Malang (beritajatim.com) – Guru besar Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. Hj. Yuni Pratiwi, M.Pd., menilai bahwa pembelajaran sastra dapat digunakan untuk menanamkan karakter kebangsaan pada siswa. Akar semangat kebangsaan telah ditanamkan oleh para pejuang kemerdekaan yang berhadapan dengan penjajah telah direkam oleh para sastrawan.
“Kita bisa menanamkan karakter kebangsaan siswa melalui pembelajaran sastra. Karena semangat kebangsaan yang tinggi merupakan pilar penting berdirinya sebuah negara,” ujar Prof Yuni saat diwawancarai pada Rabu (2/8/2023).
Karya sastra yang bermuatan semangat kebangsaan dapat digunakan oleh para pendidik sebagai sumber pelajaran. Peserta didik dapat memiliki kompetensi kognitif dan afektif untuk tumbuh kembang ke alam dewasa sebagai pembela bangsa.
BACA JUGA:
Universitas Negeri Malang Tambah 5 Guru Besar
“Fokus saya dulu awalnya di SMP , tapi kam pembelajaran sastra itu dilaksanakan juga di SD dan SMA , MA, dan SMK. Kita berharap melalui sastra, siswa dapat mencintai bangsa dan negaranya. Dan itu menjadi motivasi besar di dalam hidupnya untuk kehidupan kebangsaanya,” ungkap guru besar UM bidang pembelajaran bahasa Indonesia ini.
Dasar dari pembelajaran sastra ada literasi sastra. Literasi sastra dimulai dari membaca , menulis, dan aktivitas kesenian yang terkait sastra. Dalam belajar sastra, peserta didik menggunakan otak secara berimbang antara otak belahan kiri dan kanan.
“Penggunaan otak belahan kanan dan kiri terjadi dalam pembelajaran sastra sehingga pengembangan kompetensi logika dan rasa berproses secara berimbang untuk membentuk jiwa bangsa. Terjadi keseimbangan antara intelektualitasnya dan imajinasinya” lanjut dosen dari Fakultas Sastra UM ini.

Menurutnya, sastra hadir sebagai diskursus nilai moral. Jika dunia realitas diskursus nilai moral menjadi pengetahuan tentang dogma, dalam sastra nilai moral menjadi pengalaman batin yang mendalam sehingga pembaca sastra memiliki ranah berpikir dan bersikap yang independen dan terlatih sebagai pribadi bertanggung jawab terhadap keputusannya.
“Peristiwa yang dialami tokoh dalam berbagai situasi, dapat menjadi bahan renungan falsafah kehidupan kebangsaan yang amat dalam. Peserta didik memetik butir kebajikan dan nilai kearifan hidup untuk pengenalan fitrah kemanusiaan dalam skala horizontal dan vertikal dan mengantarkan tumbuh kembang ke alam dewasa sebagai pembela bangsa dan tanah airnya,” kata Prof Yuni Pratiwi mengakhiri penyampaian.
Prof. Yuni Pratiwi akan dikukuhkan bersama dengan Prof. Dr. Murni Sapta Sari, M.Si., Prof. Dr. Agung Winarno, M.M., Prof. Dr. Tuwoso. M.P.., dan Prof. Aji Prasetya Wibawa, S.T., M.MT., Ph.D. Kelima guru besar ini dikukuhkan di Aula GKB A19 Lantai 9 UM pada Kamis, 3 Agustus 2023. [dan/suf]






