak ada yang bisa mengantisipasi penempatan posisi Sani. Semua saling menanti seperti menanti Godot Samuel Becket. Dan penantian berubah menjadi penyesalan ketika bola bergulir masuk ke gawang.
Tak elok rasanya menyebutkan daftar umpatan Kukuh di tulisan ini. Namun, jika kekalahan kembali dialami Persebaya seperti pekan lalu, secangkir kopi dengan gula pun terasa sangat pahit. Dan Kukuh bersiap untuk itu.
Persebaya datang ke Bekasi dengan rekor tak pernah menang dalam lima pertandingan terakhir. Reva memimpin tim yang tak ubahnya sepasukan tempur dengan mental yang tengah babak belur. Tak ada opsi selain tiga angka sore itu jika tak ingin terbenam di zona degradasi yang mengisap bagai lubang hitam.
Dan gelagat Persebaya bakal susah keluar dari lubang hitam itu terlihat pada babak pertama. Bola hasil tendangan keras Paulo Victor dan Bruno Moreira bergiliran menghantam mistar gawang Bhayangkara.
Kegugupan mulai merayapi pemain Persebaya. Salah oper berkali-kali terjadi. Mereka seperti mengalami disorientasi. Akankah debut Uston Nawawi sebagai pelatih sementara, berakhir buruk di tangan tim lawan yang pernah memakai nama Persebaya pada masa sengketa Liga Super versus Liga Primer itu?
Uston sebelum pertandingan mengatakan, persoalan yang dihadapi Persebaya hanya keinginan untuk menang. “Bukan kita bisa menang, tapi mau menang atau tidak. Kita butuh tiga K: Kesadaran, Keikhlasan, Kerja Keras.”
Kita tidak tahu apakah Uston terilhami puisi Paman Doblang karya WS Rendra. Namun sore itu Reva adalah orang yang berdiri tegak di atas lapangan yang senantiasa mengingatkan teman-temannya bahwa ‘kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala, dan kerja keras adalah perjuangan melaksanakan kata-kata’.
Sesaat setelah gol Bhayangkara terjadi, Reva bertepuk tangan keras dan berteriak mengingatkan kawan-kawannya bahwa pertandingan belum selesai. Masih ada 70 menit lagi untuk membalik keadaan. “Tetap kerja keras. Waktu masih lama. Fokus. Fokus!”
Dua gol yang dicetak Bruno Moreira Soares pada menit 26 dan Sho Yamamoto pada menit 64 ke gawang Awan Setho Raharjo menjadi jawaban atas kerja keras itu. Dan Reva menjadi pemain yang paling emosional merayakan gol kedua Persebaya.
Dialah pemain pertama yang memeluk erat Sho yang mencetak gol pertamanya musim ini. Sayang kamera televisi tak menyorot selebrasi pemain Persebaya lebih lama dan terburu memutar ulang kronologi gol tersebut. Saya kira, ini momen paling epik dan dramatis dalam pertandingan tersebut.
Ekspresi Reva melebihi ekspresi Sho. Mungkin sama gembiranya dengan ekspresi Kukuh yang segera mengirimkan cuitan dalam akun pribadinya di Twitter: “Nek @persebayaupdate menang ngene Lo, sembarang2 uwenakkkk. Mangan luwekoh. Ngopi, rasa sruputane maknyus. Turu bakale nyenyak. Ayem.” Lupakan dulu nasib bolpoin yang dibantingnya. Anggap saja itu tumbal.
Reva hari itu membuktikan kelayakannya untuk menyandang ban kapten Persebaya kepada Kukuh dan Bonek lainnya. Kapten dalam sebuah tim sepak bola memiliki posisi sangat krusial. Dia harus menjadi representasi pelatih di lapangan untuk menerjemahkan cara sebuah tim bermain.
Chris Evans dalam buku How to Win the World Cup: Secrets and Insights from International Football’s Top Managers mengatakan, seorang kapten haruslah memiliki suara kuat di lapangan dan percaya diri untuk bicara tentang hal-hal atau gagasan-gagasan baru. “Get it right and the back-up can be all-important in key moments; get it wrong and it could be a boss’s downfall,” tulisnya.
Pelatih tim nasional Inggris Sven Goran Eriksson menegaskan, yang dibutuhkan sebuah tim adalah sosok kapten yang dihormati semua pemain. Pemain ini tidak perlu sering meneriaki pemain lainnya. “Tapi saat dia bicara, pemain lainnya mendengarkan,” katanya.
Itulah kenapa, menurut Evans, biasanya seorang kapten adalah pemain paling senior dan memiliki pengaruh kuat di ruang ganti. Seorang pelatih sangat berhati-hati dalam menentukan seorang kapten dan dua atau tiga orang wakil kapten. Kapten yang terlalu kuat melebihi otoritasnya bisa bikin seorang pelatih sakit kepala. Namun jika terlalu lemah, tak akan efektif memimpin tim dan ini bisa berdampak terhadap kepercayaan diri pemain lain.
