Yogyakarta (beritajatim.com) – Tagar Jogja Darurat Sampah terus bergema sejak penutupan Tempat Pembuangan Sampah Terakhir (PTST) Piyungan Bantul ditutup sejak 23 Juni hingga rencananya 5 September 2023 mendatang.
Akibatnya di ruas jalan kawasan Yogyakarta banyak sekali dijumpai gundukan sampah dibuang sembarangan. Beberapa sudut khususnya kawasan Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul menjadi kumuh dengan makin banyaknya warga membuang sampah sembarangan utamanya pada malam hari.
Atas permasalahan hal ini dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menawarkan solusi terkait pengelolaan sampah. Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universitas Gadjah Mada ( UGM) Dr. Mohammad Pramono Hadi, M.Sc menuturkan seharusnya menjadi tanggungjawab bersama untuk dilakukan musyawarah dan diskusi terkait penyelesaiannya. Sampah harus menjadi pelayanan yang dikelola oleh pemerintah karena akan berujung kepada kebersihan dan kesehatan serta peran stakeholder sangat kuat dalam hal ini.
Dirinya mencontohkan tentang yang terjadi di Pemerintah Daerah Sleman, mereka memiliki ide membuat tempat pembuangan sampah sementara di daerah Sleman utara yaitu berlokasi pada sisa lokasi penambangan pasir.
Ia mengatakan hal ini malah menimbulkan masalah baru dikarenakan di sana merupakan daerah resapan sehingga akan mengakibatkan kacaunya air tanah.
“Hal yang harus kita sadari adalah mengenalkan dulu jenis-jenis sampah kepada masyarakat dan dilakukan dengan membuat Perda yang disana akan diatur serta saya mengusulkan konsep sampah berbayar,” jelasnya.
Adapun konsep dari sampah berbayar ini adalah jika seseorang atau keluarga ingin membuang sampah dengan membayar sedikit, maka harus mengelola sampahnya sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan pemilahan sampah secara mandiri.
“Jika produksi sampah rumahtangga banyak maka ditarik bayaran tinggi kalau sedikit bayarannya rendah. Yang produksi sampahnya sedikit tarif paling murah Hal ini karena rumah tangga dengan produksi sampah sedikit berarti ada pengolahan terlebih dahulu,” tambahnya.
Ditambahkannya sampah dari bahan organik dapat dikelola sendiri dengan dijadikan kompos, kemudian sampah dari kertas disisihkan sendiri serta sampah plastik juga disisihkan sendiri yang nantinya akan ada pihak ketiga yang akan mengambil.
Harapannya nanti yang diambil adalah residunya saja sehingga menjadi lebih sedikit. Namun pasti akan ada masyarakat yang mampu membayar lebih banyak dikarenakan tidak sempat mengelola sampahnya sendiri.
Baca Juga: Warga Kotagede Yogyakarta Lempar Sampah ke Truk DLH
Apabila proses 3R (Reduce, Reuse, Recycle) pada sampah dilakukan dan diperketat maka masyarakat akan berhemat. Misalnya sampah-sampah sisa makanan di suatu daerah tertentu akan dikumpulkan untuk bahan makan maggot. Hal-hal semacam ini diharapkan akan muncul dengan sendirinya. Termasuk yang buang sampah sembarangan diberikan sanksi bukan hanya teguran tapi menjadi tindak pidana ringan yang bisa diadukan.
Metode sampah berbayar adalah solusi untuk pemyelesaian problematik yang hingga saat ini masih menjadikan pernasalahan publik.
Ditanya mengenai kondisi TPST Piyungan saat ini hal ya g bisa dilakukan dengan teknologi.
Saat ini sedang ramai-ramainya pengurangan penggunaan bahan bakar batubara untuk PLTU dan sebagainya dengan cara co-firing yaitu campuran bahan bakar. Jika diproses dengan kadar air kurang dari 20%, maka sampah akan mengandung kalori untuk bahan bakar.
Teknologi ini dapat diterapkan agar sampah yang terkumpul sebanyak 600 ton perhari di TPA Piyungan dapat dikelola dengan dicacah, dikompres, dan diangin-anginkan kemudian dikemas maka akan menjadi rdf atau bahan bakar.
Plastik memiliki kalori untuk menggantikan fungsi batubara pada prosesnya. Sampah yang ada di TPA Piyungan bisa ditambang secara dikit demi sedikit kemudian dipilah dan diolah satunya menjadi pupuk dan satunya menjadi bahan bakar. Maka hal ini akan bisa memfungsikan lagi luas TPA Piyungan.
TPST Piyungan ini didesain sejak sekitar 40 tahun yang lalu dengan luas 16 hektare menggunakan sistem sanitary landfill yaitu sistem pengelolaan atau pemusnahan sampah dengan cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi cekung, memadatkannya, dan kemudian menimbunnya dengan tanah dengan harapan mengalami dekomposisi agar terurai.
Seiring berjalannya waktu ternyata gaya hidup manusia berubah ditunjukkan dengan berubahnya karakteristik sampah yang dihasilkan. Kalau sekitar 40 tahun yang lalu sampah didominasi oleh sampah organik, sejak tahun 1980-an mulai banyak kemasan sehingga pada saat ini sampah di perkotaan didominasi bahan anorganik terutama plastik.
Perubahan karakteristik sampah tersebut tidak diikuti dengan perubahan metode pengelolaan sampah di TPST Piyungan, yaitu tetap menggunakan metode sanitary landfill.
Namun juga sampah dibiarkan menggunung maka julukan kota Yogyakarta sebagai kota pelajar maka wisatawan datang, jika kota dibiarkan kumuh akan sangat disayangkan.
Kondisi tumpukan sampah di TPA Piyungan yang semakin tinggi dan melebihi kapasitas membutuhkan pembenahan dalam waktu dua bulan untuk menata ulang kawasan tersebut. Pemusatan pengelolaan akhir sampah pada satu lokasi supaya efisien ditambah dengan adanya perubahan gaya hidup dari pedesaan menjadi perkotaan tentu memerlukan pihak ketiga untuk mengelolanya.
Sebenarnya penurupan TPST Piyungan sering dilakukan penutupan akibat overload.
“Kejadian ini akan terus bergulir jika tidak ada solusi yang konkret untuk mengatasi permasalahan tersebut,,” tutupnya. (rka/ted)
[berita-terkait number=”3″ tag=”sampah”]






