Jember (beritajatim.com) – Puluhan batu meteor berbagai ukuran dipamerkan di Pendapa Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember, Jawa Timur, 4 – 6 Agustus 2023. Batu-batu meteor itu sebagian berbentuk bola.
Suyanto, kolektor dan pemrakarsa pameran batu meteor tersebut, mengatakan, pameran pertama digelar dua tahun lalu. “Saat itu dipamerkan 76 artefak. Kali ini karena ulang tahun kemerdekaan ke-78, kami pamerkan 78 buah bola, artefak, kristal meteorit,” katanya, dalam pembukaan acara di pendapa, Jumat (4/8/2023).
Pameran tersebut adalah bagian dari Jember Fashion Carnaval. “Bukan untuk tujuan pribadi, tapi untuk tujuan lebih besar lagi. Saya sudah mendalami meteorit ini selama enam tahun dan adik saya mendalaminya sepuluh tahun. Kami juga mempelajari segala informasi dalam dan luar negeri tentang benda ini. Kami tidak ingin JFC yang sudah dua dekade menjadi sia-sia karena kepentingan pribadi,” kata Suyanto.
Melalui pameran itu, Suyanto ingin memberitahu publik tentang banyaknya benda angkasa yang jatuh di wilayah Indonesia. “Kalau dibandingkan negara lain, temuan di tempat kita tidak kalah luar biasanya,” katanya.
Batu meteor Indonesia memiliki keunggulan dari sisi keunikan dan keindahan. “Jadi dunia harus tahu bahwa Indonesia juga kena berkah Tuhan, kejatuhan benda-benda langit,” kata Suyanto.
Meteor berbentuk bola tergolong langka, terutama dengan volume cukup besar. “Biasanya di negara lain; ketemunya kecil-kecil dan tak banyak variasinya,” kata Suyanto.
Batu-batu meteor tersebut jatuh di Jawa. “Penemunya biasanya tak ingin temuannya diekspos keluar. Kadang orang banyak ikut mencari, akhirnya lingkungan rusak, karena (tanah) digali semua,” kata Suyanto.
Suyanto mengoleksi batu-batu meteor itu untuk menyelamatkan agar tidak berpindah tangan ke luar negeri. “Tujuan kami adalah bisa dibuat museum meteorit, baik yang karena alam maupun dibuat leluhur kita pada zaman dulu,” katanya.
Batu-batu meteor itu tak gratis. Suyanto mengaku memberikan mahar untuk penemu batu-batu. “Sebagai penemu, dia juga keluar biaya. Maharnya tergantung besarnya, beratnya, banyak faktor. Ada yang harga Rp 1 juta, Rp 2 juta. Yang paling mahal? Berapa ya. Saya kira kalau dibanding dengan di luar (negeri), saya kira lebih murah,” katanya.
Bupati Hendy Siswanto berharap pameran ini menjadi rutin digelar setiap tahun. “Tapi perlu ada kajian teknis, kajian ilmiah, (agar baru meteor itu) bisa diyakini keasliannya. Kalau keasliannya bisa diakui secara ilmiah,” katanya.
Hendy berharap bisa menguji keaslian batu-batu meteor tersebut di luar negeri dengan dibantu kedutaan besar atau konsulat jenderal negara tersebut. “Kami akan support,” katanya.
Suyanto setuju jika batu meteor itu perlu diteliti secara ilmiah. “Hasil kajian ilmiah diperlukan dan itu tujuan kami, karena dengan itu bisa diakui,” katanya. [wir]






