Madiun (beritajatim.com) – Seorang siswa salah satu SMP Negeri di Kecamatan Pilangkenceng Kabupaten Madiun, Jawa Timur diduga dikeroyok kakak kelas. Korban pun mengalami trauma hingga tak mau bersekolah.
Ibu kandung korban yakni SR menuturkan, peristiwa itu terjadi pada Senin (24/7/2023) sekitar pukul 10.00 WIB, ketika sedang jam istirahat. Dari pengakuan korban, lebih dari 10 siswa mengeroyok korban.
“Dia cerita kalau awalnya bercanda, melempar tali pramuka, terus kena bagian vital temannya yang habis disunat. Temannya ini tak terima lalu mengadu ke kakaknya,” ujar Sri, saat ditemui di rumahnya, Jumat (28/7/2023).
Mendengar aduan itu, kakak kelas bersama teman-temannya menghampiri korban. Selanjutnya terjadilah tindak kekerasan. Kejadian itu akhirnya diketahui guru dan kepala sekolah. Pun, sudah mencoba mendamaikan korban dengan pelaku.
“Sempat didamaikan. Tapi tidak lama, anak saya kembali dikeroyok lagi oleh teman kakak kelasnya di depan kelas. Terkena kepala, dada, sama punggung. Bahkan anak saya juga pernah dipalak. Pihak sekolah, orang tua pelaku, sudah kesini minta maaf. Sudah memberikan sanksi kepada para pelaku,” lanjut SR.
Kendati demikian, dia sebagai keluarga, memilih tidak melaporkan pelaku ke pihak berwajib. SR berharap sanksi yang diberikan pihak sekolah menjadi efek jera, dan tidak lagi mengulangi perbuatan serupa.
“Anak saya belum mau sekolah, sudah libur beberapa hari. Masih ada trauma takut ke sekolah. Selama libur, saya bawa ke RSUD Caruban untuk diperiksa,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah Sumaryono, mengatakan sudah melakukan sejumlah upaya, dengan tujuan memberikan efek jera kepada pelaku. Yakni dengan pembinaan siswa oleh BK, Waka Kesiswaan, dan Kepala Sekolah.
“Pemanggilan orang tua untuk bersama pembinaan kepada siswa. Pemberian poin pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Apabila mencapai sejumlah poin tertentu ada sanksi sesuai aturan tata tertib,” kata Sumaryono, Sabtu (29/7/2023).
Baca Juga: Antisipasi Kelangkaan Elpiji 3 Kg, Segini Tambahan untuk Madiun Raya
Pihaknya juga melakukan pembinaan karakter melalui program parenting dan motivasi siswa. Sampai pembinaan melalui upacara setiap hari Senin.
“Kami bekerjasama dengan puskesmas untuk pemberian pemahaman tentang kenakalan remaja dan dampak pornografi. Serta piket pada waktu pagi dan pada saat jam jam istirahat oleh guru dan satpam sekolah,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Madiun Siti Zubaidah, meminta kepada para guru di semua sekolah, meningkatkan pengawasan aktivitas murid. Pengawasan dilaksanakan oleh bapak atau ibu guru bukan hanya saat istirahat.
“Tapi juga pada saat pelajaran maupun sesudah pelajaran. Bapak ibu guru berkeliling di lingkungan sekolah,” ujar Siti, Kamis (27/7/2023).
[berita-terkait number=”3″ tag=”madiun”]
Selain mengawasi, guru juga harus bersosialisasi kepada murid-muridnya. Menurutnya, ini menjadi tanggung jawab bersama menciptakan sekolah yang aman, dan nyaman.
“Kami juga sudah mediasi dengan satuan sekolah, dan kedua orang tua terkait. Agar kedepan masalah serupa tidak terulang kembali,” pungkasnya. [fiq/ted]






