Saat Song For Pride. lagu ‘kebangsaan’ Bonek dan Persebaya, berkumandang dari tribun Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (30/7/2023) malam, saya teringat peristiwa 22 tahun silam. Tepatnya 4 Oktober 2001, saat gol Uston Nawawi dari titik putih penalti dibalas oleh Luciano Leandro dan Antonio Claudio. Persebaya kalah di semifinal, dan Persija menjadi juara di laga pemuncak.
Pertandingan usai, namun pertempuran antara Bonek dan Jakmania baru saja dimulai. Kaca bus umum yang saya tumpangi bersama adik saya hancur diserang batu dan kayu oleh Jakmania.
Saya tidak tahu bagaimana bentrokan itu berawal, karena sebelum pertandingan saya tidak melihat insiden apapun. Bahkan suporter Persebaya dan Persija berbagi saf menunaikan salat berjamaah di Masjid Al Bina. Mereka juga antre beli jajanan bersama di lapak pedagang kaki lima. Di bus umum pun, Bonek bertemu Jakmania dan tidak ada gesekan. Bahkan seingat saya mereka bertukar kaos maupun syal.
Namun apa boleh buat, kerusuhan terlanjur pecah. Tangan adik saya berdarah terkena pecahan kaca. Sejak saat itu, saya tidak pernah bermimpi Bonek bakal bisa datang ke Senayan untuk mendukung Persebaya lagi. Terlebih pada 2004 dan 2005 kembali terjadi bentrok antar dua kelompok suporter di Jakarta. Bentrokan antardua kubu ini yang dijadikan alasan Persebaya untuk mengundurkan diri di tengah Babak Delapan Besar.
Harapan rekonsiliasi antarsuporter sempat terbit pada Minggu, (3/6/2018), saat Persija menjamu Persebaya dalam kompetisi Liga 1, di Stadion Sultan Agung, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun bentrokan kembali terjadi, sehingga pertandingan pun ditunda.
Kasat mata, tak ada harapan lagi untuk mendamaikan dua kelompok suporter tersebut. Namun rupanya masih ada sebagian suporter di dua kubu yang tetap percaya rekonsiliasi bisa terjadi. Kisah persahabatan Dio Alif dan Rizky Febrianto mengilhami mereka.
Dio adalah Bonek, dan Rizky adalah The Jak. Hari itu, Dio menemani Rizky usai menyaksikan pertandingan Persija melawan Persela di Lamongan. Sebuah insiden tabrak lari mengakhiri hidup mereka saat sedang berboncengan sepeda motor di Jalan Ngagel, Surabaya, 21 Mei 2018.
Menjelang pertandingan semalam, sejumlah akun media sosial mengabarkan, 30 Juli adalah tanggal lahir Dio. Tentu sebuah kebetulan. Tapi saya merasa pertandingan di GBK pada pekan kelima Liga 1 ini adalah jawaban atas doa orang-orang baik seperti Dio dan Rizky. Doa orang-orang baik yang tak ingin sepak bola hanya membawa kabar buruk dan kesedihan.
Ada riak-riak semalam, seperti masih adanya bentrokan seusai pertandingan. Sejumlah kabar buruk, dan belakangan diketahui itu hoaks, mampir di lini masa media sosial. Namun itu semua tak mengalahkan fakta besar, bahwa ratusan Bonek bisa diterima di dalam stadion dan bebas mengekspresikan dukungan. Bukan sekadar dukungan, tapi dua kelompok suporter bebas saling beradu olokan dengan nyanyian tanpa harus saling menyerang.
Puluhan tahun lalu, tidak akan ada yang pernah berpikir ratusan Bonek di GBK bisa dengan bebas bernyanyi: ‘Yo ayo ayo Persebaya, bikin malu Persija’, yang kemudian dibalas suporter Jakarta dengan lagu serupa dengan lirik yang diubah: ‘Yo, ayo ayo Persija bikin malu Persebaya’.
Tentu saja Persija dan Persebaya harus mempersiapkan uang denda masing-masing Rp 25 juta untuk PSSI. Namun melihat kembalinya sepak bola sebagai olah raga yang membahagiakan dan mempersatukan di Senayan, rasanya denda itu tidak ada artinya.
