Pasuruan (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, secara resmi meresmikan Sekolah Hebat Ibu Jatim di Kota Pasuruan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli kemarin. Selain menghadiri acara peresmian tersebut, Khofifah juga menyoroti perbedaan data angka stunting yang masih terjadi.
Perbedaan data tersebut muncul dari dua sumber, yakni hasil perhitungan dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM). Data dari SSGI mencatat angka stunting di Jawa Timur sebesar 19,2 persen, sementara dari e-PPGBM tercatat hanya 7,3 persen.
Khofifah menegaskan perlunya kesesuaian data antara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Sebagai langkah awal, pada bulan Agustus mendatang, Kemenkes akan melakukan survei untuk menentukan angka stunting yang lebih akurat di Jawa Timur.
Baca Juga: Menang di Kediri, Persib Perpanjang Dominasi atas Persik
“Dua mekanisme ini harus ditemukan titik kompromi, sehingga data tidak berselisih dan menghasilkan informasi yang saling melengkapi. Saya minta agar data ini disinkronkan,” ungkap Khofifah saat menghadiri peringatan Hari Anak Nasional pada Jumat (29/7/2023).
Tidak hanya fokus pada pencocokan data, Khofifah juga menargetkan pada tahun 2024 angka stunting di Jawa Timur akan mencapai target yang telah ditetapkan pemerintah. Untuk mencapai tujuan ini, upaya perbaikan gizi pada anak-anak yang mengalami stunting terus dilakukan.
Dalam rangka mengatasi masalah stunting, Khofifah mengimbau kepada orangtua atau wali untuk anak-anak stunting agar memberikan konsumsi setidaknya satu butir telur setiap harinya. Dengan demikian, selama satu bulan, diperlukan sekitar dua kilogram telur dengan biaya sekitar Rp 60 ribu.
Baca Juga: Bedah Buku Rebound Total, ISNU Beri Masukan Positif bagi Banyuwangi
“Setiap bulan, para ibu atau wali asuh memerlukan biaya sebesar Rp 60 ribu untuk menyediakan konsumsi bagi anak-anak yang terindikasi stunting. Penting untuk memahami bahwa tidak semua anak yang pendek mengalami stunting, namun setiap anak yang mengalami stunting pasti mengalami gangguan pertumbuhan,” pungkasnya. (ada/ian)






