“Hadirin, mari meriahkan defile Religic ini dengan bersama-sama menyalakan flash light hand phone,” suara pemandu acara membelah alunan lagu instrumental saat para talent berjalan menyusuri catwalk di Jalan Sudarman, Sabtu (5/8/2023) malam.
Lampu sorot utama dipadamkan, dan terdengarlah suara koor reffrain lagu ‘Heal The World’ yang diikuti kelap-kelip sinar lampu ratusan ponsel penonton yang duduk di sisi catwalk mengiringi lenggak-lenggok para talent. Beberapa penonton di sekitar saya juga ikut bernyanyi.
Adegan ini menjadi adegan yang paling berkesan dalam Grand Carnival Jember Fashion Carnaval ke-21 bertema Timelapse: Journey of the Earth malam itu. Sebelumnya, di defile yang sama, beberapa bocah perempuan yang menjadi talent model menari dengan masing-masing membawa setangkai bunga, dan kemudian memberikannya kepada penonton. Seorang penonton perempuan terkejut saat mendapat sodoran bunga itu dan berterima kasih dengan diabadikan beberapa penonton lain dengan kamera ponsel.
Ini tahun kedua Jember Fashion Carnaval (JFC) dilaksanakan pada malam hari. Sebelumnya, selama bertahun-tahun JFC digelar pada siang hari. Tahun lalu, Yayasan JFC memutuskan penyelenggaraan pada malam hari sebagai solusi terhadap kontroversi yang selalu berulang setiap tahun: jam waktu salat.
Di kota dengan kultur religius keislaman yang kental seperti Jember, ini perdebatan yang tak boleh diabaikan. Kalangan ulama di Jember menilai JFC membawa mudarat, karena membuat pelaku maupun penonton melewatkan dua waktu salat, asar dan magrib. Suara minor tak lagi terdengar setelah JFC diselenggarakan pada malam hari sejak tahun lalu.
Ini sebuah pilihan yang sangat berisiko sebenarnya dari aspek pembiayaan. Biaya operasional untuk menggelar pertunjukan menjadi lebih besar, karena JFC harus menyediakan ratusan lampu sorot yang tak cukup hanya terang benderang, tapi juga layak bagi para fotografer dan juru kamera yang menjadi ujung tombak promosi JFC.
JFC belajar banyak dari sekian kelemahan tahun lalu. Mereka memasang 268 unit lampu sorot sepanjang 3,6 kilometer jalan raya yang menjadi catwalk sejak Jalan Sudarman hingga Jalan Gajah Mada. Mereka juga beradaptasi dari aspek desain kostum dengan menambahkan lebih banyak ornamen cahaya, baik pada busana maupun kendaraan yang digunakan.
Interaksi dengan penonton menjadi kekuatan JFC tahun ini. Talenta cilik yang memberikan bunga untuk penonton maupun ajakan penonton menyalakan lampu ponsel memperkaya pertunjukan dan memperkuat narasi defile. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, defile tahun ini lebih teatrikal dan naratif dengan memasukkan unsur-unsur yang jauh dari kostum khas JFC, seperti arak-arakan motor besar alias moge dalam defile World War.
Lebih terbukanya JFC terhadap opsi-opsi di luar kekhasan mereka sebenarnya sudah terlihat tahun lalu. Saat itu, JFC memasukkan seni hadrah dalam defile bertema The Hadra Rythm Carnaval. Mereka tampil dengan mengenakan busana muslim. JFC mencoba berdialog dengan hal-hal di luar mereka, yang kemudian justru bisa membuat karnaval ini bisa menggandeng lebih banyak kelompok di masyarakat.
Keterbukaan seperti ini tidak terlihat selama Dynand Fariz masih hidup dan memimpin JFC. Ia seorang yang perfeksionis dengan kalkulasi matang dan minim ‘elemen of surprise’. Interaksi dengan penonton dalam pertunjukan sebagaimana terjadi pada JFC tahun ini nyaris tidak pernah ada (untuk mengatakan tidak ada). Boleh dikatakan Dynand adalah JFC dan JFC adalah Dynand.
Sepeninggal Dynand tak ada sosok tunggal di JFC. Ketua Yayasan JFC Suyanto lebih memposisikan diri sebagai pengayom dan cenderung menyerahkan persoalan teknis kepada anak-anak muda. Presiden JFC Budi Setiawan memiliki banyak ide, namun dia bukan sosok yang dominan seperti Dynand dan terbuka terhadap semua opsi dari rekan-rekannya.
Masuknya sesi JFC For Democracy, yang merupakan usulan Wakil Ketua Yayasan JFC David Susilo, sebagai sesi terakhir karnaval utama menunjukkan keterbukaan Setiawan terhadap kemungkinan dan situasi yang dinamis.
Kendati berada di ujung pertunjukan karnaval, JFC For Democracy berhasil mengirimkan pesan kuat untuk mendukung agenda nasional. Ini melengkapi defile Nusantara yang menarasikan pembangunan Ibu Kota Negara Nusantara di Kalimantan sebagai bagian dari perjalanan peradaban di Indonesia.
JFC hari ini adalah JFC yang mencoba terbang sendiri setelah selama hampir dua dasawarsa berada di bawah kepakan sayap Dynand Fariz. Dynand pergi setelah citra JFC sangat kuat untuk membentuk jejaring yang bisa menjadi magnet bagi banyak pesohor nasional untuk hadir, seperti Yuki Kato, Arumi Bachsin, Erika Carlina, maupun Prilly Latuconsina.
Tentu saja masih ada sejumlah catatan bagi JFC kali ini. Efisiensi waktu masih menjadi persoalan. Sejumlah siswa SMP yang mendapat tugas mengabadikan JFC dari tepi Jalan Gajah Mada terpaksa pulang lebih dulu karena mengantuk, setelah berjam-jam menanti parade yang tak juga lewat. Bekerja sama dengan Pemkab Jember, JFC perlu membuka lebih banyak videotron agar ribuan warga yang tak membeli tiket untuk menyaksikan di venue utama bisa ikut menikmati sajian defile busana itu.
Dan seperti biasa, ratusan ribu penonton yang memadati Jalan Sultan Agung dan Jalan Gajah Mada meninggalkan berton-ton sampah yang bisa membuat petugas kebersihan berkeringat. Kalau soal ini, memang lebih sulit daripada mengajak penonton menyalakan lampu ponsel diiringi lagu Heal The World. [wir]