Tidak selamanya seorang bintang di sebuah klub menjadi kapten. Aspek kebintangan tidak masuk dalam indikator pemilihan seorang kapten. Apalagi tidak semua pemain bintang bisa bermain kolektif dan membuat sebuah tim bermain dengan kohesivitas bagus. Seorang kapten tak hanya harus disegani di dalam lapangan tapi juga di luar lapangan. Ketika ada masalah yang dihadapi kawan-kawannya, dia adalah orang yang akan mencari solusi lebih dulu sebelum mengetuk pintu ruang kerja pelatih.
Saat Luis Suarez dilanda kegalauan karena ingin keluar dari Liverpool, Steven Gerrard adalah orang pertama yang menemani dan mengajaknya bicara. Bukan sang pelatih Brendan Rodgers. Kepercayaan kepada Gerrard yang membuat pemain asal Uruguay itu bertahan semusim lagi dan nyaris membawa Liverpool juara liga Inggris pada musim 2013-14.
Ada kalanya pergantian pelatih di sebuah klub tidak otomatis membuat pergantian kapten tim. Steven Gerrard tetap menjadi kapten di Liverpool saat pelatih datang dan pergi, mulai dari Rafael Benitez, Roy Hodgson, Kenny Dalglish, hingga Brendan Rodgers. Posisinya baru digantikan Jordan Henderson setelah dia memutuskan pensiun dari Liverpool.
Setelah Henderson memutuskan pergi dari Liverpool, pelatih Jurgen Klopp tidak serta-merta memilih kapten baru. Ada sejumlah kandidat, mulai dari Virgin van Dijk, Andrew Robertson, Trent-Alexander Arnold, Mohamed Salah, dan Alisson Becker. Klopp tahu satu dari sekian kunci keberhasilan adalah ketepatan dalam memilih kapten tim.
Mengacu dari semua itu, seharusnya pemilihan kapten di Persebaya juga dilakukan dengan sangat hati-hati dan penuh pertimbangan. Ini yang tidak terlihat di Persebaya musim ini.
Setelah Rendy Irwan tak lagi berada di Persebaya, praktis tim ini kekurangan pemain senior untuk membimbing para pemain muda. Ada nama seperti Muhammad Hidayat yang sudah memperkuat Persebaya sejak di Liga 2 2017 dan merupakan pemain terlama di tim. Namun dia tidak mendapat kepercayaan untuk menjadi kapten.
Kapten Persebaya musim sebelumnya adalah Slamat Alwi. Namun setelah proses perpanjangan kontraknya sempat alot, ban kapten tak lagi melingkar di lengan pemain yang masih berstatus tentara aktif tersebut. Aji Santoso memilih menyerahkan ban kapten pertama kepada Ze Valente yang baru bergabung musim lalu dan menunjuk Reva maupun Dusan Stevanovic sebagai alternatif.
Kita tidak tahu persis alasan Aji Santoso pada awal musim menunjuk Ze sebagai kapten dan Dusan sebagai opsi alternatif. Yang jelas, keputusan itu bukannya tanpa celah.
Valente memang pemain bintang yang bermain dengan teknik apik. Namun susah mengharapkan Valente menjadi kapten seutuhnya di dalam dan di luar lapangan, yang tak hanya menjadi panutan permainan, namun juga memiliki kedekatan emosional dengan pemain lokal. Dia menghadapi kendala perbedaan budaya, kendati bisa berbahasa Indonesia.
Pemilihan Stevanovic sebagai kapten justru lebih ganjil lagi. Pemain asal Serbia itu adalah pemain baru dan pemain asing terakhir yang bergabung dengan Persebaya musim ini. Tak hanya harus mengatasi persoalan komunikasi, dia harus bekerja keras menciptakan harmoni dengan pemain lain, terutama di lini belakang.
Dusan saat ini tak butuh beban lebih berat sebagai kapten atau wakil kapten, untuk memimpin sekumpulan pemain yang sudah saling kenal jauh sebelum ia datang. Apalagi sejauh ini performa Dusan pun jauh dari mengesankan. Selama tujuh pekan Liga 1, Persebaya tak pernah mencatatkan clean sheet. Faktor kemampuan berbahasa bisa jadi merupakan satu dari sekian pangkal persoalan rapuhnya pertahanan Persebaya musim ini.
Performa dan militansi Reva di Bekasi seharusnya cukup membuka mata Uston untuk menjadikan pemain asal Makassar itu opsi pertama kapten Persebaya. Penyegaran di tubuh Persebaya tak hanya menyangkut pergantian pelatih, tapi juga pada posisi jenderal di lapangan. Ze Valente tetap bisa menjadi playmaker andalan Persebaya tanpa harus menjadi seorang kapten. Reva adalah jawaban dari pencarian sosok pemimpin di lapangan yang menjadi generator tim.
Dengan begitu kenikmatan minum kopi para pendukung Persebaya tak lagi terganggu dan mereka semakin bahagia. [wir]






