Jember (beritajatim.com) – Ada pemecahan rekor Muri (Museum Rekor Indonesia) untuk jumlah pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan lampu sorot pada saat penyelenggaraan karnaval utama Jember Fashion Carnaval (JFC), di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (5/8/2023) malam.
Pemerintah Kabupaten Jember mengajukan usul pemecahan rekor untuk pemrakarsa dan penyelenggara peragaan busana yang melibatkan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) terbanyak dan peragaan busana dengan lampu sorot terbanyak.
“Dua rekor ini akan dinilai oleh Muri pada 5 Agustus 2023, sekitar pukul enam sore, karena ada lampu sorot. Jadi lampu harus hidup, kemudian dihitung bersama UMKM yang terlibat dalam event ini,” kata Sekretaris Dinas Koperasi dan UMKM Jember Nurul Hafid Yasin, Kamis (3/8/2023).
Sebenarnya ada dua usulan pemecahan rekor lagi, yakni pagelaran peragaan busana dengan barikade terpanjang dan pameran eksibisi batu meteor di Pendapa Wahyawubawagraha. Namun dua usulan ini ditolak oleh Muri.
Dinkop menargetkan 2.500 UMKM terlibat dalam pemecahan rekor ini, 1.800 pedagang di antaranya adalah undangan yang difasilitasi pemerintah Kecamatan Patrang dan Kaliwates serta Kelurahan Jember Lor, Gebang, Jember Kidul, Kepatihan, dan Kaliwates. Camat dan lurah diminta mendata warga dan UMKM binaan yang ingin berpartisipasi dalam acara tersebut.
Rencananya, sebanyak 200 UMKM akan tersebar di sekitar alun-alun dan arena pameran, dan sekitar 2.300 UMKM berada di sekitar runway atau jalur perjalanan karnaval sepanjang 3,6 kilometer dari alun-alun menuju Gelanggang Olahraga PKPSO Kaliwates. Namun Dinas Koperasi dan UMKM mengantisipasi penataan 700 pedagang yang tidak terdata sehingga tidak terjadi benturan.
UMKM yang ditata di alun-alun dengan menggunakan tenda-tenda bagus, menurut Hafid, adalah UMKM yang naik kelas. “Naik kelas di sini dalam artian perizinan, packaging, maupun produknya sudah layaj dipasarkan sampai ke luar Jember. Sementara di luar alun-alun ada PKL dan UMKM yang masih dalam binaan. Misalkan perizinannya masih NIB (Nomor Induk Berusaha), belum sampai sertifikasi halal. Itu kami tata sepanjang runway JFC,” katanya.
Ada empat klaster penataan PKL dan UMKM yang mengikuti jalur runway sepanjang Jalan Sultan Agung dan Gajah Mada. Klaster pertama di Jalan Sultan Agung, yakni Masjid Baitul Amien sampai jembatan Jompo, lapak pedagang diletakkan di sisi utara runway.
Klaster kedua terletak antara jembatan Jompo hingga depan restoran Yoshinoya. Lapak pedagang ditata di dua sisi runway, utara dan selatan. Dua klaster berikutnya sejak Yoshinoya hingga GOR PKPSO, lapak pedagang ditata di sisi utara jalan.
“Hasil koordinasi dengan Dinas Perhubungan Jember maupun kepolisian, agar tidak mengganggu penonton, PKL ditata 1,5 – 2 meter dari pagar barikade luar dan lurus sampai garis finish. Namun di titik-titik tertentu yang masih luas, kami akan tata dua baris,” kata Hafid.
“Nanti pedagang yang membawa gerobak, rombong, meja akan ditempeli kertas identitas peserta penghitungan rekor Muri. Jadi lapaknya tidak kami seragamkan. Tergantung milik mereka,” kata Hafid.
Sementara itu untuk pemecahan rekor lampu sorot, Hafid mengatakan, ada kurang lebih 197 unit lampu yang akan dinilai dan dihitung oleh tim rekor Muri. “Jarak antar lampu sekitar 20 meter, sejak samping masjid Baitul Amien hingga GOR,” katanya.
Bagaimana jika ada PKL dari luar Jember? “Ini yang kami antisipasi. Kami hanya mengundang UMKM di Jember. Tapi dalam event seperti ini kan ada hal-hal yang tidak bisa kita antisipasi, Misalkan, UMKM yang kita undang harus loading barang pada pukul tiga sore, ternyata pedagang dari luar kota sejak pagi sudah di sini. Kami akan kolaborasikan. Yang jelas menghindari benturan antarpedagang,” kata Hafid.
Petugas Pemkab Jember akan menyisir jalan yang akan dilewati arak-arakan defile JFC pada Sabtu (5/8/2023) pagi untuk memantau keberadaan pedagang. “Nanti kami akan tata kembali agar tidak ada benturan, sebab kalau diusir akan rawan,” kata Hafid. [wir]