PSSI tak boleh menutup mata terhadap suasana kondusif di stadion, dan sebaiknya mulai memikirkan formulasi yang tepat dalam menata manajemen pertandingan. Hanya bisa melarang dan menjatuhkan sanksi denda kepada klub jelas kebijakan jalan pintas.
Sejauh ini mayoritas suporter sudah mengerjakan pekerjaan rumah untuk bersikap sportif, bersahabat, dan tak melakukan kekerasan terhadap kelompok suporter lawan di dalam stadion. Maka sebaiknya PSSI juga harus mulai serius menyelesaikan pekerjaan rumah untuk membenahi kualitas wasit dan hakim garis.
Dalam pertandingan di GBK itu, kamera televisi menangkap jelas setidaknya dua pelanggaran oleh bek Rizky Ridho terhadap pemain Persebaya di dalam kotak penalti Persija. Masing-masing berupa dorongan terhadap Bruno Moreira, dan sepakan kaki yang terlalu tinggi hingga mengenai kepala Sho Yamamoto. Namun tak ada hadiah penalti untuk Persebaya.
Sistem promosi dan degradasi wasit harus dijalankan secara konsisten. Jika sebuah tim dinilai berdasarkan hasil pertandingan, maka wasit dan hakim garis juga perlu dinilai berdasarkan tingkat kesalahan selama memimpin pertandingan. Kedewasaan suporter dalam menyikapi kekalahan tidak kemudian jadi alasan wasit teledor dalam bekerja.
Sementara bagi Persebaya, ketidakcermatan wasit dan hakim garis harus disikapi pelatih Aji Santoso dengan cara memastikan anak-anak asuhnya bermain ofensif, apik, dan buas di depan gawang lawan. Seburuk apapun keputusan wasit, tak akan banyak berdampak bagi Persebaya jika kran gol tak buntu.
Sejauh ini dari lima kali pertandingan, Persebaya baru mencetak enam gol dan kebobolan delapan gol. Bahkan dua laga kandang melawan Barito Putra dan Rans Nusantara berakhir seri. Ini bukan saja kran gol buntu, tapi tembok pertahanan Persebaya serapuh istana pasir. Mudah disapu ombak. Pekerjaan rumah Aji adalah keluar dari situasi buruk ini sesegera mungkin.
Dari performa selama lima pekan Liga 1, Kukuh Ismoyo, analis sepak bola Bonek Writers Forum, menyarankan tiga hal kepada Aji Santoso. Pertama, mencermati kembali posisi dan peran pemain. Ada pemain Persebaya yang tak nyaman dengan posisi dan peran yang diberikan Aji.
“Ze Valente terlihat lebih baik saat memerankan posisi nomor 10 daripada deep lying playmaker. Karakter permainan setiap pemain macam ini seharusnya dimengerti oleh pelatih,” kata pria berkacamata ini, mencontohkan gaya permainan pemain asal Portugal bernama lengkap José Pedro Magalhães Valente itu.
Menurut Kukuh, empat tahun menangani Persebaya seharusnya sudah cukup bagi Aji untuk memahami kekuatan dan kelemahan timnya, serta karakter pemain. “Dengan mengetahui karakter permainan para pemain, ia akan tahu bagaimana memaksimalkan mereka dengan baik,” jelasnya.
Kukuh menyarankan manajemen Persebaya mengontrak psikolog untuk menangani krisis mental pemain. “Untuk tim yang mencanangkan juara dan berkiblat pada sepakbola asing, agak aneh rasanya jika Persebaya tidak punya psikolog,” katanya.
Terakhir, Kukuh meminta Aji tak konservatif. “Modernisasi kepelatihan dan metode pelaksanaannya tak boleh dianggap remeh. PSM musim lalu berhasil menjadi juara setelah memadupadankan kemampuan pelatihnya dengan informasi dari video analisnya di setiap pertandingan,” katanya.
Song For Pride sudah berkumandang di Senayan, dan kemungkinan akan berkumandang lagi mengikuti pertandingan kandang maupun tandang Persebaya. Kini terserah Aji dan para pemain Persebaya: mendengarkan lagu itu berkumandang dengan tatapan mata kosong penuh kekecewaan, atau kepala mendongak sembari menatap tribun dengan bangga. [wir]






